Mari Berdampingan dan Saling Merangkul

Mari Berdampingan dan Saling Merangkul

Sebuah mural yang berisi dan membawa pesan damai menghiasi tembok di Lamper Kidul, Kota Semarang, Jawa Tengah, Selasa (7/2/2017) silam. Mural tersebut membawa pesan damai di tengah keberagaman masyarakat yang saat ini rentan dengan isu SARA dari media sosial | KOMPAS/P RADITYA MAHENDRA YASA

Oleh: Jannus TH Siahaan

Pada tataran tertentu, dunia ini nyatanya memang tak seindah kesimpulan Khisore Mahbubani. Sekalipun banyak data dan argumentasi menarik, buku The Great Divergence-Asia, The West and The Logic of One World, besutan Mahbubani tahun 2013 itu masih perlu banyak realitas pelengkap untuk diakui.

Sekarang, tulis Mahbubani, sedang berlangsung proses konvergensi antar-berbagai bangsa dan negara, sebagai titik balik dari ketimpangan dan proses divergen yang tercabik-cabik oleh perang dunia. Akselerasi di bidang pendidikan dan penyebaran teknologi modern, tulisnya lagi, telah memungkinkan berbagai bangsa saling mendekat, berbagi, dan kerja sama untuk menata dunia baru yang diimaginasikan sebagai milik bersama dan selayaknya dijaga bersama.

Uyghur dan Rohingya adalah fakta terbaru betapa indahnya mimpi Mahbubani. Ditolak oleh mayoritas, bahkan oleh otoritas setempat. ISIS pun tak berbeda. Penolakan demi penolakan atas hegemoni dan soft invasion oleh penguasa dunia berlangsung di banyak tempat dan melahirkan kekerasan yang tak kalah menyedihkan sebagai realitas resistensinya.

Di sini, di negeri kita ini, pun tak berbeda. Komunisme yang renyah di kelas ilmu sosiologi, dinamis di kelas ilmu politik, dialektis di kelas ilmu sejarah, dan manis di kelas ilmu ekonomi, menjadi peluru-peluru yang dibenturkan ke berbagai sisi di tataran realitas. Pemikiran yang satu ini memang punya masa lalu yang kurang menggembirakan di negeri ini, terutama di panggung politik.

Namun demikian, ini tentu sangat bisa dipahami karena toh risiko dari panggung politik adalah tidak ada pihak yang salah, semuanya benar. Ujungnya adalah gontok-gontokan. Puncaknya, semuanya diisyaratkan untuk berdamai secara politik setelah konstelasi baru kekuasaan terbentuk, lalu didiamkan sebagai cadangan untuk momen-momen selanjutnya, tentunya jika dibutuhkan.

Padahal sebenarnya kekisruhan bukanlah perkara metodologis, bukan perkara fallacy thought, atau perkara kurang empiris, tapi perkara kepentingan, kekuatan, dan eksistensi kepentingan satu pihak di mata pihak yang lain. Saya sangat menyadari betapa bodohnya saya, sehingga tak berani berkata apa-apa soal ini. Memang sebodoh itulah, mau dibilang apa. Toh tidak juga terlihat celah convergen itu, entah di mana letaknya.

Saban hari kita menyaksikan kian melebarnya pembelahan kepentingan yang menyamar ke dalam perdebatan-perdebatan “sok ideologis”. Tuduhan berbalas gugatan, fitnah berbalas pelaporan, cacian berbalas makian, saling lempar kesalahan dan saling dominasi kebenaran, dan banyak lagi, itulah realitas faktual yang kita saksikan.

Tapi setidaknya ada dua poin dari tulisan Mahbubani yang menarik perhatian saya, yakni akselerasi pendidikan dan perkembangan teknologi yang dianggap bisa mempercepat terjadinya convergensi. Saya berharap ini adalah harapan, harapan di mana keduanya bisa diintervensi secara hati-hati oleh otoritas, agar bisa mengurangi perseteruan-perseteruan yang tak perlu, saat terbuka sebuah celah konvergensi.

Dengan begitu, tidak perlu ada kata “versus” di antara para pihak yang berbeda semisal ojek online versus ojek konvensional, petahana versus oposisi, tradisional versus modern, modern versus post modern, hitam versus putih, putih versus kuning, merah versus hijau, misalnya, dan lain-lain. Mengapa harus hati-hati mengintervensi kedua bidang tadi (pendidikan dan teknologi)?

Karena, kedua bidang tersebut ibarat telur, digenggam terlalu kuat akan pecah, tidak jadi menetas, tidak jadi ayam. Tetapi digenggam terlalu longgar malah akan jatuh, pecah juga ujungnya, atau setidaknya lepas dari cengkraman. Mengapa demikian? Karena pendidikan bukan proses indokrinasi politik, tapi memanusiakan manusia alias bukan memparpolkan manusia.

Sementara itu, teknologi pun tak berbeda. Inovasi demi inovasi adalah buah dari fleksibilitas, kekebasan berpikir, kemauan berimaginasi, dan lain-lain, alias bukan buah dari pemaksaan untuk sebuah kepentingan politik dan kekuasaan. Karena itulah, dibutuhkan keterlibatan yang sangat hati-hati. Harapan saya menyambut tahun 2019, salah satunya adalah semoga bumi yang satu ini bisa tetap berputar sekalipun terdapat banyak dunia di dalamnya, yakni dunia-dunia yang terus mencari titik konvergensi di satu sisi dan dunia-dunia yang tak henti-hentinya terbentur pintu divergensi di sisi lain.

Dari dua model dunia tersebut, muncul peluang dan ancaman. Optimisme berdampingan dengan pesimisme. Bahasa-bahasa ketakutan dan kekhawatiran acap kali berselisih paham di ruang publik. Namun, memang begitulah dunia ini bergerak sedari dulu. Dialektika adalah hal biasa.

Oleh karena itu, mari kita jadikan pesimisme sebagai unsur penguat optimisme, agar keyakinan dan harapan yang kita tanam benar-benar menjadi harapan dan keyakinan yang secara terus-menerus diuji. Tak mengapa berbeda, toh memang takdir menasbihkan demikian. Perbedaan adalah keniscayaan.

Perbedaan keyakinan, perbedaan pemikiran, perbedaan perspektif, perbedaan pilihan politik, perbedaan keadaan ekonomi, perbedaan latar belakang sosial budaya, semuanya adalah perbedaan yang tak perlu kita pertengkarkan, tapi perbedaan yang harus terus-menerus kita banggakan. Karena di tengah itu semua, negara ini justru berdiri kokoh membendung keberlanjutan kolonialisme, menghadapi pelbagai krisis dan turbulensi, dan dengan bangga tetap mengibarkan bendera merah-putih sembari tangan kanan bersikap hormat.

Bukankah kita selama ini memang dibesarkan oleh perbedaan-perbedaan? Karena itu, akan sangat menggelitik kalau kita justru manut saja saat ditakuti-takuti oleh ancaman kehancuran akibat eksistensi perbedaan tersebut. Selama ini, perbedaan telah mengajarkan kita untuk hidup berdampingan, saling asah asih dan asuh.

Perbedaan juga mengajarkan toleransi satu sama lain, mengajarkan cara-cara menghormati eksistensi masing-masing, dan mengajarkan bagaimana memperlakukan saudara yang tidak sama dalam banyak hal dengan kita. Sejarah telah membuktikan bahwa negara ini tak berdiri karena homogenitas, tapi karena perbedaan yang diletakkan di atas semangat hidup berdampingan. Di atas segala perbedaan, naluri permusuhan kita padamkan.

Dengan cara itulah Indonesia tercinta ini ditempa. Jadi hidup berdampingan di tengah perbedaan bukanlah mimpi yang sirna saat kita terjaga, tapi fakta sejarah yang sejatinya harus terus kita jaga. (Penulis adalah Pengamat sosial politik, tinggal di Bogor | Doktor Sosiologi dari Universitas Padjadjaran)

Sumber: Kompas