Maria Si Wanita ‘Petarung’ dari Wamena

Maria Si Wanita ‘Petarung’ dari Wamena

Maria | Elvan Dany Sutrisno/detikcom

Metro Merauke – Namanya Maria. Meski usianya belum sampai 40 tahun, perjuangan panjang sudah dilaluinya. Maria berjuang memberdayakan wanita dan mendidik anak-anak di tengah keterbatasan, bahkan ancaman.

Dia adalah anak pertama Wemar Kuslogo, kepala suku di Desa Waga-waga, Distrik Kurulu, Wamena, Papua. Sehari-hari ia mendampingi mama-mama sekitar tempat tinggalnya membuat noken–kerajinan khas Wamena–dan mengajar anak-anak PAUD Suara Hati Ibu.

Maria dan mama-mama sedang membuat sebuah noken raksasa berukuran 300×400 meter saat Ketua CT Arsa Foundation Anita Ratnasari Tanjung mengunjungi sentra kerajinan tersebut pada Rabu (18/4). Ia menyambut Anita dan tim CT Arsa dengan tangisan dan doa bersama para mama. Rupanya ayahnya baru meninggal belum lama ini.

“Mohon maaf Ibu karena tradisi kami menerima tamu dengan tangisan karena bapak kami baru pergi,” kata Maria dengan mata masih berkaca-kaca sambil menjelaskan kegiatan yang tengah berlangsung.

Anita Ratnasari takjub akan usaha Maria dan kelompoknya itu. Setelah sedikit sambutan dan beramah-tamah, Maria mengajak Anita ke sebuah PAUD yang bangunannya sudah hampir roboh. Bangunan PAUD beratap rerumputan yang miring disangga kayu, sedangkan di bagian dalamnya ada tanah becek seperti di sawah.

Melihat kondisi PAUD yang sangat memprihatinkan itu, Anita tersentuh. Istri pengusaha nasional itu pun langsung tergerak membangun PAUD tersebut sekaligus membangun pusat kerajinan para mama supaya tak lagi membuat noken beralaskan tanah.

Sambil mengucap terima kasih, Maria pun bicara soal perjuangannya memberdayakan wanita dan anak melalui PAUD yang hampir roboh tersebut.

“Bapak saya titip pesan selalu dan bapak baru pergi beberapa minggu lalu dan Ibu Anita dayang dan Ibu menghapus air mata saya sejak 2013 proposal saya untuk pembangunan sekolah belum ada kabar,” kata Maria sembari menitikkan air mata.

Maria melanjutkan perjuangan bapaknya yang sudah meninggal. Ia punya cita-cita besar membangun daerah dengan pendidikan dan kreativitas mama-mama di Wamena.

“Gurunya masih saya sendiri. Jadi saya sendiri mengajarkan anak-anak dan ibu-ibu,” katanya. Ia gembira saat Anita Tanjung juga bicara akan menghadirkan guru berkualitas untuk PAUD-nya kelak setelah dibangun.

Peletakan batu pembangunan sekolah PAUD di Wamena | Poriaman Sitanggang/detikcom

Tantangan mendidik anak usia dini cukup berat dijalani dengan keterbatasan. Tantangan lebih berat adalah dari sekitarnya yang tak suka ia mengajari ibu-ibu membuat noken.

“Para suami mengejek kami karena istrinya bergabung. Saya tidak hiraukan. Ada tantangan juga dari kepala suku karena mereka tak suka kami kerja begini, dia bawa parang ancam ibu-ibu lagi kerja. Mereka lebih suka kita kerja kebun, tapi kami tidak bubar, kami tetap kerja,” ungkapnya.

Kini Maria bisa mulai tersenyum. Ia menanti apa yang sudah diperjuangkannya jadi nyata setelah dibantu CT Arsa Foundation. (van/fdn)

Sumber: Detik

Advertisement