Berantas Malaria di Papua, Pemerintah Andalkan Program Bela Kampung

Berantas Malaria di Papua, Pemerintah Andalkan Program Bela Kampung

Ilustrasi penanganan penyakit malaria | CNN

Metro Merauke – Meski telah terjadi penurunan yang cukup signifikan, kasus malaria ternyata masih sering ditemui di sejumlah daerah di Tanah Air. Menurut data yang dikeluarkan oleh Kementerian Kesehatan terkait “Situasi Malaria Menurut Kabupaten/Kota di Indonesia tahun 2017”, Papua, Papua Barat, dan Nusa Tenggara Timur (NTT) menjadi daerah dengan endemis malaria tertinggi di Indonesia.

Jika menilik sejarah pemberantasan malaria di Indonesia, tindakan ini sebetulnya sudah dilakukan sejak masa pemerintahan Presiden Soekarno. Pada tahun 1959, ia mengeluarkan program pembasmian malaria yaitu dengan melakukan penyemprotan DDT (Dichloro Diphenyl Trichloroethane) di Yogyakarta.

Program tersebut terus dilanjutkan ketika Susilo Bambang Yudhoyono terpilih menjadi Presiden Indonesia. Pada tahun 2009, ia mencanangkan program eleminasi malaria yang hingga saat ini masih dilanjutkan oleh Presiden Joko Widodo. Di masa pemerintahan Presiden Jokowi lah sejumlah kepala negara di Asia Pasifik berkomitmen mencapai eliminasi malaria yang ditargetkan pada 2030 mendatang.

Perlu diketahui, eliminasi malaria merupakan sebuah kondisi ketika prevalensi dari malaria itu sudah tidak lagi jadi masalah kesehatan masyarakat. Secara khusus, suatu daerah dapat dikatakan eliminasi malaria ketika sudah tidak ada lagi kasus malaria yang ditemukan, kecuali dibawa oleh para pendatang yang masuk ke daerah tersebut.

Direktur Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Tular Vektor dan Zoonotik Kemenkes, Elizabeth Jane Soeparti menegaskan bahwa dalam kasus pemberantasan malaria, Indonesia sebetulnya sudah on the track atau sudah setengah jalan.

“Saat ini, 72% penduduk Indonesia sudah tinggal di daerah bebas malaria. Memang, diperlukan komitmen dan upaya yang lebih kuat untuk mencapai target 2030. Pasalnya, daerah-daerah yang tersisa itu terletak di kawasan Timur Indonesia yang notabenenya belum memiliki infrastruktur yang memadai sehingga sangat berpotensi sebagai tempat tumbuh kembangnya parasit plasmodium,” ujar Jane, di kantor Kementerian Kesehatan, Jakarta Selatan, beberapa waktu lalu.

Lebih lanjut Jane menjelaskan, selama ini pemerintah terus melakukan sejumlah upaya untuk membantu daerah-daerah endemis malaria agar terbebas dari penyakit berbahaya tersebut. Misalnya di kawasan Papua dan Papua Barat yang kini sedang mendapat perhatian khusus dari pemerintah pusat.

Ia mengatakan, Kemenkes dan pihak terkait telah mencanangkan program Bela Kampung untuk meningkatkan kesadaran masyarakat akan bahaya malaria. Program ini memprovide sejumlah keperluan masyarakat termasuk melaksanakan pekan kelambu di daearah fokus penularan malaria, serta program terpadu malaria.

“Malaria itu penyebarannya itu di malam hari. Oleh karena itu, salah satu tindakan pencegahannya dengan memberikan kelambu yang sudah dicelupkan ke dalam insectisida kepada masyrakat. Manfaatnya bisa dirasakan selama kurang lebih 3 tahun,” tuturnya.

Distribusi kelambu ke daerah endemis malaria diklaim telah mencapai 27,6 juta buah sejak tahun 2004. Tahun lalu, Kemenkes berhasil mendistribusikan sebanyak 3.984.224 kelambu ke sejumlah daerah di Timur Indonesia.

Selain kelambu, setidak ada beberapa tindakan lainnya yang dilakukan Kemenkes dan pihak swasta demi menanggulangi masalah malaria tersebut, termasuk melakukan penyemprotan dinding rumah, menyebarkan ikan yang memakan jentik nyamuk, serta memberikan pelatihan-pelatihan khusus kepada para tenaga ahli agar dapat membantu melakukan deteksi dini kepada masyarakat.

“Belum lama ini, kami memberikan sosialiasi kepada masyarakat Asmat untuk menutup tanah galian, genangan, atau tempat-tempat becek yang merupakan tempat berkembang biak nyamuk anopheles. Pasalnya, kondisi geografis di daerah Asmat itu di dominasi oleh rawa-rawa. Mereka bahkan mengandalkan air hujan untuk mendapatkan pasokan air bersih. Oleh karena itu, kami juga memberikan sosialisasi agar mereka dapat membuat sumur gali,” imbuhnya.

Jane juga sempat menceritakan sebuah kejadian unik ketika ia dan timnya melakukan kunjungan langsung ke daerah Asmat dan sekitarnya. Mereka mendapati bahwa sebagian besar masyarakat memanfaatkan sumur gali untuk mengembangbiakkan lobster.

“Lobsternya mereka kembang biakkan di sumur tersebut. Baru 3 bulan diberdayakan, mereka sudah bisa ekspor hasil panen lobster mereka ke kota-kota besar di Papua. Kalau dirincikan, setiap keluarga bisa menjual 5-10 ekor kepiting dalam satu minggu. Harga satu ekor lobster dibanderol sekitar Rp20 ribu, ini bisa jadi nilai tambah untuk membantu pemasukkan mereka,” tutupnya. (hel)

Sumber: Okezone

Advertisement