Yayasan Ungkap Pelantikan Ratusan Kepsek di Merauke Sarat Masalah

Yayasan Ungkap Pelantikan Ratusan Kepsek di Merauke Sarat Masalah

Suasana pertemuan di Kantor DPRD Merauke

Metro Merauke – Pihak yayasan pendidikan baik YAPIS, YPPK dan YPK di Merauke, Papua, mendesak Pemerintah Daerah meninjau kembali SK pelantikan Kepala Sekolah pada 28 Desember 2018 lalu.

Pasalnya, pelantikan tersebut justru menjadi polemik di lingkungan sekolah yayasan.

Ketua YPPK, Pastor Agus Wolomase Pr dengan gamblang mengatakan, pihaknya kecewa dengan keputusan bupati yang telah melantik kepala sekolah yayasan tanpa koordinasi.

“Ini sangatlah keliru. Bagaimana bisa Kepsek di sekolah yayasan diganti tanpa sepengetahuan kami. Sejujurnya, kami menolak hasil pelantikan itu,” ucapnya dalam hearing bersama Pemkab dan instansi terkait di DPRD Merauke, Selasa (8/1).

Ungkapan kekesalan juga datang dari Ketua YPK, Nekat N.

Baginya, proses pelantikan kepala sekolah lah yang menjadi akar permasalahan karena mengabaikan ketentuan yang dimiliki sekolah yayasan.

“Kami tidak persoalkan pelantikan, itu kewenangan bupati. Namun prosesnya yang dipersoalkan,” katanya.

Dikatakannya, bukti dari tidak adanya koordinasi Pemkab bersama yayasan berujung permasalahan.

Diantaranya, sekolah yayasan dipimpin figur yang dirasa kurang tepat, termasuk terjadinya pendoubelan ‘nahkoda’ pada satu sekolah.

“Ada guru yang bermasalah dilantik jadi Kepsek. Bahkan ada 1 sekolah dipimpin 3 kepala sekolah, inikan aneh dan ngawur namanya,” kata Nekat penuh tanya.

Dalam hearing bersama yang dipimpin langsung Ketua DPRD, Fransiskus Sirfefa dan didampingi Wakil Ketua I, Hj Al Marotus Solikah, pihak yayasan meminta Pemkab menyikapi dengan serius permasalahan tersebut.

Sebagai bentuk protes adanya pelantikan kepsek yang dinilai sepihak, yayasan terpaksa menambah libur sekolah hingga 14 Januari mendatang.

Sementara itu, Ketua DPRD Merauke, FX Sirfefa mengharapkan, dari hearing yang juga dihadiri Bupati Frederikus Gebze, polemik pendidikan dapat menemukan solusi, sehingga semua sekolah di daerah dapat kembali berjalan normal. (Nuryani)