Komisi PSE Keuskupan Agung Merauke Dampingi Masyarakat Wasur Kampung

Komisi PSE Keuskupan Agung Merauke Dampingi Masyarakat Wasur Kampung

Ketua PSE Keuskupan Agung Merauke, Bruder Johny Kilok sedang memimpin ibadah singkat  bersama masyarakat Wasur Kampung, sebelum penanaman sayur-sayuran |  LKF

Metro Merauke – Komisi Pengembangan Sosial Ekonomi Keuskupan Agung Merauke yang ‘dinahkodai’ Bruder Johny Kilok melakukan pendampingan  terhadap  masyarakat di Wasur Kampung sejak Januari 2018 lalu.

Pendampingan yang dilakukan itu, sekaligus mendorong masyarakat setempat membuka lahan  untuk ditanami beberapa jenis sayur.

Saat ditemui Metro Merauke Rabu (14/3), Bruder Johny menjelaskan, pada bulan Januari, ia melakukan pendekatan kepada masyarakat Wasur Kampung yang umumnya adalah orang Marind. “Saya menawarkan membuka lahan untuk ditanami beberapa jenis sayur,” ungkapnya.

Saat itu, katanya, langsung diresponi. Lalu, secara bersama-sama membuka lahan dengan ukuran 25×25 meter. “Kenapa kami buka dalam skala terbatas, karena minimnya peralatan pertanian,” ujarnya.

“Saya bersama masyarakat setempat, hanya menggunakan cangkul maupun sekop membuat bedeng sekaligus dimanfaatkan menanam beberapa jenis sayur mulai dari kangkung, sawi, kacang panjang, tomat, lombok dan juga jagung,” katanya.

Dari kerja gotong royong dengan peralatan seadanya itu, lanjut Bruder Johny, berhasil membuat kurang lebih 100 bedeng. Semua bedeng telah ditanami  sayur-sayuran.

Untuk pupuk yang digunakan, jelas dia, cair organik yang dibuat sendiri. Sementara pupuk dasarnya adalah kotoran kambing serta kotoran ayam.

“Jadi, tak ada zat kimia digunakan memupuk sayur-sayuran,” tegasnya.

Dikatakan, saat ini, baru satu kelompok dibentuk yang berjumlah sembilan orang. Umumnya didominasi  mama-mama Marind.

Jika tak ada hambatan, katanya, pada akhir Maret 2018, beberapa jenis sayur sudah dipanen sekaligus dapat dijual untuk bisa mendapatkan uang. Sekaligus dimanfaatkan membeli kebutuhan di rumah masing-masing.

“Saya mempunyai relasi baik  dengan umat di gereja-gereja, rumah sakit maupun beberapa tempat lain. Mereka siap membeli sayur organik yang dipanen masyarakat,” ungkapnya.

Ditambahkan, setelah panen perdana, akan dibentuk  beberapa kelompok lagi  dalam kampung. Karena hampir semua warga setempat ingin membuka lahan untuk menanam sayur-sayuran. (LKF)

Advertisement