Investor KEK Sorong Butuh Listrik dan Air

Investor KEK Sorong Butuh Listrik dan Air

Ilustrasi: Sejumlah pekerja melakukan perawatan dan pemasangan jaringan kabel listrik baru di Desa Lhok Nibong, Pante Bidari, Aceh Timur, Aceh, Minggu (25/2) lalu. PT PLN melakukan perawatan dan pemeliharaan jaringan listrik secara berkala untuk menjamin sistem beroperasi secara optimal dalam meningkatkan pelayanan terhadap konsumen | ANTARA FOTO/Syifa Yulinnas

Metro Merauke – Sekretaris Dewan Nasional KEK Enoh Suharto Pranoto mengatakan calon investor untuk Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) di Sorong, Papua Barat, membutuhkan sarana listrik dan air untuk mendukung pengadaan smelter.

“Mereka butuh kepastian besaran listrik, harga listrik dan ketersediaan air dengan volume yang cukup untuk smelter,” kata Enoh seusai mengikuti rapat koordinasi pengelolaan KEK Sorong di Jakarta, Rabu.

Enoh mengatakan KEK Sorong dengan luas 198 hektare sudah memiliki kesiapan infrastruktur berupa jalan dan kantor, meski belum mempunyai sarana pendukung berupa listrik dan air untuk pengembangan kawasan tersebut.

Padahal Pemerintah Provinsi Papua Barat dan Kabupaten Sorong serta Kementerian Perdagangan dan BKPM siap untuk melimpahkan kewenangan kepada Administrator KEK Sorong guna mendukung kegiatan operasional dalam waktu dekat.

Saat ini tercatat ada investor besar yang berniat menanamkan modal di KEK Sorong yaitu PT Gag Nikel yang merupakan anak usaha PT Aneka Tambang (Persero) Tbk.

Menurut rencana, perusahaan ini siap membangun smelter feronikel dan stainless steel dengan nilai investasi berkisar antara Rp5 triliun-Rp10 triliun serta berkapasitas produksi 40.000 ton nikel per tahun.

Direktur Utama PT Gag Nikel Risono menargetkan pencanangan pembangunan pabrik pengolahan feronikel dan stainless steel di KEK Sorong dapat dilakukan paling cepat pada 2019.

Meski demikian, ia mengakui, ketersediaan listrik masih menjadi persoalan karena pembangunan smelter membutuhkan listrik sebesar 300 MW. Sedangkan listrik yang tersedia baru sekitar 10 persennya yaitu 30 MW.

“PLN menyatakan sanggup memenuhi kebutuhan listrik untuk smelter. Hanya harganya yang belum cocok. PLN menginginkan Rp 900 per KWH, kami minta harga listrik di bawah itu supaya produk kami nanti bisa bersaing di pasar,” kata Risono.

Persoalan lainnya adalah kebutuhan air untuk smelter sebanyak 700 liter per detik, padahal waduk air dari Sungai Warsamson bertujuan hanya untuk memenuhi kebutuhan masyarakat Sorong dengan kapasitas maksimal hingga 600 liter per detik.

“Perlu dibangun bendungan baru yang khusus untuk kebutuhan smelter. Kami butuh jaminan kepastian dari pemerintah bahwa pasokan air akan dicukupi. Kalau air tidak cukup, smelter tidak bisa jalan,” kata Risono.

Dalam kesempatan tersebut, Wakil Bupati Sorong, Suka Harjono meminta calon investor tidak perlu khawatir soal ketersediaan listrik karena PLN sangat siap memenuhi kebutuhan listrik.

Menurut dia, tidak sulit bagi PLN untuk menyediakan listrik di KEK Sorong karena daerah ini memiliki sumber daya gas yang melimpah.

“Masalah ketersediaan air juga tidak perlu dirisaukan. Kementerian PUPR siap membangun infrastruktur. Kalau masih kurang, Pemkab Sorong akan membantu. Kami siap menggandeng investor dari luar negeri untuk menyediakan kebutuhan air ini,” tambah Harjono. (Satyagraha)

Sumber: Antara

Advertisement