Guru dari Papua Raih HKTI Innovation Award 2018

Guru dari Papua Raih HKTI Innovation Award 2018

Tujuh penerima HKTI Innovation Award 2018 | Dok. HKTI

Merauke – Himpunan Kerukunan Tani Indonesia (HKTI) telah menetapkan tujuh penerima penghargaan HKTI Innovation Award 2018 pada penutupan acara Asian Agriculture & Food Forum (ASAFF) 2018 yang digelar di Jakarta Convention Center (JCC) pada 28-30 Juni 2018. Atas prestasinya, para pemenang mendapat hadiah berupa uang masing-masing Rp 15 hingga Rp 30 juta dan hadiah lainnya.

Siaran pers HKTI yang diterima Republika.co.id, Senin (2/7) menyebutkan, para penerima penghargaan telah menampilkan karya inovatif luar biasa yang merupakan temuan teknologi terapan sederhana yang sangat bermanfaat bagi pertanian jika diaplikasikan di masyarakat. “Misalnya seorang guru yang berasal dari Asmat, Papua, menghasilan karya berupa teknologi yang mampu mengubah tanah lumpur menjadi lahan kebun organik,” kata Koordinator HKTI Innovation Award 2108, Dr Avanti Fontana.

Contoh karya lainnya adalah temuan varietas padi unggul toleran salin (asin) inbrida padi irigasi. “Ada juga startup yang menciptakan pasar digital pertanian terpadu, dan sekelompok mahasiswa yang menghasillan inovasi berupa aplikasi bluetooth untuk pemantauan dan pengendalian hidroponik,” ujarnya.

Avanti mengemukakan, lahirnya karya-karya tersebut sesuai dengan harapan HKTI. Ia menjelaskan, tujuan diadakannya penghargaan ini untuk memicu lahirnya inisiatif baru untuk menemukan atau menciptakan terobosan-terobosan solusi baru untuk ketahanan dan keamanan pangan.

“Kemudian mendorong tumbuh kembangnya ekosistem inovasi pertanian yang kondusif dengan memperkuat kerja sama lintas fungsional, sektoral, di antara pemangku inovasi atau pemangku kepentingan inovasi pertanian, dan meningkatkan peran strategis sektor pertanian Indonesia dalam pembangunan nasional dalam rangka menjalin ketahanan dan keamanan pangan,” ujar Avanti.

Alhasil penghargaan ini merupakan bentuk apresiasi inovasi terhadap organisasi atau tim, dan individu yang memiliki karya inovasi yang dihasilkan dalam lima tahun terakhir (2014-2018).

Menurut Avanti, pemenang penghargaan menjadi momen penting untuk menampilkan hasil produk inovasinya kepada masyarakat. Avanti berharap HKTI menjadi institusi yang menjembatani dalam memperkenalkan dan menyebarluaskan hasil produk inovasi tersebut ke masyarakat, dunia usaha, dan petani.

“Perlu kemitraaan kerja sama. Satu kata penting, berhasil di lingkungan kita belum tentu seoptimal dengan disebarluaskan ke lingkungan luar,” ucap Avanti yang juga pengajar manajemen inovasi di Universitas Indonesia.

Avanti menjelaskan, para penerima penghargaan tersebut merupakan hasil seleksi dari puluhan peserta yang mendaftar. Proses seleksi telah berjalan sejak awal Juni oleh tim juri yang terdiri atas sejumlah pakar dan praktisi di bidang inovasi pertanian. Bertindak sebagai ketua tim juri dan penilai adalah Prof Dr Ir Erika Budiarti Laconi, MS. Ia adalah wakil rektor Bidang Inovasi, Bisnis dan Kewirausahaan Institut Pertanian Bogor.

Avanti menyebutkan, ketujuh pemenang berasal dari berbagai latar belakang seperti para pemuda/pemudi, praktisi, akademisi, komunitas petani, guru, dan para inovator lainnya. “Dilihat dari kisaran usia, pendaftar penghargaan berusia 19-58 tahun,” katanya.

Finalisasi seleksi dan penjurian berlangsung di Sekretariat HKTI, Jalan HOS Cokroaminoto, Jakarta, pada Sabtu, 23 Juni 2018. Ada 67 peserta dari berbagai daerah dari 16 provinsi yang mendaftar mengikuti seleksi HKTI Innovation Award 2018.

“Ada 21 peserta finalis dan 12 penilai dalam seleksi tahap II ini. Tipe inovasi peserta mencakup on-farming innovation, off-farming innovation, dan social innovation,” kata Avanti yang juga merupakan Waketum HKTI Bidang Inovasi.

Ia memaparkan, keputusan penerima HKTI Innovation Award 2018 diambil setelah melalui proses verifikasi, diskusi, dan konfirmasi terkait dengan keunggulan karya inovasi, kebaruan karya inovasi, proses dan kinerja inovasi yang terkait dengan aspek difusi dan dampak inovasi secara sosial dan ekonomi baik aktual maupun potensial yang terkait dengan peluang skalabilitas dan berimplikasi kebijakan secara nasional. (Irwan Kelana)

Sumber: Republika

Advertisement