MURI untuk Papua atas Keberhasilan Tangani Malaria

MURI untuk Papua atas Keberhasilan Tangani Malaria

Kepala Dinas Kesehatan Papua drg. Aloysius Giyai, M.Kes ketika menerima penghargaan Rekor MURI (kanan) bersama Menkes Nilai Moeloek (tengah)

Metro Merauke – Pemerintah Provinsi Papua melalui Dinas Kesehatan menerima penghargaan Rekor Museum Rekor Dunia Indonesia (MURI) karena dinilai sukses dalam penyaluran dan pemantauan penggunaan 1,2 juta kelambu anti nyamuk malaria di 29 Kabupaten/ kota, dengan prioritas daerah endemis malaria pada 2018.

MURI melihat semangat kerja Dinkes Papua dalam menurunkan angka prevalensi malaria atau dikenal dengan eliminasi malaria terbaik di Indonesia bersama-sama Provinsi Papua Barat dan NTT

Penghargaan diterima oleh Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Papua drg Aloysius Giyai MKes mewakili Penjabat Gubernur Papua pada acara Peringatan Pekan Imunisasi Dunia dan Hari Malaria Sedunia di Gedung Barokah, Kabupaten Pandeglang, Provinsi Banten, Minggu (29/4). Acara ini disaksikan Menteri Kesehatan Nila Moeloek.

Turut hadir pada acara bertajuk Bebas Malaria Prestasi Bangsa itu, Gubernur dan Wakil Gubernur Banten bersama para bupati/walikota se-Provinsi Banten serta ke-33 Kepala Dinas Kesehatan se-Indonesia.

Bagi Alo, penghargaan tersebut merupakan pelecut semangat jajarannya dalam upaya eliminasi malaria di Papua. Kerja yang pihaknya lakukan, bukan hanya membagikan tapi memberikan penyuluhan tentang penggunaan kelambu tersebut.

Selain itu, para petugas memberikan penyuluhan tentang sanitasi lingkungan dan tidak membiarkan ada genangan air karena akan menjadi tempat berkembang biak nyamuk. “Kalau ada genangan air, kita minta masyarakat alirkan atau melepaskan ikan di situ,” jelas Alo.

Menkes Nila Moeloek menyampaikan apresiasi yang tinggi atas pencapaian tersebut. Menkes menilai, sebagai petugas yang bekerja di daerah endemis malaria tertinggi, petugas kesehatan di Papua, Papua Barat dan NTT telah bekerja keras dan dan sukses dalam penggunaan kelambu anti malaria.

“Saya memberi apresiasi kepada UPT AIDS, TB dan Malaria (ATM) Dinkes Papua, khususnya Seksi TB dan Malaria yang telah bekerja keras hingga menerima hasil ini,” ujar Menkes.

Penghargaan tersebut merupakan prestasi kedua UPT ini setelah sebelumnya berhasil dalam penanggulangan TBC. Saat itu RSUD Jayapura dan RSUD Nabire mendapat penghargaan sebagai rumah sakit dengan pengobatan TBC terbaik tingkat nasional.

Aloysius juga menjelaskan, Papua merupakan salah satu wilayah yang masuk kategori endemis tinggi dengan Annual Parasite Incidence (API) lebih dari 5 per 1.000 penduduk. Morbiditas malaria pada suatu wilayah ditentukan dengan API per tahun di mana target penularan malaria (eliminasi malaria) sampai tahun 2030 oleh Kementerian Kesehatan RI, yakni dari 2 kasus menjadi 1 per 1.000 penduduk.

“Kita di Papua memang API masih tinggi. Tapi berkat kerja keras semua pihak, sudah ada kemajuan drastis. Misalnya pada tahun 2013 API kita mencapai 103 per 1.000 penduduk tetapi tahun 2017 kemarin turun di angka 46. Dari pencapaian penggunaan kelambu anti malaria ini, kami berharap API kita bisa turun jadi 20 sehingga pada tahun 2020 ke angka belasan menuju target 1 per 1.000 penduduk di tahun 2030,” tutup Aloysius. (gor)

Sumber: Berita Satu

Advertisement