Tersandung Skandal Privasi, Saham Facebook Kian Terpuruk

Tersandung Skandal Privasi, Saham Facebook Kian Terpuruk

Ilustrasi Facebook | iStockPhoto

Metro Merauke – Saham dari perusahaan media sosial Facebook kembali merosot hampir tiga persen saat penutupan perdagangan Selasa waktu setempat. Hal ini karena perusahaan pimpinan Mark Zuckerberg itu masih tersangkut masalah skandal privasi pengguna yang melibatkan firma analisa data Cambridge Analytica.

Dilaporkan CNNMoney, Rabu (21/3), penurunan nilai saham Facebook sejauh ini telah membuat perusahaan tersebut kehilangan valuasi USD 49,4 miliar atau Rp 679,92 triliun (asumsi kurs Rp 13.763 per dolar Amerika Serikat).

Citra Facebook di mata investor menurun setelah Cambridge Analytica mengaku mendapat akses ke 50 juta pengguna Facebook untuk mempengaruhi suara dalam pemilihan Presiden Amerika Serikat pada 2016.

Menurunnya nilai saham Facebook juga turut berpengaruh pada saham perusahaan teknologi dan media sosial lain. Saham twitter dilaporkan merosot 10 persen sementara perusahaan induk Snapchat, Snap Inc. kehilangan tiga persen.

Anggota parlemen di Amerika Serikat dan Inggris memanggil CEO dan pendiri Facebook Mark Zuckerberg unuk memberikan kesaksiannya akan hal ini. Mereka juga ingin mengetahui apa yang Facebook sudah lakukan untuk menjaga kerahasiaan data penggunanya.

Mark Zuckerberg memiliki 400 juta saham Facebook. Sejak kasus ini mencuat, suami dari Priscilla Chan itu sudah kehilangan USD 6,8 miliar atau sekitar Rp 93,5 triliun.

Meski demikian, Zuckerberg masih memiliki saham yang bernilai USD 70 miliar. Ia juga masih bisa mempertahankan posisinya di perusahaan karena memiliki kontrol terhadap mayoritas pemegang saham di perusahaan itu.

Analis Morgan Stanley Brian Nowak mengatakan, pihak Facebook harus segera mencari solusi akan hal ini. Jika tidak, bukan tidak mungkin banyak pengguna yang bakal semakin takut untuk menggunakan Facebook dan akhirnya berimbas pada penurunan pemasukan iklan di situs tersebut. Model bisnis Facebook pun bisa dalam bahaya.

“Jumlah pengguna dan iklan yang menurun sangat beresiko pada kondisi saham Facebook,” kata Brian Nowak.

Facebook masih menjadi salah satu perusahaan paling bernilai di Amerika Serikat. Perusahaan yang didirikan pada 2004 ini memiliki kapitalisasi pasar sebesar USD 488 miliar atau sekitar Rp 6,714 triliun. (Vina A Muliana)

Sumber: Liputan6

Advertisement