Produksi  Minyak Kayu Putih, Nikolaus Ndiken: Kami Butuh Sentuhan Pemerintah

Produksi  Minyak Kayu Putih, Nikolaus Ndiken: Kami Butuh Sentuhan Pemerintah

Nikolaus Ndiken sedang mengambil daun kayu putih dari dalam dandang untuk dibuang setelah dimasak | LKF

Metro Merauke – Nikolaus Ndiken, warga Kampung Sota, Distrik Sota, Kabupaten Merauke yang rutin setiap hari memproduksi minyak kayu putih, berharap sentuhan dari pemerintah setempat baik modal usaha maupun pemasaran.

Hal itu disampaikan Nikolaus kepada Metro Merauke Kamis (9/8). Dikatakan, sejak tahun 2000 silam, usaha ini dijalankan. Awalnya dalam satu kelompok yang berjumlah 30 orang. Namun seiring perjalanan waktu, satu persatu memilih mundur dan menggeluti pekerjaan lain.

“Memang ada beberapa kendala mulai dari pemasukan dari penjualan minyak kayu putih saat itu yang sangat minim sampai masalah kekurangan air untuk memasak. Kalau musim hujan, masih bisa ditampung air. Tetapi ketika datang kemarau, terjadi krisis,” ujarnya.

Sehingga, jelas dia, usaha produksi tak berjalan rutin. Meskipun satu persatu keluar, namun ia tetap bertahan tetap memproduksi sampai sekarang.

Dikatakan, untuk bahan produksi, hanya dengan daun kayu putih atau disebut masyarakat Sota daun were-were. “Saya tak mengambil sendiri tetapi membeli dari masyakarat yang mencari  di hutan,” katanya.

Harga pembelian, menurutnya, Rp 1.000/kg. “Saya membutuhkan dalam jumlah banyak. Karena sekali memasak di dua dandang besar harus 130 kilogram. Kadang dalam sehari bisa memasak dua kali,” ungkapnya.

Minyak kayu putih dalam jerigen | LKF

Dia mengaku, untuk memproduksi butuh waktu antara 9-12 jam. Karena setelah dimasak, menunggu dilakukan penyulingan selama beberapa jam.

Dijelaskan, untuk 130 kg daun yang dimasak, minyak kayu putih didapat sekitar 2,5 liter.  Khusus penjualan, Rp 150.000/liter. Lebih banyak ibu-ibu  di sekitar tugu perbatasan RI-PNG yang mengambil dan menjual kembali.

Selama ini, katanya, jarang orang datang membeli langsung di rumah atau membawa ke kota sekaligus menitipkan di toko-toko. “Saya berharap ada intervensi dari Pemerintah Kabupaten Merauke  mengambil dan memasarkan,” pintanya.

Disamping itu, menaikkan harga sekitar Rp 200.000. “Kenapa saya minta demikian, lantaran produksinya juga sangat sulit dan sedikit rumit,” katanya. (LKF)

Advertisement