Stunting: Ancaman Menakutkan Generasi Platinum Indonesia

Stunting: Ancaman Menakutkan Generasi Platinum Indonesia

Ilustrasi | Google

Oleh: Rafly Parenta Bano, SST

Memasuki awal tahun 2018, IMF (lembaga keuangan internasional) memprediksi Indonesia akan menjadi kekuatan ekonomi terbesar keempat di tahun 2018. Sebabnya karena perekonomian Indonesia tahun 2018 diprediksi mampu berkontribusi bagi perekonomian dunia sebesar 2,5 persen. Capaian tersebut mampu mengungguli negara-negara dengan kekuatan industri besar seperti Korea Selatan dan Jepang.

Senada dengan IMF, Price Waterhouse Coopers (PWC) juga menyatakan bahwa Indonesia akan menjadi salah satu kekuatan ekonomi dunia dalam beberapa decade mendatang. PWC memprediksi pada tahun 2030 perekonomian Indonesia akan menempati posisi lima besar.

Tak sampai disitu. Sepuluh tahun sesudahnya, 2040 ekonomi Indonesia akan mampu menembus posisi empat besar, dibawahTiongkok, Amerika Serikat dan India. Selain didasari pertumbuhan ekonomi yang konsisten di atas 5 persen bahkan mampu menunjukkan tren peningkatan di tengah badai krisis yang melanda dunia, prediksi di atas juga didasarkan pada populasi Indonesia yang besar di masa mendatang. Sebab pada masa 2030-2040 bangsa ini akan menikmati puncak bonus demografi which is 70 persen penduduk Indonesia adalah penduduk produktif yang berusia 15-64 tahun.

Kelompok penduduk produktif inilah yang jumlahnya diprediksi akan menembus 180 jutajiwa, yang akan menjadi motor penggerak perekonomian Indonesia dimasadepan. Lantas siapa mereka yang dimaksud itu? Mereka yang saat ini: usia 25-40 tahun atau popular disebut generasi emas (generasi Y), usia 10-24 tahun yang disebut generasi millennial (generasi Z) danusia 0-9 tahun yang disebut generasi platinum (generasi Alfa).

Namun, boro-boro mendapatkan berkah, bonus demografi berpotensi memberikan malapetaka dan beban berat bagi bangsa ini. Apa sebabnya? Yaitu melihat serangan gizi buruk yang terbilang masif menyerang kaum generasi platinum kita, parabalita. Contoh terkini adalah kasus yang melanda Asmat, Papua. Sehingga masyarakat internasional ikut berbelasungkawa.

Suatu tragedi menyakitkan akibat serangan gizi buruk dan campak yang akhirnya merenggut nyawa lebih dari 60 balita. Tidak hanya terjadi di Asmat. Wilayah lain di Papua seperti Kabupaten Pegunungan Bintang pun mengalami kasus serupa. Bahkan pada saat yang hampir bersamaan ditemukan pula terjadi di beberapa wilayah termasuk ibu kota DKI Jakarta yang mengejutkan wakil gubernur.

Setali tiga uang dengan wabah gizi buruk, baru-baru ini Kementerian Kesehatan merilis hasil Pemantauan Status Gizi (PSG) tahun 2016 yang mengejutkan: 1 dari 3 balita di Indonesia menderita stunting. Mirip dengan gizi buruk, stunting diderita oleh balita yang mengalami masalah kurang gizi kronis yang mengakibatkan tinggi badan di bawah rata-rata alias pendek. Umumnya mereka yang menderita stunting rentan terhadap penyakit, memiliki tingkat kecerdasan di bawah normal akibat terganggunya perkembangan otak, serta dampak jangka panjang produktivitasnya menjadi rendah. Oleh sebab itu, fakta bahwa tingginya prevalensi stunting tersebut dalam jangka panjang akan merugikan Indonesia.

Prevalensi stunting yang tinggi di Indonesia tergolong kronis. Hal tersebut disebabkan tingkat prevalensinya pada tahun 2016 mencapai 27,5 persen, melebihi standar WHO yang menyebutkan masalah stunting tergolong kronis bila di atas 20 persen. Dari hasil PSG tercatat bahwa seluruh provinsi kecuali Bali dan Sumatera Selatan memiliki tingkat prevalensi stunting di atas 20 persendan 14 provinsi diantaranya tingkat prevalensinya melebihi nilai prevalensi nasional. Provinsi dengan tingkat stunting tertinggi adalah Sulawesi Barat dan Nusa Tenggara Timur, masing-masing dengan capaian 39,7 dan 38,7.

Balita yang menderita stunting disebabkan karena rendahnya asupan gizi pada 1.000 hari pertama, yakni sejak bayi lahir hingga berusia 2,7 tahun. Mereka kekurangan asupan gizi yang penting seperti protein hewani, nabati juga zat besi. Hal tersebut cenderung disebabkan ketidak mampuan orang tua memenuhi kebutuhan gizi anaknya. Dalam hal ini, faktor kemiskinan rumah tangga ditengarai berpotensi menyebabkan terjadinya stunting pada balita.

Karena miskin menyebabkan orang tua tidak mampu memberikan asupan gizi yang penting dirinya (sebagai ibu yang memberi ASI) juga bagi anaknya. Selain karena asupan gizi yang terbatas, pula disebabkan karena keterbatasan dalam menyediakan fasilitas sanitasi dan lingkungan yang bersih. Keduanya tentu merupakan “syarat” mutlak yang harus dimiliki, terutama bagi rumah tangga yang memiliki bayi atau balita. Minimnya akses terhadap keduanya akan menimbulkan berbagai macam penyakit menular dan tidak menular yang sudah tentu akan menyerang bayi yang sangat rentan dan sensitif terhadap berbagai macam penyakit.

Disamping itu pula akses terhadap air bersih serta fasilitas kesehatan yang memadai juga mutlak harus tersedia dan mudah untuk dijangkau rumah tangga yang memiliki bayi. Anak bayi sangat membutuhkan air bersih yang digunakan untuk mandi dan mencuci. Keterbatasan akses terhadapnya membuat bayi rentan terserang bakteri dan virus pembawa penyakit. Lingkungan yang tidak bersih akan menyebabkan tubuh mudah terserang penyakit. Kondisi tersebut akan membuat tubuh bayi bekerja keras melawan berbagai penyakit yang menyebabkan penyerapan terhadap gizi terhambat. Singkat kata: sudah minim asupan gizi malah terserang penyakit. Keadaan tersebut ibarat pepatah: sudah jatuh tertimpa tangga pula.

Kondisi tersebut akan semakin parah bila jangkauan rumah tangga terhadap fasilitas kesehatan cukup jauh. Padahal selain mendapat pertolongan saat sakit, anak bayi pun perlu mendapatkan pelayanan kesehatan berupa imunisasi serta makanan pendamping. Takkala pentingnya, orang tua juga perlu dibekali berbagai anjuran hidup sehat serta kebutuhan-kebutuhan gizi yang harus diberikan kepada bayi dan balita mereka.

Melihat hal tersebut di atas, ancaman stunting jelas sesuatu yang sangat serius sebab mengancam generasi platinum anak Indonesia. Tentu kelak kita yang sebagai suatu bangsa tak mengharapkan akan melihat masa depan Indonesia menuju ketitik terbawah. Padahal hingga dua dan tiga dasawarsa kedepan bangsa Indonesia berada pada suatu kesempatan emas untuk menjadi bangsa dengan kekuatan ekonomi terkuat di dunia. (Penulis adalah Statistisi Ahli pada Badan Pusat Statistik Kabupaten Merauke)

 

Advertisement