Kisah Pengabdian Polisi dan TNI di Perbatasan Papua

Kisah Pengabdian Polisi dan TNI di Perbatasan Papua

Kapolsek Distrik Sota, AKP Ma'ruf Suroto | REPUBLIKA/Muhyiddin

Metro Merauke – Polri merupakan lembaga negara yang berperan dalam memelihara keamanan dan ketertiban masyarakat, menegakan hukum, serta memberikan terpeliharanya keamanan dalam negeri. Sedangkan TNI berperan sebagai alat pertahanan Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Karena itu, kedua lembaga penegak hukum ini juga bertanggung jawab di daerah perbatasan Indonesia. Republika.co.id pun berkesempatan untuk mengunjungi langsung area perbatasan Indonesia-Papua Nugini di titik nol kilometer Distrik Sota, Kapupaten Merauke, Ahad (4/2).

Tidak sedikit masyarakat Indonesia dari berbagai daerah yang mengunjungi tempat ini, khususnya pada akhir pekan. Untuk masuk wilayah ini, pengunjung dari berbagai daerah harus menyerahkan kartu identitas pada dua anggota TNI yang berjaga, dan jika bersama rombongan cukup perwakilan saja.

Selain dijaga oleh TNI, distrik ini juga dijaga seorang polisi. Saat menjelajahi perbatasan ini, Republika.co.id bertemu dengan Kapolsek Distrik Sota, AKP Ma’ruf Suroto (50).

Polisi ini berdinas di distrik ini sudah cukup lama yakni sejak tahun 1993. Ia pun senang bertugas di titik Nol Kilometer, karena ia bisa dikunjungi oleh semua orang dari berbagai wilayah di Indonesia.

“Kita punya kesenangan sendiri, Jadi kita jauh dari keramaian, tapi kita dikunjungi saudara-saudara dari seluruh Indonesia, kita sudah senang. Itu yang menjadi kebanggaan kami,” ujar Ma’ruf saat diwawancara Republika.co.id di Titik Nol Kilometer, Distrik Sota, Merauke, Ahad (4/2).

Polisi asal Magelang ini memang tidak tidak bisa berkeliling Indonesia, tapi ia mengaku senang dikunjungi semua orang yang datang ke perbatasan ini. Karena itu, Ma’ruf sangat bertanggung jawab untuk menjaga keamanan wilayahnya bersama TNI.

“Sinergi TNI sama Polri di sini kita sama-sama. Karena yang menjaga wilayah perbatasan ini termasuk kita TNI dan masyarakat, kita semua bersinergi diperbatasan ini,” ucapnya.

Menurut Ma’ruf, hampir tidak ada tindakan kriminal di wilayahnya. Ketika ada kesalahpahaman antarmasyarakat pun mampu diselesaikan secara adat istiadat. Karena itu, atas pengabdiannya selama 24 tahun, Ma’run pun pernah mendapat kenaikan pangkat luar biasa dari presiden dan mendapatkan hadiah umrah dari sebuah perusahaan di Jakarta.

Namun, usia Ma’ruf sebentar lagi akan menapaki masa pensiun. Namun, setelah pensiun Ma’ruf mengaku tidak ingin pulang ke kampung halamannya di Magelang. Karena, menurut dia, masyarakat Papua selama ini sudah menerimanya dengan baik.

“Saya tetap mau di Papua, mau mengabdi di sini, jadi orang Papua di Sota,” kata Ma’ruf.

Untuk menjaga perbatasan ini, TNI juga kerap melakukan penjagaan ketat dan patroli. Jika ada warga Papua Nugini yang masuk melalui jalur tikus dan tidak mempunyai surat izin, maka TNI akan menyerahkannya ke tentara Papua Nugini untuk dihukum.

Kawasan Nol Kilometer ini dijaga dan dirawat oleh TNI berpangkat sersan dua, Serda Agustinus Nenop. Saat Republika.co.id menjelajahi wilayah kilometer ini, Serda Nenop tampak sedang melakukan pengecatan. Putra daerah Merauke ini baru dinas di wilayah ini sekitar tiga bulan lalu, setelah dimutasi dari Jember, Jawa Timur.

Nenop mengatakan, masyarakat Indonesia banyak yang mengunjungi tempat ini untuk berwisata di akhir pekan, Sabtu dan Ahad. Namun, tidak sedikit juga masyarakat Papua Nugini yang menyebrang hanya untuk membeli kebutuhan sehari-hati, seperti beras, daging, ataupun ikan.

Menurut Nenop, bahasa masyarakat Papua Nugini berbeda dengan bahasa masyarakat Papua, karena itu jika memiliki kepentingan lebih mereka juga membawa penerjemah ke perbatasan. “Mereka mempunyai juru bahasa, karena sudah beda bahasa. Setiap hari mereka datang, karena kebutuhan mereka belanja di Sota, menggunakan sepeda,” ujar Nenop.

Nenop sudah 21 tahun mengabdi sebagai TNI. Ia pun menceritakan sepenggal kisah tentang asal usul nama Distrik Sota. Menurut dia, berdasarkan penuturan warga setempat, nama Sota berarti “Sampai di Sini”. Artinya, masyarakat Indonesia hanya bisa tinggal sampai di Distrik Sota saja.

“Dalam bahasa orang di sini Sota artinya sampai di sini,” ucap Nenop.

Menurut dia, tidak ada pintu masuk lain di Papua selain di Merauke. Untuk kawasan perbatasan lainnya, hanya diberikan tapal batas yang jaraknya masing-masing per kilo.

Menurut dia, tapal batas itu juga dijaga oleh TNI untuk mencegah adanya penyusup dari Papua Nugini. Patroli penjagaan pun sudah dijadwalkan.

“Apabila ada warga negara lain melintas pasti kita tanya paspor, jika tidak punya dikenai sanksi. Kita serahkan ke sana,” tuturnya. (Muhyiddin)

Sumber: Republika

Advertisement