Sulitnya Bangun Internet di Papua, Dikawal TNI Seperti Mau Perang

Sulitnya Bangun Internet di Papua, Dikawal TNI Seperti Mau Perang

Foto: Agus Tri Haryanto/detikINET

Metro Merauke – Di antara tiga paket proyek Palapa Ring, paket timur ternyata menjadi yang terberat dalam penggelaran tulang punggung kabel serat optik tersebut.

Hal itu dituturkan oleh GM Project Implementation Palapa Timur Telematika Benyamin Sembiring.

Disampaikannya, selain dari bentangan jarak kabel optik yang paling panjang bila dibandingkan dengan paket barat dan paket tengah, faktor keamanan juga menjadi kendala penggelaran akses internet cepat di Papua.

Dalam pengisahan yang diucapkan Benyamin, wilayah penggelaran infrastrukur telekomunikasi di laut terbilang masih aman. Mengingat, proses tersebut baru dilaksanakan Jumat kemarin yang diawali di Teluk Bintuni, Papua Barat.

“Tantangannya pasang kabel optik (Palapa Ring Timur) ini banyak di darat, karena mesti lewati jalur merah (bahaya), mesti dikawal juga oleh TNI bersenjata. Kita pernah pengawalan itu sampai enam orang untuk masang kabel,” ujar pria yang akrab disapa Ben itu, di Teluk Bintuni, Papua Barat

Situasi aman terkendali dirasakan tim penggelaran kabel saat melakukan penggalian di wilayah Papua Barat. Namun, bergeser ke Papua, situasinya sudah memasuki jalur konflik, misalnya jalur Nabire ke Timika, Merauke ke Tanah merah.

Ben mengatakan tim penggelaran kabel ini mesti memiliki nyali tinggi, karena bisa saja saat melakukan tugasnya, mereka akan berhadapan dengan kelompok Organisasi Papua Merdeka (OPM) yang berada di jalur yang sama dengan penggelaran kabel optik.

“Sebelum jalan, kita sudah konsultansi keadaan dulu dengan TNI dan lainnya, lalu diberikan brief. Nah, pesannya saat itu ‘Kalau di jalur yang diapit lembah dengar suara tembakan, lari ke arah hutan ke bukit’. Kami mau pasang kabel serat optik tapi briefnya seperti mau perang saja,” ungkapnya.

Bahkan, tak jarang, tim tersebut juga harus dikawal dengan pasukan yang dilengkapi dengan senjata sniper. “Karena untuk jaga-jaga, seandai-andainya ketemu yang tiga huruf (OPM),” ucap Ben.

Meski dalam pengawalan ketat, Ben bersyukur bahwa proses penggalian kabel optik di daratan bisa dilakukan dengan lancar dan aman.

Saat ini, Palapa Ring paket timur telah mencapai progres penggelaran perdana kabel optik bawah laut. Sedangkan, untuk pengerjaan penggelaran kabel optik di daratan sudah terbilang sempurna.

PT Palapa Timur Telematika selaku pemenang lelang dari proyek ini, mengungkapkan bahwa infrastruktur telekomunikasi ini ditargetkan sudah rampung pada bulan September. Sehingga, pada akhir tahun 2018, masyarakat di wilayah sekitarnya sudah bisa merasakan akses internet kecepatan tinggi seperti daerah-daerah lainnya.

Palapa Ring paket timur sendiri nantinya akan menjangkau 35 kota/kabupaten. Untuk menghubungkan satu sama lain, Palapa Timur Telematika setidaknya menggelar serat kabel optik sepanjang 8.454 kilometer yang sudah menjangkau penggelaran kabel darat, kabel laut, dan radio microwave.

Proyek Palapa Ring merupakan salah satu proyek strategis nasional yang diatur dalam Peraturan Presiden No. 3 Tahun 2016 tentang Percepatan Pelaksana Proyek Strategis Nasional.

Diketahui, proyek tersebut bentuk upaya pemerintah dalam membangun infrastruktur jaringan serat optik, di mana sebagai tulang punggung bagi ketersediaan Telekomunikasi Nasional yang menghubungkan seluruh kabupaten/kota di Indonesia.

Proyek Palapa Ring dibagi ke dalam tiga paket, yaitu paket barat, paket tengah, dan paket timur. Seluruh paket proyek ini ditargetkan bisa beroperasi dan dinikmati masyarakat pada 2019. (agt/rou)

Sumber: Detik

Advertisement