Neng Dara: Politik Jika Diawali Tangisan dan Kemarahan Bisa Perbaiki Bangsa

Neng Dara: Politik Jika Diawali Tangisan dan Kemarahan Bisa Perbaiki Bangsa

Panitia seleksi (pansel) bacaleg Partai Solidaritas Indonesia (PSI) di kantor DPP PSI | Tribunnews.com/Fransiskus A

Metro Merauke – Mantan Komisioner Komnas Perempuan Neng Dara Afffiah mengatakan, politik jika diawali dengan suatu tangisan dan kesedihan untuk memperbaiki bangsa akan terlihat lebih semangat perubahannya.

Hal ini disampaikan Neng Dara saat menjadi panitia seleksi (pansel) bacaleg Partai Solidaritas Indonesia (PSI) di kantor DPP PSI, Jalan Wahid Hasyim, Tanah Abang, Jakarta Pusat, Sabtu (21/4).

Mula-mula Neng Dara bercerita, saat menjadi Pansel, dia mendapat kesempatan mewancarai seorang perempuan muda yang sudah mapan secara karir namun ingin terjun ke Politik.

Perempuan itu, kata Neng Dara, menangis dan marah karena dia ingin berkontribusi sekali buat negeri ini. “Seleksi yang kita lalukan, ada tangisan dan juga kemarahan. Tangisan itu misalnya dari salah satu perempuan, dia benar-benar menangis karena dia ingin berkontribusi sekali buat negeri ini,” kata Neng Dara.

Lebih lanjut, perempuan itu justru ingin berkontribusi lebih untuk bangsa dengan menjadi caleg dari Papua. “Dia sesih melihat situasi ini padahal menurutnya Papua merupakan bagian dari Indonesia. Benar-benar diekspresikan dengan tangisan,” terang Neng Dara.

Melihat ekspresi bacaleg PSI tersebut, Neng Dara menyebut sampai saat ini masih banyak anak-anak muda yang prihatin terhadap bangsa ini. Namun, perempuan tersebut, memberikan optimisme karena mau terjun melakukan perubahan.

“Intinya sebenarnya saya melihat banyak anak-anak muda yang perihatin terhadap negeri ini buka hanya menggerutu tetapi ingin melakukan secara kongkrit untuk perbaikan-perbaikan bahkan langkah-langkah kebaikannya itu dari sosok perempun,” terang Neng Dara. Diketahui, PSI sedang melakukan seleksi terbuka bacaleg tahap kedua secara terbuka mulai hari ini Sabtu (21/4) hingga Minggu (22/4) di kantor DPP PSI.

Ada sekitar 500 bacaleg yang akan dites. Di antaranya nama kondang seperti Niluh Djelantik (influencer dan entrepreneur), Daniel Tumiwa (pakar ekonomi digital), Rizal Calvary (mantan jurnalis dan pakar bisnis), Agus Sari (pegiat lingkungan hidup), dan Fajar Riza Ul Haq (mantan Direktur Eksekutif Maarif Institute). (Fransiskus Adhiyuda Prasetia)

Adapun pamsel juri independen yang terlibat:

Sabtu, 21 April 2018
1. Zainal Arifin Mochtar (Pegiat anti-korupsi dan dosen UGM)
2. Sri Budi Eko Wardhani (Dosen Ilmu Politik UI)
3. Neng Dara Afffiah (Mantan Komisioner Komnas Perempuan)
4. Asep Iwan Iriawan (Mantan hakim)
5. Hamdi Muluk (Guru Besar Psikologi Politik UI)
6. Natalia Soebagjo (Aktivis Perempuan)
7. Ade Armando (Dosen Ilmu Komunikasi UI)
8. Sirojudin Abbas (Pengamat Politik dan Direktur Program SMRC)

Minggu, 22 April 2018
1. Mari Pangestu (Mantan Menteri Perdagangan)
2. Mahfud MD (Mantan Ketua MK)
3. Zainal Arifin Mochtar (Pegiat anti-korupsi dan dosen UGM)
4. Sri Budi Eko Wardhani (Dosen Ilmu Politik UI)
5. Henny Supolo (Praktisi Pendidikan)
6. Clara Joewono (Pakar Hubungan Internasional CSIS)
7. Neng Dara Affiah (Mantan Komisioner Komnas Perempuan)
8. Asep Iwan Iriawan (Mantan hakim)
9. Seto Mulyadi (Ketua Lembaga Perlindungan Anak Indonesia)
10. Goenawan Mohamad (Penulis dan pendiri majalah TEMPO)
11. Bivitri Susanti (Pakar hukum tata negara dan pendiri Sekolah Hukum Jentera)
12. Djayadi Hanan (Pengamat politik dan Direktur Eksekutif SMRC)

Sumber: Tribunnews

Advertisement