Tidur Lebih Lama di Akhir Pekan Cegah Kematian Datang Lebih Cepat

Tidur Lebih Lama di Akhir Pekan Cegah Kematian Datang Lebih Cepat

Foto: iStockphoto/g-stockstudio

Metro Merauke – Tidur lebih lama di akhir pekan ternyata memiliki manfaat positif untuk mencegah kematian. Sebuah studi telah menemukan keterkaitan antara dua hal ini.

Para peneliti Swedia menemukan bahwa orang dewasa di bawah usia 65 tahun yang memiliki lima atau lebih sedikit jam tidur tiap malam, memiliki risiko kematian lebih besar daripada mereka yang tidur tujuh jam dalam semalam.

Namun, apabila Anda memiliki tidur sedikit di hari kerja, namun tidur lebih lama di akhir pekan, risiko kematian tidak akan meningkat.

“Durasi tidur penting untuk umur panjang,” kata kepala Stress Research Institute di Universitas Stockholm, Torbjörn Åkerstedt pada The Guardian.

“Tampaknya, kompensasi akhir pekan itu baik untuk orang yang kurang tidur,” ujar Åkerstedt seperti dilansir dari New York Post pada Kamis (24/5).

Studi tersebut menemukan, orang yang tidur kurang dari tujuh jam selama hari kerja, namun mendapatkan satu hingga dua jam tidur lebih di akhir pekan, memiliki kesempatan hidup sama dengan mereka yang tidur selama tujuh jam.

Penelitian ini dipublikasikan dalam Journal of Sleep Research berdasarkan data 38.015 orang di Swedia, dalam survei yang dilakukan 1997 sebagai bagian dari penggalangan dana untuk Yayasan Kanker Swedia.

Para peserta diteliti hingga 13 tahun, dengan menggunakan daftar kematian nasional, berdasarkan kebiasaan tidur akhir pekan mereka dan saat hari kerja.

Durasi Tidur dan Mortalitas
Åkerstedt mengatakan, penelitian-penelitian sebelumnya hanya melihat hubungan antara durasi tidur dan mortalitas. Namun, mereka hanya berfokus pada hari kerja.

“Saya menduga mungkin ada beberapa perubahan jika Anda tidur akhir pekan atau siang hari,” tambah Åkerstedt.

Studi ini juga menemukan, bahwa keterkaitan pola tidur dan kematian makin memudar pada mereka yang berusia 65 tahun atau lebih tua.

Hal ini mungkin dikarenakan, orang tua akan mendapatkan waktu mereka sesuai yang dibutuhkan.

Namun, profesor epidemiologi di Universitas Chicago, Amerika Serikat Diana Lauderdale mengatakan, studi ini tidak mewakili sebagian besar orang.

Hal ini karena dalam penelitian tersebut, para peserta hanya sedikit yang merokok. Orang yang secara teratur merokok mungkin tidak berpartisipasi dalam penelitian tersebut. (Giovani Dio Prasasti)

Sumber: Liputan6

Advertisement