Prevalensi Malaria Sorong Lebih Rendah dari Bintuni

Prevalensi Malaria Sorong Lebih Rendah dari Bintuni

Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Papua Barat Otto Parorongan | Antaranews Papua Barat/Toyib

Metro Merauke – Dinas Kesehatan Provinsi Papua Barat mencatat prevalensi kasus malaria di Kabupaten Sorong lebih rendah dibading Teluk Bintuni.

Kepala Dinas Kesehatan Papua Barat, Otto Parorongan di Manokwari, Kamis, mengatakan, prevalensi kasus malaria di Teluk Bintuni pada tahun 2017 2,4 per-1000 penduduk. Di Kabupaten Sorong hanya 1 per-1000 penduduk.

Otto mengutarakan, pemerintah daerah menerapkan inovasi cukup bangus di Teluk Bintuni. Program pengurangan kasus malaria di daerah ini mendapat dukungan penuh dari Britis Petrolium Tangguh.

“Memang cukup bangus, kader-kader anti malaria di Bintuni cukup banyak ditambah tenaga dari pemerintah daerah dan perusahaan,” katanya.

Selain didukung oleh jumlah sumber daya manusia (SDM) anggaran pemerintah daerah dan perusahaan pun cukup untuk membiayai program ini.

Di Kabupaten Sorong, lanjut Otto, Dinas Kesehatan cukup inovatif dan tidak kalah dengan Teluk Bintuni dalam mencegah dan memberantas penyakit malaria. Pihaknya pun mengapresiasi kerja Dinas Kesehatan setempat.

Otto mengungkapkan, Pemkab Sorong memiliki program Bela Kampung (Bebas Malaria Kampung). Pada program ini Dinas Kesehatan melakukan pencegahan dan pemberantasan malaria dari setiap kampung.

Layaknya Teluk Bintuni, lanjutnya, di Sorong pemerintah daerah juga merekrut kader-kader anti malaria di setiap kampung. Sejuah ini kerja mereka cukup berhasil menekan kasus malaria di daerah tersebut.

Belum lama ini, Kabupaten Teluk Bintuni, meraih penghargaan inovasi dalam pelayanan publik dari Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) yaitu UNPSA (United Nations Public Service Awards) atas upaya pengurangan kasus malaria.

Teluk Bintuni berhasil menurunkan penyebaran kasus malaria dari angka 9,2 persen menjadi 0,02 persen di 12 desa pada tahun 2017.

Penyerahan penghargaan UNPSA yang diberikan oleh PBB kepada perwakilan pemerintah Indonesia dilaksanakan, di Marrakesh Maroko pada 23 Juni 2018.

Hal ini merupakan apresiasi atas inovasi Dinas Kesehatan Teluk Bintuni melalui sistem diagnosis dan perawatan dini atau Early Diagnosis And Treatment (EDAT) dalam mengurangi prevalensi malaria di kabupaten penghasil minyak dan gas bumi tersebut. (Toyiban)

Sumber: Antara

Advertisement