Isais Ndiken: Kalau Budaya Tak Dikelola Baik, Jangan Mimpi Pariwisata Bertumbuh

Isais Ndiken: Kalau Budaya Tak Dikelola Baik, Jangan Mimpi Pariwisata Bertumbuh

Festival budaya yang digelar tadi pagi | LKF

Metro Merauke –  Budaya Marind harus menjadi destinasi wisata. Jika budaya tak ditata dan dikelola secara baik di bumi Anim Ha, jangan pernah bermimpi pariwisata bertumbuh dengan baik.

Hal itu disampaikan Isais Ndiken, salah satu Tokoh sekaligus Pemerhati Budaya Marind saat ditemui sejumlah wartawan Selasa (12/2).  “Kita harus menjadikan Merauke sebagai ikon kebudayaan. Sehingga para wisatawan akan datang dan melihat langsung kebudayaan disini,” ujarnya.

Lalu, demikian Ndiken, dampaknya adalah hotel-hotel akan terisi dan uang segar dengan sendirinya  didapatkan.

Dikatakan, identitas serta jati diri budaya lokal yang didukung budaya nusantara, harus diangkat. “Dengan HUT Merauke ke-117 tahun, kita menunjukkan budaya lokal agar dapat diketahui semua orang,” katanya.

Dalam prosesi festival budaya tadi pagi, jelas dia, ada gatsi dari suku Marind umum mulai dari Kondo hingga Digoel. Kemudian terdapat sub suku Maroi dan Kanum menjadi satu dengan tarian etor. Juga dari Yei yang menampilkan tarian etor pula.

Kemudian, tarian dari Pulau Kimam yakni wacip serta sub etnik Papua dari Teluk Saireri yang diwakili masyarakat Biak serta Serui dengan tarian wor dan yosim pancar. Begitu juga dari  Mappi  maupun Asmat dengan  tarian tate serta etnik lain dengan budaya nusantaranya.

“Ini sesungguhnya menunjukkan kekayaan budaya yang diberi kebebasan untuk tumbuh sesuai karakter masing masing suku. Kita tak boleh membatasi kebudayaan di tanah ini. Ketika dibatasi, kita akan miskin selamanya,” tegasnnya. (LKF)