Tindaklanjut Usulan Pembentukan Satgas Rawan Pangan Dipertanyakan

Tindaklanjut Usulan Pembentukan Satgas Rawan Pangan Dipertanyakan

John NR Gobai saat menyerahkan konsep ketahanan pangan kepada Assiten II Setda Papua, Elia Loupatty beberapa waktu lalu

Metro Merauke – Anggota Fraksi Gerakan Indonesia Raya (Gerindara) DPR Papua, John NR Gobai mempertanyakan sejauh mana Pemprov Papua menindaklanjuti usalan pembentukan satgas rawan pangan.

Manurut Gobai, pihaknya telah mengusulkan pembentukan satgas rawan pangan kepada Pemprov Papua melalui assiten II Setda Papua, Elia Loupatty.

“Kami pertanyakan sejauh mana tindaklanjut usulan pembentukan Satgas Rawan Pangan dan Rawan Gizi ini,” kata John Gobai, Jumat (02/03).

Katanya, dalam hal pangan, dana respek dapat digunakan memprogramkan pembangunan lumbung pangan di kampung, program cetak sawah oleh TNI diganti dengan program tanam sagu dan ubi atau keladi.

“Pemprov juga harus minta pemerintah pusat membatasi raskin ke Papua. Untuk rumuskan kebijakan ini segera bentuk satgas rawan pangan dan gizi, seperti yang pernah kami usulkan,” ucapnya.

Selain itu lanjut Gobai, masalah kesehatan dan pangan adalah tanggungjawab multi sektor. Ke depan pelayanan kesehatan di Papua perlu dievaluasi.

Yang perlu diperhatikan kata dia, ketersediaan air bersih, listrik, dan tenaga kontrak harus diikat dengan aturan jelas. Tenaga kesehatan jangan bosan memberikan pengetahuan tentang kesehatan kepada masyarakat. Jangan mengalah dengan ketidaktahuan masyarakat.

“Memang perlu penambahan tenaga dokter di tiap distrik dengan alat kesehatan dan obat yang lengkap,” ujarnya.

Dikatakan, Dinas Kesehatan kabupaten di Papua, juga dibentuk satgas seperti satgas kaki telanjang untuk memperkuat bidan desa dan kader kesehatan di kampung.

Mereka dibekali peralatan komunikasi, logistik, sarana transportasi serta rumah tinggal yang layak. Dibangun puskesmas yang lengkap dengan rawat inap. Pembangunannya satu paket yakni puskesmas dan rumah tinggal.

“Mereka harus digaji tepat waktu, tanpa potongan, ada SSB di daerah yang jauh, ada sarana transportasi udara dan laut yang dipakai tepat guna dan tepat sasaran, bukan untuk wisata petugas kesehatan,” katanya. (Arjuna/Redaksi)

Advertisement

1 komentar