TIM Jakarta Siapkan 11 Teropong Sambut Gerhana Bulan Total

TIM Jakarta Siapkan 11 Teropong Sambut Gerhana Bulan Total

Gerhana bulan parsial terlihat di atas Pegunungan Alpen Bernese, Swiss, Senin (7/8). Gerhana bulan parsial bisa dilihat di seluruh Indonesia, sebagian benua Eropa, sebagian Afrika, Australia dan seluruh negara di benua Asia | Anthony Anex/Keystone via AP

Metro Merauke – Planetarium dan Observatorium Taman Ismail Marzuki (TIM) Jakarta membuka layanan buat warga Jakarta dan sekitarnya yang ingin menikmati dua fenomena alam yang terjadi bersamaan, yaitu supermoon dan gerhana bulan total pada 31 Januari mendatang.

Kepala Satuan Pelaksana Teknis Pertunjukkan dan Publikasi Unit Pengelolah Pusat Kesenian Jakarta (UP PKJ) Taman Ismail Marzuki Eko Wahyu Wibowo menyatakan, pihaknya menyiapkan 5 teropong yang standy by, 1 teropong relay dan 5 teropong cadangan buat warga yang ingin menyaksikan langsung fenomena alam tersebut.

“Itu bisa digunakan masyarakat mengamati secara detail proses gerhana bulan total tersebut,” ujar Eko, Jakarta, Rabu (17/1/2018) .

Adapun tahapan gerhana bulan total yang bisa disaksikan adalah berikut ini:
Kontak penumbra pertama 17.51 WIB
Kontak umbra pertama 18.48 WIB
Kontak total pertama 19.51 WIB
Puncak gerhana 20.29 WIB
Kontak total terakhir 21.07 WIB
Kontak umbra terakhir 22.11 WIB
Kontak penumbra terakhir 23.08 WIB.

Berdasar hitungan astronomis, Rabu 31 Januari 2018, seluruh wilayah Indonesia akan terkenal fenomena Gerhana Bulan Total (GBT). Proses GBT dimulai pada pukul 17.51 WIB dan berakhir pada pukul 23.08 WIB.

Dikutip dari planetarium.jakarta.go.id, GBT dapat disaksikan di semua wilayah Indonesia. Namun, tahapan gerhana yang relatif dapat mudah diamati oleh awam adalah mulai pukul 18.48 WIB hingga pukul 22.11 WIB.

Saat inilah bulan memasuki bayang-bayang utama (umbra) bumi. Wajah bulan, yang seharusnya dalam fase purnama, sebagian menjadi gelap. Hal ini membuat wajah bulan di bagian tepi menjadi agak cekung.

Peristiwa GBT aman dilihat dengan mata telanjang tanpa alat bantu semisal binokuler (kèkeran) atau teleskop (teropong). Tidak berbahaya bagi kesehatan mata. Namun, tatkala melihat dengan alat bantu optik dan mengamati bulan dalam fase purnama cukup menyilaukan. Jadi, tidak pula disarankan berlama-lama terlebih cuaca cerah.

Bagi sebagian, dampak terlalu silau juga membuat tidak nyaman (kadang pusing). GBT ini termasuk dalam kategori seri Saros 124 dan merupakan gerhana ke 49 dari total 74 kali dalam seri tersebut. Dalam hal ini, gerhana seri Saros 124 yang berikutnya (ke 50) akan terjadi 18 tahun lagi. (Yusron Fahmi)

Sumber: Liputan6

Advertisement