Peka Hayon: Tidak Mudah Menjadi Imam

Peka Hayon: Tidak Mudah Menjadi Imam

Pastor Max dan Pastor France yang diterima secara adat oleh keluarga besar Lamaholot dan Nusa Cendana | LKF

Metro Merauke – Pastor Maximilian Boas Pegan, Pr dan Pastor Fransiskus Dionisius Luan, Pr yang ditahbiskan bersama salah seorang imam asal Mindiptanah, Kabupaten Boven Digoel,  Pastor Samuel Yanem, MSC oleh Uskup Agung Merauke, Mgr Nicolaus Adi Seputra, MSC tanggal 21 April 2018 lalu, melakukan syukuran bersama keluarga besar Lamaholot dan Nusa Cendana.

Syukuran yang berlangsung Jumat (27/4) di rumah almarhum Ignas Ola Beny, karena baik Pastor Max dan Pastor France (panggilan akrab mereka) adalah imam dari Lamaholot serta Nusa Cendana.

Sebelum diarak menuju tempat misa syukuran, kedua imam diterima secara adat oleh keluarga Lamaholot yang dipimpin  Paulus Peka Hayon (ketua). Kedua pastor disuguhi  sirih-pinang, tuak (istilah orang Merauke sagero) serta rokok tradisional dari lintingan daun lontar serta tembakau. Selain itu, selendang khas Lamaholot. Namun sebelum beberapa kegiatan seremonial dilakukan, didahului dengan ungkapan kata-kata dalam bahasa Lamaholot.

Sementara  mewakili keluarga Lamaholot dan Nusa Cendana, Paulus Peka Hayon mengatakan, menjadi seorang imam, tidaklah mudah. Harus melalui suatu proses  sangat panjang. Setelah melalui proses panjang, kata dia, akhirnya Pastor Max dan Pastor France ditahbiskan juga, lantaran dianggap layak.

“Khusus ethnis Lamaholot, dengan ditahbiskannya Pastor Max, maka sudah empat imam dari Lamaholot  menjadi imam di Keuskupan Agung Merauke. Sedangkan dari Nusa Cendana mungkin baru Pastor France,” ungkapnya.

Dikatakan, tentunya peran orangtua sangat besar selama ini hingga kedua imam ditahbiskan. Kalau bukan orangtua, tak mungkin semua orang hadir dalam misa syukuran seperti begini. (LKF)

Advertisement