Menapaki Dunia Politik dari Balik Perjuangan Aktivis

Menapaki Dunia Politik dari Balik Perjuangan Aktivis

Miryam Ambolon

Metro Merauke – Nama lengkapnya Miryam Ambolon. Ia wanita asli Papua yang lahir di Anggruk, Kabupaten Yahukimo, 7 Januari 1973.

Miryam (sapaan akrabnya) kini tercatat sebagai salah satu calon legislatif (Caleg) DPR Papua dari daerah pemilihan (Dapil) V, yakni Yalimo, Yahukimo dan Pegunungan Bintang.

Menjadi seorang caleg bukan hal baru baginya. Miryam pernah duduk sebagai Legislator Papua periode 2004-2009. Selepas itu, ia menepi dari riuhnya dunia politik.

Memilih kembali menjadi seorang aktivis perempuan, seperti sebelum ia duduk di parlemen Papua, 15 tahun lalu. Bersama para aktivis perempuan Papua lainnya, Miryam tak henti-hentinya menyuarakan hak-hak perempuan, terutama orang asli Papua. Mengangkat isu kemanusiaan dan isu Papua.

Meski merasa nyaman dengan statusnya kini sebagai aktivis dan staf ahli di DPR Papua sejak 2012, namun ada dorongan kuat yang membuat Miryam kembali meramaikan bursa caleg pada Pemilihan Legislatif (Pileg) kali ini.

Ia ingin kondisi masyarakat dari dapilnya dapat benar-benar berubah, karena menilai masih banyak masyarakat di kampung-kampung di Yahukimo, Yalimo dan Pegunungan Bintang yang mesti ditolong.

“Kondisi masyarakat di kampung-kampung di dapilnya tak banyak berubah sejak era 1980an,” kata Miryam saat berbincang-bincang dengan Metro Merauke, belum lama ini.

Pemerintah dianggap belum sepenuhnya berpihak kepada masyarakat. Padahal pemekaran kabupaten diharapkan dapat mengubah kondisi masyarakat hingga ke kampung-kampung.

“Namun kenyataannya tidak seperti itu,” ujarnya.

Miryam menyadari, jika ia terpilih tidak mungkin dapat langsung mengubah situasi. Namun setidaknya akan berupaya memperjuangkan kebutuhan utama masyarakatnya, untuk menuju perubahan.

“Fasilitas dan infrastruktur memang penting. Tapi apa gunanya fasilitas jika tak difungsikan. Misalnya fasilitas pendidikan dan kesehatan, apa gunanya kalau tidak ada tenaga pendidikan dan tenaga kesehatan,” ujarnya.

Selain itu, masih banyak kampung-kampung di Yalimo, Yahukimo dan Pegunungan Bintang yang hanya dapat dijangkau dengan pesawat berbadan kecil.

Jika nanti duduk di DPR Papua, Miryam menyatakan akan memperjuangkan agar tarif pesawat ke wilayah terpencil dapat dijangkau masyarakat, karena membuka keterisolasian bukan hanya harus membangun jalan.

Ia juga bertekad mendorong perbaikan sistem administrasi pemerintahan di daerah, yang dinilainya ada komunikasi terputus antara pemerintah kabupaten dan provinsi selama ini.

Persaingan Ketat Berebut Kursi

Miryam yang merupakan Caleg Partai Perindo nomor urut 2, akan bersaing dengan ratusan calon legislatif (caleg) lain jatah kursi parlemen Papua dari Dapil Yalimo, Yahukimo dan Pegunungan Bintang.

Persaingan serupa pernah ia alami saat Pileg 15 tahun lalu, dan berhasil duduk di parlemen Papua periode 2004-2009, namun Miryam menyadari itu bukan jaminan pada Pileg kali ini.

Miryam tetap harus bekerja keras pada Pileg, 17 April 2019, meski memiliki basis suara pada beberapa distrik di dapilnya, misalnya Distrik Pronggoli, Panggema, dan Tanggeam, Kabupaten Yahukimo.

“Dari Dapil saya, banyak caleg yang punya kwalitas mumpuni. Kami harus bersaing,” ucapnya.

Miryam Ambolon

Miryam menyadari para Caleg DPR Papua dari Dapil Yalimo, Yahukimo dan Pegunungan Bintang kebanyakan pernah mencicipi kursi DPRD kabupaten/kota dan DPR Papua. Bahkan para legislator Papua periode 2014-2019, kini kembali mencalonkan diri.

Menghadapi para petahana, juga salah satu tantangan bagi calon dengan modal materi pas-pasan sepertinya. Dari sisi finansial, para Caleg petahana punya “amunisi” yang cukup.

“Saya tidak punya uang. Namun bukan berarti saya pasrah. Adik-adik (kerabat), dan masyarakat di Yalimo dan Yahukimo dengan sukarela membentuk tim pemenangan,” katanya.

Ingin Memberikan Pendidikan Politik

Menghadapi Pileg mendatang, Miryam yang memiliki visi misi melihat, mendengar, memahami dan memperjuangkan aspirasi masyarakat itu, juga membangun komunikasi dengan para perangkat pemerintahan tingkat bawah, kepala distrik dan kepala kampung.

Ingin para kepala distrik dan kepala kampung tidak mengintervensi pelaksanaan Pileg di wilayahnya. Tidak memaksa masyarakat atau penyelenggara Pemilu tingkat kampung dan distrik memenangkan calon legislatif tertentu. Namun membiarkan masyarakat menentukan pilihan sesuai hatinya.

“Saya ingin masyarakat diberi pendidikan politik yang baik, dan aparat pemerintah tingkat bawa juga berperan untuk itu,” ujarnya.

Miryam yakin, finansial yang cukup juga bukan jaminan para Caleg dengan mudah merebut kursi legislatif. Namun bersaing secara sportif, memberikan kebebasan kepada rakyat menentukan pilihannya, dan tidak memperjualbelikan suara mereka, adalah kunci utama.

“Saya percaya meski ko (kamu) banyak uang, kalau ko curang, tidak akan membuahkan hasil yang baik,” ucapnya. (Arjuna/Redaksi)   

 

 

 

RSS
Follow by Email
Facebook
Google+
http://metromerauke.com/2019/04/05/menapaki-dunia-politik-dari-balik-perjuangan-aktivis/
Twitter
YOUTUBE
PINTEREST
LINKEDIN
Instagram
Houzz