Adu Strategi Menuju Kursi Legislatif

Adu Strategi Menuju Kursi Legislatif

ilustrasi kantor DPR Papua | tabloidjubi.com

Metro Merauke – Pemilihan Legislatif (Pileg) 2019, akan digelar 17 April 2019. Di Papua, kursi legislatif di 28 kabupaten, satu kota dan provinsi akan diperebutkan ribuan Calon Legislatif (Caleg) yang diusung 15 partai politik (parpol) peserta Pemilu 2019, tiga di antaranya merupakan parpol baru pertama kali berpartisipasi dalam ajang demokrasi lima tahunan tersebut.

Pemilihan Legislatif (Pileg) 2019 mendatang tidak hanya akan menampilkan caleg petahana, juga para caleg baru akan mewarnai bursa perebutan kursi parlemen di DPRD kabupaten (kota), provinsi hingga pusat.

Setidaknya masih ada waktu kurang lebih enam bulan bagi para caleg mengatur stragi dan menarik simpati calon pemilih atau istilah politik disebut konstituen di daerah pemilihan (Dapil) mereka untuk merebut kemenangan.

Salah satu caleg baru untuk DPR Papua, Yance Mambrasar mengatakan, sejak jauh hari ia telah membangun komunikasi dengan para konstituen di daerah pemilihannya jauh hari sebelumnya, karena sosialiasi merupakan salah satu hal penting untuk mencapai kemenangan dalam Pileg.

Namun sekadar sosialisasi dan memperkenalkan diri kepada masyarakat bukan jaminan akan perolehan suara dalam Pileg mendatang. Untuk itu ia juga mengajak konstituennya terlibat langsung menentukan pilihan saat Pileg 2019, karena akan ada lima surat suara yang akan dicoblos pemilih, dan saat KPU melakukan simulasi beberapa waktu lalu, surat suara rusak, tingkat kesalahan dan angka partisipasi pemilih terbilang kecil.

“Namun yang terpenting adalah, saya merujuk pada turan KPU mulai dari tata cara kampanye hingga rekapitulasi suara,” kata Yance Mambrasar, Minggu (4/11/).

Selain itu, strategi lain yang digunakannya yakni memilih isu yang populer atau sesuai kebutuhan masyarakat. Ia mencontohkan, di daerah pemilihan yang meliputi Kabupaten Biak Numfor, Supiori, Mamberamo Raya, Kepulauan Yapen dan Waropen, ada isu di masyarakat Kabupaten Biak Numfor dan Supiori jika selama dua periode terakhir, para caleg dari dapil itu tidak merepresentasikan orang Biak Numfor dan Supiori.

“Kebijakan yang berpihak pada orang Biak dan Supiori sama sekali tak terlihat dan tak memberikan dampak pada penyerapan anggaran. Seakan Biak numfor dan Supiori hanya dapat ampas,” ujarnya.

“Dalam beberapa kesempatan saat saya sosialisasi, ini menjadi isu bersama. Jadi harus memilih isu yang tepat sesuai kondisi di lapangan, dan didukung banyak strategi.”

Namun ia tidak memungkiri bukan perkara gampang melawan para caleg petahana dalam Pileg mendatang. Menurutnya, para caleg petahanan punya materi yang cukup, kewenangan, potensi dan terlanjur populer, sehingga dibutuhkan strategi khusus melawan mereka, karena jika selama duduk di parlemen para caleg petahana itu tidak mengecewakan konstituennya, mereka masih punya peluang.

“Tapi kalau mereka mengecewakan konstituen, itu kelemahan mereka,” ujarnya.

Terkait dana kampanye yang telah ia habiskan dalam pencalonannya hingga kini kata Yance Mambrasar, masih dalam batas wajar, tidak berlebihan.

“Realistis saja, tidak mungkin ada alat peraga kampanye kalau tak ada uang. Tapi kalau saya, dana yang saya keluarkan hingga kini masih batas wajar, karena saya ingin tak ada praktik politik uang,” ucapnya.

Sedangkan satu caleg petahana DPR Papua, Natan Pahabol mengatakan, strategi yang ia gunakan tidak lagi menjual program kerja kepada konstituennya dan memperkenalkan diri lewat alat peraga kampanye. Namun ia mempertanggungjawabkan kinerjanya selama lima tahun duduk di parlemen Papua.

“Kalau saya, mempertanggung jawabkan apa yang saya lakukan lima tahun di DPR Papua kepada konstituen disertai bukti,” kata Natan Pahabol.

Katanya, ini ibarat melaporkan kinerjanya selama lima tahun kepada pemilik suara (pemilih) yang telah mempercayainya duduk di parlemen Papua selama satu periode.

“Dan apakah akan saya lanjutkan kembali lima tahun ke depan, semua itu kembali kepada konstituen. Mereka yang akan menilai apakah saya masih layak mewakili mereka atau tidak,” ujarnya.

Salah satu karyawan swasta di Kota Jayapura, Rudi Panglaba (39 tahun) mengatakan, meski ada ratusan caleg di DPRD kabupaten (kota) dan provinsi, namun ia tidak bingung untuk menentukan pilihan.

Katanya, ia sudah tahu harus memilih Calon Legislatif (Caleg) siapa, dari partai apa untuk DPRD kabupaten (kota) dan DPR Papua saat Pemilihan Legislatif (Pileg) mendatang.

“Ya keduanya dari partai berbeda. Saya memilih karena hubungan kekerabatan. Keduanya baru kali ini mencalonkan diri sebagai calon legislatif,” kata Rudi. (Arjuna P)

Berita ini sebelumnya telah dipublis di Koran Jubi Edisi, Senin, 4 November 2018 dengan judul “Menentukan pilihan saat Pileg 2019”