Misi Khusus Kapal Rainbow Warrior 2 Bulan Arungi Lautan Indonesia

Misi Khusus Kapal Rainbow Warrior 2 Bulan Arungi Lautan Indonesia

Rainbow Warrior III tiba di Pelabuhan Pelindo, Manokwari, Papua Barat. Kapal milik organisasi lingkungan global Greenpeace ini akan menjelajahi Indonesia dengan tema Jelajah Harmoni Nusantara | Screenshot: Twitter/@GreenpeaceID

Metro Merauke – Kapal Rainbow Warrior tiba di Pelabuhan Pelindo, Manokwari, Papua Barat, Senin, 12 Maret 2018, setelah berlayar selama enam hari dari Tacloban, Filipina. Kapal milik organisasi lingkungan global Greenpeace ini akan menjelajahi Indonesia selama dua bulan dengan tema “Jelajah Harmoni Nusantara”.

Rainbow Warrior dinakhodai oleh kapten perempuan bernama Hettie Geenen yang membawa sekitar 20 awak kapal dari berbagai negara seperti Meksiko, Jerman, Belanda, termasuk Indonesia.

Kapal layar yang dirancang ramah lingkungan ini akan menjelajahi lautan Indonesia dengan menjadikan Bumi Cendrawasih sebagai pintu masuk utamanya. “Kami sangat senang berada di Manokwari setelah 6 hari berlayar dari Filipina. Ini merupakan hal yang menyenangkan untuk melihat tanah dan hutan,” ucap Kapten Hettie, dilansir Antara.

Tari Penjemputan mengiringi proses bersandar kapal legendaris tersebut ke Pelabuhan Manokwari. Para penari dari komunitas Iriantos menari di atas perahu, sebuah tarian yang sering disuguhkan untuk menyambut tamu yang baru menginjak Tanah Papua setelah perjalanan yang jauh.

Penyambutan semakin meriah, para kru kapal Rainbow Warrior yang dipimpin Hettie satu demi satu turun dari kapal mengikuti ritual penyambutan kemudian menari bersama.

“Dari laut, kelihatan sangat hijau dan segar, tetapi saya tahu ada fakta kebalikannya,” ujar Kapten Hettie.

Menjaga Hutan Papua
Hettie mengungkapkan, sebelum menjadi kapten kapal, ia adalah seorang pengusaha mebel. Ia akhirnya berkesempatan melihat yang terjadi di Hutan Amazon, Brasil.

“Di bagian tengah hutan di sana banyak sekali deforestasi yang benar-benar menyedihkan hati,” ungkap Hettie yang telah beberapa kali berada di Hutan Amazon dengan kapal-kapal Greenpeace.

“Maka saya tidak mau lagi pakai perabot kayu dari hutan alami. Dan saya juga belajar bahwa deforestasi Indonesia lebih parah dari di Brasil. Ini harus diselamatkan. Karena ini adalah masa depan kita,” katanya.

Pelayaran Rainbow Warrior kali ini mengusung tema tur “Jelajah Harmoni Nusantara”. Tujuannya untuk menggali inspirasi dan menggaungkan aksi nyata penyelamatan lingkungan oleh masyarakat dalam mengembalikan keseimbangan di alam nusantara.

Kepala Greenpeace Indonesia, Leonard Simanjuntak mengatakan kunjungan Rainbow Warrior ke Papua sebagai persinggahan pertama merupakan komitmen Greenpeace dalam menjaga hutan Papua.

“Hutan Papua sangat krusial karena Indonesia berpartisipasi dalam Paris Agreement untuk mengurangi emisi gas rumah kaca,” kata Leonard saat acara penyambutan.

“Saya rasa kita punya formulasinya. Di tanah Papua yang paling penting adalah hutan adat. Greenpeace selalu bekerja sama dengan masyarakat adat. Rainbow Warrior ini adalah sebagai wahana untuk berkolaborasi,” paparnya.

Butuh Gerakan Publik
Adapun Direktur Jenderal (Dirjen) Perhutanan Sosial dan Kemitraan Lingkungan (PSKL) Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, Bambang Suprianto mengatakan bahwa gerakan lingkungan harus terus disuarakan di Indonesia agar semakin meningkat.

Untuk menyelamatkan hutan dan mempertahankan lingkungan di Indonesia dibutuhkan gerakan publik.

“Dan hari ini Greenpeace yang terdiri dari beberapa anggota dari berbagai negara di dunia, membantu menyuarakan gerakan publik di suarakan ke seluruh dunia dengan Rainbow Warrior,” kata Bambang.

Rainbow Warrior akan melanjutkan perjalanan ke Sorong dan Raja Ampat lalu ke Bali, ke Jakarta, dan perairan Laut Jawa selama seminggu untuk melakukan aktivitas dokumentasi lingkungan. Setelah itu, tepatnya pada 7 Mei 2018, Rainbow Warrior akan meneruskan penjelajahannya ke ke Thailand. (Tim Liputan6)

Sumber: Liputan6

Advertisement