Komnas HAM Papua: 1 Desember, Tokoh OPM Tak Ingin Ada Kekerasan  

Komnas HAM Papua: 1 Desember, Tokoh OPM Tak Ingin Ada Kekerasan  

Kepala Kantor Komnas HAM Perwakilan Papua, Frits Ramandey   

Metro Merauke – Kepala Kantor Komnas HAM Perwakilan Papua, Frits Ramandey menyatakan, beberapa tokoh Organisasi Papua Merdeka (OPM) di Papua menyatakan tak ingin ada kekerasan pada 1 Desember 2018, tanggal yang setiap tahunnya diperingati sejumlah pihak sebagai hari kemerdekaan Papua.

“Sepekan lalu saya berkomunikasi dengan beberapa tokoh OPM, bagaimana jangan sampai ada korban pada 1 Desember. Paling tidak ada empat pimpinan OPM menyatakan tak akan menggunakan kekerasan,” kata Frits kepada Metro Merauke, Senin (26/11).

Meski tak menyebut siapa para tokoh OPM yang ia maksud, namun menurutnya, mereka (tokoh OPM) cukup berpengaruh di wilayahnya masing-masing.

“Saya tidak bisa sebut nama mereka. Ada di Jayapura, Teluk Cenderawasih, Mamberamo, dan Timika. Komunikasi lepas kami dengan beberapa faksi di Sorong, Papua Barat, mereka juga memberikan jaminan itu (tak ada kekerasan),” ucapnya.

Ia juga berharap, dalam pengamanan 1 Desember mendatang, aparat kepolisian menggunakan pendekatan persuasif, meski sudah tugas kepolisian melakukan penegakan hukum saat terjadi hal yang dianggap bertentangan dengan hukum, misalnya pengibaran bendera Bintang Kejora, namun jangan menanggap itu sebagai sesuatu yang mengancam keutuhan bangsa.

“Yang terpenting orang mengibarkan bendera, Papua tidak langsung merdeka karena ada berbagai syarat yang harus dipenuhi sebagai negara merdeka. Pendekatan paling mungkin adalah persuasif, agar tidak mengibarkan bendera atau kegiatan yang menunjukkan simbol negara lain,” ujarnya.

Jika kepolisian bertindak refresif lanjut Frits Ramandey, justru akan mengundang perhatian lebih luas dari masyarakat internasional dalam konteks HAM. Sebaliknya, pendekatan humanis akan menarik simpati.

“Ideologi tak bisa dibunuh dengan peluru dan dipenjarahkan. Kepentingan bangsa ini bagaimana menumbuhkan nasionalisme, tidak bisa dengan kekerasan,” katanya. (Arjuna P/Redaksi)