Kisah Dokter ACT yang Singgah di Kampung Seribu Papan

Kisah Dokter ACT yang Singgah di Kampung Seribu Papan

Tim ACT memberi bantuan pada warga Kampung Seribu Papan, Ambisu, Asmat, Papua | Foto: ACT

Metro Merauke – Perjalanan panjang dari Jakarta akhirnya tuntas. Subuh itu, kapal perintis merapat di pelabuhan kecil di Agats. Setelah berhari-hari perjalanan, hari pertama menelusuri langit Jakarta sampai Papua dengan pesawat terbang. Lalu menunggu jadwal kapal, kemudian berlayar di atas lautan Arafura dari Merauke sampai ke Agats, tim Aksi Cepat Tanggap (ACT) ke-2 pun tiba di Distrik Agats, Ibukota Kabupaten Asmat.

Kali ini, personel tim Emergency Response ACT yang turun langsung sampai ke Asmat merupakan seorang dokter, tim kedua ini menyusul tim pertama yang telah tiba lebih dulu di Agats beberapa hari sebelumnya.

Mengatasi Kejadian Luar Biasa (KLB) gizi buruk dan campak di Asmat, ACT bergerak menyelesaikan beberapa aksi bersamaan. Mulai dari distribusi darurat bantuan pangan padat gizi untuk anak-anak Agats, kemudian penyuluhan tentang gizi oleh paramedis ACT, lalu beranjak ke tahap berikutnya dengan menyiapkan pelayanan medis oleh dokter ACT yang diberangkatkan dari Jakarta.

Aksi pertama pelayanan medis ACT di Kabupaten Asmat dilakukan, pada Kamis (25/1) kemarin. Seperti hari-hari sebelumnya, perjalanan antar kampung dan distrik hanya bisa dilakukan dengan perahu bermesin (speed boat). Sungai dan rawa-rawa membelah berlapis-lapis wilayah daratan Distrik Agats juga distrik-distrik yang berbatasan di kanan-kirinya.

Hanya bilah-bilah papan yang menjadi jalan utama di dalam kampung-kampung. Papan-papan itu disusun seperti jalan kecil, sementara di bawah hanya ada rawa dan sungai-sungai. Distrik di Atas Papan, begitu Distrik Agats mendapat julukan.

“Menurut warga lokal, rata-rata perjalanan menelusuri sungai butuh waktu dua sampai tiga jam. Kendaraan paling mewah dan satu-satunya yang berfungsi untuk berpindah tempat di Agats hanya kapal sampan kayu tradisional (kole-kole) dan speed boat,” tutur Dokter Riedha, dokter ACT yang baru saja tiba dari Jakarta untuk bertugas di Kabupaten Asmat.

Kamis pagi, sejak pagi sekali tim Emergency Response yang terdiri dari dokter dan paramedis bergerak lebih ke pedalaman. Menyewa speed boat dua sampai tiga jam perjalanan, tujuan hari itu menuju ke Kampung Ambisu, di Distrik Atsi.

“Kampung Ambisu terletak di pinggir laut, bukan di aliran sungai. Tapi tetap saja untuk mencapai Ambisu, hanya speed boat ini yang bisa menembus. Di Ambisu kami singgah di sebuah Puskesmas Pembantu Ambisu, menengok petugas medis puskesmas yang sedang bertugas,” kisah Nurjannatunaim, Paramedis dalam tim Emergency Response ACT.

Dua jam menyusuri aliran sungai dari Agats, Riedha dan tim paramedis ACT tiba di Puskesmas Pembantu Ambisu. Pandangan pertama menilik ruang pasien membuat terhenyak.

“Kami menemukan ada anak-anak yang mengalami campak dan gizi buruk. Keningnya panas tinggi. Badannya pun tampak kering terlihat menonjol tulang rusuknya,” kata Riedha seperti dalam siaran pers ACT.

Namanya Yohanes, salah satu bocah terkena campak di Kampung Ambisu. Menurut perawat di puskesmas, sudah berhari-hari gejala campak membuat tubuh Yohanes tidak berdaya. “Alhamdulillah, setelah kami melakukan pemeriksaan, badan Yohanes sudah tidak terlalu demam. Tinggal beristirahat yang cukup kami akan bantu pantau kebutuhan gizinya dan kami berikan vitamin. Jangan lupa badannya dioles minyak kelapa,” tutur Riedha.

Tim dokter ACT memberi bantuan kesehatan di Kampung Ambisu | Foto: ACT

Seharian di Kampung Ambisu, Riedha dan paramedis Nurjannatunaim menuntaskan tugas untuk memeriksa tubuh anak-anak Kampung Ambisu, juga melakukan penyuluhan gizi dan kesehatan.

“Dari kondisi yang kami lihat, kondisi gizi buruk di Asmat termasuk pula di Kampung Ambisu berada dalam tipe marasmik, artinya kondisi terparah karena kekurangan gizi yang sering ditemukan pada anak dan bayi. Ciri klinisnya mata cekung dan pipi cekung berkeriput, mulut kering, tulang iga seperti mengambang karena kulit tipis tidak ada lemak, dan tonjolan tilang di pinggang terlihat,” tutur Riedha.

Duet Riedha dan paramedis ACT Nurjannatunaim tuntas memeriksa kesehatan puluhan anak-anak di Kampung Ambisu. “Tak lupa juga anak-anak Ambisu kami berikan vitamin dan kami bekali paket makanan padat gizi,” kata Nur.

Hari itu, Kamis (25/1) tak kurang 50 paket makanan pada gizi diberikan untuk masyarakat Ambisu. Kepala Kampung Ambisu yang turut menemani mengucapkan terima kasihnya pada tim Emergency Response ACT yang singgah di kampungnya.

“Insyaallah, sampai pekan berikutnya dokter ACT dan tim paramedis akan menyisir kampung-kampung di sekitar Agats. Yang paling penting adalah mencegah gizi buruk terulang dan meluas. Gizi buruk bisa dicegah dengan pemenuhan kalori dan gizi seimbang melalui makanan. Jangan sampai terulang lagi ironi di mana ada kasus gizi buruk di tanah Papua nan kaya sumber daya alam ini,” pungkas Nur. (***/Gita Amanda)

Sumber: Republika

Advertisement