65.000 Orang Menari Poco-poco, Rekor Dunia Belum Resmi Diraih

65.000 Orang Menari Poco-poco, Rekor Dunia Belum Resmi Diraih

Ribuan warga melakukan senam poco-poco saat pemecahan rekor dunia senam massal poco-poco di Monas, Jakarta, Minggu (5/8). Kegiatan dalam rangka menyambut Asian Games 2018 itu diikuti 65 ribu peserta dari berbagai kalangan | ANTARA FOTO/AKBAR NUGROHO GUMAY

Metro Merauke – Wakil Ketua Bidang Media dan Promosi upaya pemecahan rekor tari poco-poco Fernando Repi mengatakan, rekor tersebut belum resmi terpecahkan meskipun sekitar 65.000 orang telah menari di kawasan Monas hingga Jalan Thamrin, Jakarta Pusat, pagi tadi, Minggu (5/8).

“Ini masih proses (penilaian oleh Guinness World Records),” ujar Fernando ketika dihubungi Kompas.com, Minggu.

“Ini masih upaya pemecahan ( rekor dunia tari poco-poco). Tadi pagi itu upaya,” ujarnya lagi.

Menurutnya, proses pemecahan rekor tari poco-poco ini harus melalui proses yang panjang. Ia menyebut, proses dimulai sejak tahun lalu.

“Jadi ini, kan, sebenernya proses pencatatan itu untuk GWR (Guinness World Records) itu beda dengan MURI (Musium Rekor Indonesia) karena proses penilaiannya kan juga beda. Kami sudah mengajukan rencana ini sekitar setahun yang lalu,” sebutnya.

Setelah menerima proposal panitia, tim GWR melakukan kajian terlebih dahulu mengenai asal mula tarian poco-poco.

“Jadi ini, kan, kami mengajukan kategori baru. Jadi kami harus sebut berapa jumlah peserta yang akan ikut dalam upaya ini. Lalu apakah betul poco-poco ini pertama kali dikenal dunia dari Indonesia,” sebutnya.

Persetujuan GWR terkait rencana ini baru diterbitkan sekitar empat bulan yang lalu. Setelah menerima surat persetujuan, panitia segera melakukan persiapan.

Menurutnya, persiapan itu meliputi pencarian massa, sosialisasi gerakan, dan persiapan kelengkapan lain termasuk tempat dan kostum.

“Sosialisasi gerakan ini kami lakukan lewat video yang kami tayangkan di berbagai media sosial dan di media massa,” kata dia.

Dalam pelaksanaannya, tim GWR pun memberi berbagai peraturan untuk memastikan hasil upaya pemecahan rekor ini valid.

“Setiap peserta masuk kawasan Monas itu ada barcode khusus untuk memastikan jumlah peserta tak kurang dari yang kami usulkan. Lalu dari 65.000 orang harus kami bagi menjadi 1.300 barikade. Setiap barikade ada steward (pimpinan regu) yang merupakan perwakilan GWR untuk memastikan gerakan peserta benar,” sebutnya.

Ia mengatakan, itulah sebabnya mengapa tak sembarang orang tak bisa masuk ke area pemecahan rekor demi kondisifitas upaya ini.

“Nah nantinya setelah acara tadi ada tim audit dan penimbang yang independent juga untuk menilai apakah rekor ini terpecahkan atau tidak,” kata dia.

Ia mengayakan, terjadi 10 persen peserta yang melakukan kesalahan gerakan saja, maka upaya ini bisa gagal. “Jadi begitu rumitnya. Doakan saja upaya ini terpecahkan,” pungkas Fernando. (Sherly Puspita)

Sumber: Kompas

Advertisement