Kopkedat: Tim Kesehatan Hanya Liburan ke Pedalaman

Kopkedat: Tim Kesehatan Hanya Liburan ke Pedalaman

Para aktivis Kopkedat saat bersama anak-anak pedalaman Papua di Korowai Batu - Yan Akobiarek

Metro Merauke – Ketua Komunitas Peduli Kemanusiaan Daerah Terpencil (Kopkedat) Papua, Yan Akobiarek mengatakan, tim yang dibentuk Dinas Kesehatan Papua untuk melakukan pelayanan di daerah terpencil seakan hanya pergi berlibur ke pedalaman Papua.

Ia mengatakan, Dinas Kesehatan memiliki tujuan baik dengan membentuk tim Satgas Kaki Telanjang, Save Korowai, dan Nusantara Sehat. Namun hingga kini tujuan yang ingin dicapai belum sepenuhnya terlihat.

“Selama ini saya menilai tim yang diturunkan itu mau pergi berlibur. Sedikit kerja banyak libur,” kata Yan Akobiarek kepada Metro Merauke, Rabu (11/07).

Ia mencontohkan, tim Kaki Telanjang yang diturunkan ke daerah Korowai Batu, yang menjadi wilayah kerja para aktivis Kopkedat, sejak jelang Idul Fitri 2018, sudah meninggalkan lokasi. Namun hingga kini belum terlihat kembali di Korowai Batu.

Menurutnya, selama ini Kopkedat dan Dinas Kesehatan tidak pernah sepaham. Pihak dinas menganggap para aktivis Kopkedat terlalu banyak protes dengan kondisi kesehatan di pedalaman Papua.

“Makanya saya memilih diam. Padahal masalah kesehatan di wilayah terpencil sudah terlalu parah,” ucapnya.

Selain itu tidak jarang para aktvis Kopkedat mengalami kendala, apalagi saat berkaitan dengan administrasi birokrasi. Misalnya, 15 Juli 2018 lalu, para aktivis Kopkedat yang melayani di Brukmahkot, Korowai Batu kehabisan obat.

Yan Akobiarek kemudian datang ke Dekai, ibu kota Kabupaten Yahukimo meminta memo permintaan obat ke gudang farmasi dari dinas kesehatan di sana. Namun ditolak dengan alasan, permintaan obat harus melalui kepala puskesmas. Sedangkan, kepala puskesmas di Distrik Saredala, Yahukimo yang berdekatan dengan Korowai Batu tidak di tempat. Begitu juga kepala pustu.

Salah satu manteri Kopkedat yang bertugas di Korowai kemudian membuat catatan obat. Namun saat Akobiarek datang ke gudang farmasi di Dekai untuk meminta obat, ditolak. Alasannya yang harus melakukan permintaan obat adalah pihak terkait yang punya cap resmi, dan Kopkedat yang merupakan yayasan tak dapat dilayani.

Katanya, sempat terjadi perdebatan kedua pihak, dan Akobiarek menyatakan, jika seperti ini sama saja ingin membunuh masyarakat di pedalaman Papua. Selain administrasi birokrasi berbelit-belit, petugas kesehatan di pedalaman juga tak di tempat tugas.

“Saya kemudian menulis status di media social dan direspons bupati Yahukimo. Akhirnya saya diizinkan mengambil obat di gudang farmasi kemudian saya kirim ke Korowai,” katanya. (Arjuna P/Redaksi)

Advertisement