Rusuh Berdarah di Rutan Mako Brimob, Versi Polisi Vs Klaim ISIS

Rusuh Berdarah di Rutan Mako Brimob, Versi Polisi Vs Klaim ISIS

Barisan Brimob Polri berjaga di depan Mako Brimob, Kelapa Dua, Depok, Kamis (9/5). Aparat Brimob memperketat pengamanan di Markas Komando Brimob menyusul peristiwa kerusuhan yang terjadi di rumah tahananannya | Merdeka/Arie Basuki

Metro Merauke – Rumah Tahanan Markas Korps Brimob (Mako Brimob) Kelapa Dua Depok punya reputasi ‘angker’. Dikepung tembok setinggi empat meter dan dijaga ketat aparat, para tahanan di sana mustahil kabur.

Apalagi Mako Brimob adalah markas pasukan elite Polri yang punya rekam jejak panjang dalam sejarah Indonesia. Para anggota Korps Brigade Mobil dilatih untuk bisa menanggulangi situasi darurat dengan cepat, termasuk kejahatan yang melibatkan senjata api dan bahan peledak. Oleh karenanya, apa yang terjadi pada Selasa, 8 Mei 2018 malam sungguh di luar dugaan.

Kala itu, sejumlah napi di Blok C dan B mengamuk. Mereka menjebol pintu dan dinding sel tahanan. Petugas yang sedang berjaga dibuat kalang kabut oleh aksi sporadis tersebut, bahkan enam di antaranya menjadi sandera.

Akibatnya tragis. Enam orang meninggal dunia, lima polisi dan satu napi. Mereka adalah Bripda Wahyu Catur Pamungkas, Bripda Syukron Fadhli, Ipda Rospuji, Bripka Denny Setiadi, dan Briptu Fandi Setyo Nugroho. Mereka tewas diduga akibat luka yang dipicu senjata tajam dan senjata api. Sementara dari pihak napi, Benny Syamsu Tresna dilaporkan tewas tertembak.

Itu bukan kejadian pertama. Para napi teroris juga pernah mengamuk pada 10 November 2017, yang dipicu soal slot kunci dan penggeledahan oleh aparat. Namun, tak sampai ada korban jiwa yang jatuh.

Saat situasi di Mako Brimob belum terkendali, tatkala masih ada polisi yang disandera, sekonyong-konyong ISIS mengklaim sebagai dalang rusuh. Kelompok teror, yang posisinya kini kian terjepit di Irak dan Suriah, berkoar lewat corong medianya, Amaq News Agency.

ISIS mengklaim 10 anggota polisi antiteror tewas dan satu lainnya ditangkap. Amaq bahkan merilis video berdurasi 26 detik yang menunjukkan gambaran jasad-jasad di dalam penjara. Namun, keaslian video atau gambar tersebut masih dipertanyakan.

“Beberapa tentara khilafah yang ditahan di penjara kota Depok di selatan Jakarta selatan mencuri senjata dan mengejutkan para sipir,” begitu klaim ISIS yang diungkap situs kelompok intelijen SITE.

ISIS lantas menyebut, para napi terlibat bentrok dengan pasukan antiteror dan merebut senjata mereka, termasuk senapan otomatis.

SITE mengatakan, insiden ini adalah yang pertama dilakukan ISIS di Indonesia sejak 25 Mei 2017. Ketika itu, organisasi teror itu mengklaim bertanggung jawab terhadap ledakan bom di Terminal Kampung Melayu, Jakarta Timur, yang menewaskan tiga polisi.

Namun, klaim ISIS dalang rusuh di Mako Brimob segera dibantah polisi. Karo Penmas Divisi Humas Polri Brigjen Mohammad Iqbal menyatakan, klaim ISIS mendalangi kerusuhan di Mako Brimob, tidak benar.

“Saya kan ada di TKP sejak semalam. Saya lihat tahap demi tahap, bahwa apa yang diklaim dari luar itu sama sekali tidak benar,” tutur Iqbal di Mako Brimob, Kelapa Dua, Depok, Rabu (9/5). Menurut Iqbal, pemicu para tahanan membobol sel dan bentrok dengan petugas adalah soal makanan.

Infografis tahanan Mako Briimob | Liputan6.com/Triyasni

Pengamat terorisme dari Universitas Indonesia (UI) Ridwan Habib berpendapat, rusuh di Mako Brimob memang ada kaitannya dengan ISIS, meski tak langsung. “Bukan mendalangi, tapi memang dilakukan oleh napi yang berafiliasi dan dibaiat ISIS,” ujarnya kepada Liputan6.com, Rabu (9/5).

Ridwan menyakini, ricuh di Rutan Mako Brimob terjadi spontan dan tidak direncanakan sebelumnya. “Kebetulan pelakunya adalah napi pro-ISIS. Tapi bukan sesuatu yang dirancang,” tegasnya.

Dia menyatakan, sikap ISIS yang kerap mengklaim sejumlah aksi teror adalah upaya menunjukkan kepada anggota mereka di luar bahwa organisasi teror itu masih ada. “Ini bagian dari mempertahankan eksistensi mereka,” kata dia.

Untuk menghindari agar kejadian serupa tidak kembali terulang, Ridwan menyatakan, pemindahan napi teroris dari Mako Brimob harus mulai dilakukan. Perlu dipertimbangan pembangunan di satu lahan khusus untuk penanganan napi terorisme. “Dulu pernah digagas di Sentul Bogor, tapi terhambat. Ide itu bisa dipertimbangkan ulang,” jelasnya.

Selain itu, kata Ridwan, perlu juga dievaluasi di seluruh penjara napi terorisme terkait kemampuan atau keleluasaan mereka menggunakan telepon seluler. Menurutnya, informasi-informasi yang dipasok oleh kelompok-kelompok di luar, kerap dikirim ke penjara. Terpisah, mantan napi terorisme Sofyan Tsauri menyatakan, rusuh di Mako Brimob adalah akumulasi kejengkelan para napi.

Overkapasitas rutan, respons yang dianggap lambat, dan sejumlah aturan yang membatasi hak-hak napi, membuat para tahanan itu tertekan. Mereka hanya tinggal menunggu momentum untuk meledak.

“Saya sebagai mantan teroris berpikir seperti itu,” ujar Sofyan kepada Liputan6.com, Rabu (9/5). Dia memastikan rusuh di Mako Brimob bersifat spontan dan tanpa perintah dari siapa pun.

Sofyan juga yakin kerusuhan bukan atas perintah Aman Abrurrahman, terdakwa terorisme kasus bom Thamrin yang juga ditahan di sana. “Aman tidak satu blok, dia ada di belakang,” kata dia.

Keterkaitan Aman di kasus ini, kata Sofyan, karena para napi meminta dia dihadirkan saat proses negosiasi dengan polisi tengah berlangsung.

“Para napi minta Aman dihadirkan karena sosoknya di kalangan ISIS dikenal sebagai orang yang bisa menentukan, apakah terus bertempur atau berhenti. Aman yang bisa meredam,” ujar Sofyan.

Terkait klaim ISIS, Anggota Komisi III DPR Ahmad Sahroni berpendapat, jika memang pernyataan itu memiliki korelasi dengan kerusuhan di Rutan Mako Brimob Polri dan pemerintah harus melakukan evaluasi terhadap pengamanan tahanan, khususnya yang terlibat dalam kasus terorisme.

Sebaliknya bila tak berkaitan dengan ISIS, Polri harus segera menginformasikan kebenarannya secara detail agar publik tak termakan hasutan.

Ia pun meminta masyarakat bijak. “Jangan langsung percaya dengan berbagai kabar ataupun foto yang beredar di media sosial. Saya yakin Polri akan segera menuntaskan kasus ini dan mengumumkan ke publik mengenai semua hal menyangkut kerusuhan ini, termasuk penyebab dan jumlah korban jiwa,” kata dia.

Berawal dari Hal Sepele?
Kabid Humas Polda Metro Jaya Kombes Raden Prabowo Argo Yuwono mengatakan, kejadian bermula Selasa 8 Mei usai salat Magrib. Saat itu, ada salah seorang napi yang menanyakan titipan makanan dari keluarganya ke petugas.

“Salah satu dari anggota tadi menyampaikan bahwa titipan makanan dipegang oleh anggota lain,” tutur Argo, Rabu (9/5). Mendengar alasan itu, napi tersebut tidak terima. Dia kemudian mengajak rekan-rekannya dari Blok C dan B Rutan Mako Brimob untuk berbuat rusuh.

“Lalu napi membobol pintu dan dinding sel, situasi kemudian tidak terkontrol lagi,” jelas dia. Petugas yang ada di lokasi kerusuhan pun jadi bulan-bulanan. Mereka adu fisik dan akhirnya lima petugas meninggal.

Kepala Biro Penerangan Masyarakat Polri Brigjen M Iqbal membenarkan kasus ini bermula dari masalah makanan tahanan. “Masalah tersebut adalah standar operasional, terstruktur dalam rangka memverifikasi,” kata Iqbal.

Saat itulah terjadi keributan dan mengakibatkan beberapa petugas polisi disandera. Senjata petugas, kata Iqbal, diduga direbut oleh para napi. “Sehingga langkah yang kami ambil, pertama adalah melakukan upaya kepolisian untuk mengendalikan situasi. Alhamdulillah situasi sejak kemarin hingga hari ini sangat terkendali,” beber Iqbal.

Aparat berupaya persuasif dengan cara bernegosiasi bersama beberapa tahanan teroris yang bisa dinegosiasi. “Goal-nya adalah bisa merumuskan satu solusi. Dan upaya ini di tengah situasi kondusif karena strategi pengamanan. Dari semua penjuru kami yakinkan blok tahanan tersebut sudah kami amankan,” kata Iqbal.

Rusuh di Mako Brimob Selasa malam, bukan kali pertama. Kejadian serupa pernah terjadi pada 10 November 2017. Kejadian bermula dari penggeledahan petugas di salah satu sel setelah salat Jumat, ketika tahanan dikembalikan ke sel masing-masing.

Setelah masuk sel, anggota Densus 88 Antiteror yang sedang tugas piket melepas kunci di kamar A5 dan C5 karena ada selotan kunci dari dalam. Hal ini dilakukan demi keamanan dan memudahkan petugas piket membuka pintu sel.

“Anggota Densus lalu menggeledah kamar tersebut dan menemukan handphone empat buah milik narapidana teroris Juhanda, Saulihun, Kairul Anam dan Jumali,” ucap Kepala Biro Penerangan Masyarakat (Karopenmas) Polri Brigjen Pol Rikwanto, Jumat 10 November 2017.

Ternyata, dari kegiatan pemeriksaan tersebut, ada salah satu napi yang tidak terima dan memancing keributan dengan petugas dengan mengucapkan kata-kata kasar.

Kemudian anggota Densus ada yang terpancing ucapan mereka. Lalu, ada tahanan teroris yang mengucapkan takbir dengan suara keras sehingga memancing tahanan blok di sebelahnya.

Anggota piket dari satuan III Pelopor mengeluarkan tembakan ke atas sebagai tanda terjadi chaos dan memberi peringatan kepada para narapidana. Menurut Rikwanto, tahanan teroris merusak sejumlah fasilitas rutan, seperti pintu sel tahanan, pintu pagar lorong blok, dan kaca jendela.

Wiranto Panggil Petinggi TNI-Polri
Kerusuhan di Mako Brimob Depok, Selasa malam mengundang reaksi sejumlah tokoh. Wakil Presiden Jusuf Kalla atau JK yakin, Polri bisa menyelesaikan dengan cepat masalah ini.

“Dalam proses, (semoga) bisa selesai cepat. Ya memang ada sedikit keributan di situ tapi saya yakin polisi dapat menyelesaikan itu,” kata JK di Kantornya, Jalan Merdeka Utara Jakarta Pusat, Rabu (9/5).

JK menyerahkan masalah tersebut kepada kepolisian. “Brimob itu kan punya pasukan khusus, gegana, macam-macam, pasti bekerja di situ,” kata JK. Dia menjelaskan, ada dampak buruk jika para napi terorisme dipisah-pisah. Ketika hal itu dilakukan, narapidana teroris akan menjadi virus yang menularkan ideologinya ke napi lain.

“Begini memang kalau teroris gabung jadi satu dia bikin universitas. Kalau dipecah-pecah bikin virus,” kata JK. “Jadi kita masih menunggu mereka dalam tahap pemeriksaan, sebagian belum ke pengadilan,” ucap JK.

Sementara itu, Menko Polhukam Wiranto memanggil Panglima TNI Marsekal Hadi Tjahjanto, Kepala Badan Intelijen Negara (BIN) Budi Gunawan, Kabareskrim Polri Komjen Ari Dono Sukmanto, dan Kepala Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) Komjen Suhardi Alius.

Wiranto mengatakan, pemanggilan para pejabat Polri dan TNI sengaja dilakukan guna menyikapi masalah keamanan yang kini sedang terjadi. “Ini masalah yang sangat hati-hati dan sungguh-sungguh, karena menyangkut masalah keamanan nasional,” kata Wiranto, Rabu.

Dia menganggap bahwa situasi di Mako Brimob dalam keadaan genting. “Ya kalau sudah ada yang terbunuh ya urgent,” ungkap Wiranto. Pihaknya bersama TNI dan Polri kini tengah berupaya mengatasi masalah tersebut. Pemerintah ingin masalah tersebut selesai sesuai koridor hukum yang berlaku.

“Ini menyangkut bagaimana kita mengatasi sesuatu dengan cara yang baik dan benar, sesuai hukum dan tuntas,” ucap Wiranto. Sementara itu, Rabu malam, jenazah almarhum Briptu Anumerta Fandi Setya Nugroho tiba di rumah duka, Kompleks Polri, Blok B4, Jatirangga, Kecamatan Jatisampurna, Kota Bekasi.

Kedatangan almarhum disambut isak tangis sanak dan keluarga. Suasana kian menyayat hati ketika sang istri, Gea jatuh pingsan. Ia tak kuasa menyaksikan orang terkasih berpulang dalam sebuah kejadian tragis. Apalagi, putra mereka baru berusia satu tahun. “Maafkan, maafkan kesalahan suami saya,” kata Gea lirih, dengan air mata masih berlinang. (Ady Anugrahadi)

Sumber: Liputan6

Advertisement