Asmat Gunakan Ambulans di Atas Air, seperti Apa Bentuknya?

Asmat Gunakan Ambulans di Atas Air, seperti Apa Bentuknya?

Speed Boat Nakes di Nakai, Distrik Pulau Tiga, Papua | Dok. kemenkes

Metro Merauke – Kabupaten Asmat kerap disebut sebagai daerah terapung. Pasalnya, daerah pesisir selatan Papua ini terdiri dari pemukiman yang beralaskan papan di atas perairan. Guna melintasi distrik-distrik di Kabupaten tersebut, masyarakat umumnya menggunakan transportasi air. Termasuk juga Nakes (tenaga kesehatan) puskesmas di daerah setempat.

Mengutip rilis Kemenkes RI (Kementerian Kesehatan Republik Indonesia), Selasa (23/1), Nakes (tenaga kesehatan) di Puskesmas Kampung Nakai, Distrik Pulau Tiga, Kabupaten Asmat, Papua, menjadi salah satu puskesmas yang menggunakan transportasi air untuk dalam pelayanan kesehatannya.

Nakes di daerah ini berkeliling ke tiga kampung, seperti Kampung Eroko, Esmapan, dan Yakapis menggunakan kapal cepat. Kapal cepat ini dipergunakan layaknya ambulans di daerah yang menggunakan jalur darat.

Dalam pelayanannya, tenaga kesehatan puskesmas Nakai melakukan pemantauan dan pemeriksaan kesehatan di tiga kampung tersebut sebulan sekali. Perjalanan menuju Kampung Eroko dan Yakapis dapat ditempuh dalam waktu sekali perjalanan, sedangkan, untuk ke Esmapan, dibutuhkan waktu semalam untuk menginap di Distrik Sawa Erma, Kabupaten Asmat.

Satgas Kesehatan TNI memberi bantuan pengobatan wabah penyakit di Kabupaten Asmat, Papua, Jumat (19/1). Tim terdiri atas Pusat Kesehatan TNI dan TNI AD, Dinas Kesehatan TNI AL dan TNI AU bersama dinas kesehatan setempat | LIputan6.com/Pool/Puspen TNI

Tak hanya untuk mobilisasi antarkampung, kapal cepat yang digunakan tenaga kesehatan Puskesmas Nakai pun digunakan untuk mengantar pasien gawat darurat ke RSUD Agats. Kepala Puskesmas Nakai, Frederikus Kaimeraimu, mengatakan mereka yang ditemukan sakit parah, akan langsung dirujuk ke RSUD Agats dan menempuh perjalanan selama 2.5 jam menggunakan kapal cepat berkekuatan 85 PK.

“Boat dari sini ke Agats membutuhkan 30 liter bensin, itu hanya cukup untuk berangkat, tidak cukup untuk pulang. Jadi untuk pulang dikasih biaya BBM oleh rumah sakit,” kata Frederikus, masih dalam kutipan rilis dari Kemenkes RI.

Tak hanya menggunakan kapal cepat, Frederikus mengungkapkan keterbatasan kapasitas dalam kapal. Terkadang pasien dibawa menggunakan kapal panjang milik warga yang berkekuatan 15 PK.

“Beberapa kali saya sudah cari jalan keluar apabila banyak pasien yang harus dirujuk. Saya bekali mereka dengan BBM dari Puskesmas, mereka pakai armada sendiri, pakai long boat tapi BBM disediakan dari Puskesmas. Saya bekali dengan rujukan dari Puskesmas ke rumah sakit,” ungkap Frederikus. (Aretyo Jevon Perdana)

Sumber: Liputan6

Advertisement