Memetik Buah Manis Piala Presiden 2018

Memetik Buah Manis Piala Presiden 2018

Piala Presiden 2018 | Liputan6

Metro Merauke – Gong ajang bergengsi Piala Presiden 2018 ditabuh Selasa (16/1) sore. Di Stadion Gelora Bandung Lautan Api, Bandung, Jawa Barat, turnamen pramusim ini resmi dibuka Presiden RI, Joko Widodo.

Tuan rumah Persib Bandung dan PSMS Medan sukses mengamankan langkah pertama mereka. Persib menang 1-0 atas Sriwijaya FC, sementara PSMS menekuk PSM Makassar 2-1.

Menariknya, meski hanya bertajuk “ajang pramusim” terlihat betul tim-tim tetap tampil ngotot di lapangan. Setidaknya, itu tergambar dari dua laga awal Piala Presiden 2018 ini.

Persib, meski akhirnya menang, harus bersusah payah menaklukkan Sriwijaya FC. Begitu juga dengan PSMS yang sempat keteteran menghadapi PSM.

“Kami sudah menjadi sebuah tim yang sangat baik dan kuat karena di‎ pertandingan ini kami main 90 menit. Berbeda dengan uji coba sebelumnya. Kami main hanya 80 menit,” pelatih Persib, Mario Gomez, menganalisis performa pasukannya di debut Piala Presiden 2018.

Namun begitu, pelatih asal Argentina ini tetap memberi evaluasi terhadap penampilan Michael Essien dan kawan-kawan. “Kami harus mencari cara bagaimana bermain dengan atau tanpa bola, kita terlalu cepat kehilangan bola. Kita masih punya waktu untuk perbaiki itu,” ujarnya.

Sejatinya, Piala Presiden 2018 yang disiarkan oleh Indosiar dan O Channel, memang bisa jadi ajang pemanasan, pemantapan bagi klub peserta, sebelum tampil di ajang sesungguhnya, Liga 1 2018 yang rencananya digelar Awal Maret mendatang.

Di Piala Presiden edisi ketiga ini, yang diikuti 20 tim, banyak yang bisa dilakukan klub untuk memantapkan komposisi tim mereka. Bagi pelatih, berbagai eksperimen bisa dilakukan demi mendapatkan komposisi idaman.

Mulai dari utak-atik formasi dan strategi, memberi menit bermain kepada pemain muda, mengasah amunisi lama, sampai mencoba pemain-pemain baru, lokal dan asing, jadi menu utama yang bisa “dipilih” setiap tim dan pelatih di Piala Presiden ini.

Pasalnya, berbagai aturan yang diberlakukan juga sangat mendukung. Setiap tim misalnya, diperkenankan mendaftarkan total 36 pemain di Piala Presiden. Maksudnya jelas, agar pelatih memiliki opsi yang lebih banyak.

Selain itu, ada juga aturan yang meminta setiap tim memasukkan tujuh pemain U-23. Memang, tak ada kewajiban memainkan mereka. Namun, dengan adanya tujuh pemain muda tersedia, bukan tak mungkin para pelatih tergugah mencoba mereka.

Ini telah diterapkan Persib saat menurunkan Puja Abdillah, debutan berusia 21 tahun. Sementara pelatih Rahmad Darmawan di Sriwijaya FC, menurunkan Syahrian Abimanyu, jebolan timnas U-19.

Ada juga ketentuan yang menyebut klub diperbolehkan mendaftarkan total enam pemain asing. Ketentuan ini membuat klub cukup leluasa untuk menyeleksi pemain-pemain asing mereka.

Jika pun mereka sudah tersingkir di fase grup, klub setidaknya punya tiga pertandingan, menghadapi tim-tim yang relatif berimbang, ntuk menguji pemain asingnya. Ini jelas keuntungan bagi klub.

Tak heran, aturan ini dimanfaatkan betul oleh klub-klub peserta. Sriwijaya FC misalnya, langsung mendaftarkan Yu Hyun Koo, Makan Konate, Mamadou Ndiaye, Manucechr Dzalilov, Alberto Goncalves, dan Esteban Viscarra sebagai pemain asing mereka.

“Saya ingin semua pemain punya kesempatan dan menit bermain yang cukup,” ujar Rahmad Darmawan.

Enam pemain asing tersebut, semuanya memang sudah dikontrak manajemen Sriwijaya. Harapan mereka, dua nama terakhir Beto dan Viscarra bisa segera selesai proses naturalisasinya.

Kondisi ini berbeda dengan Perseru Serui, misalnya. Mereka membawa tiga pemain asing: Ata Geldiyev (Turkmenistan), Kader Coulibaly (Pantai Gading), dan Ricardo Sendra (Argentina) untuk diseleksi di Piala Presiden ini.

Begitu juga dengan Persela Lamongan. Tim asuhan Aji Santoso ini salah satunya menyertakan nama gelandang asal Argentina, Gaston Castano, yang sudah kenyang asam-garam sepak bola Indonesia.

Sementara tim promosi PSMS Medan mendaftarkan lima pemain asing, dua di antaranya sudah dikontrak. Semua ini bisa dilakukan karena ada regulasi yang membolehkan klub mendaftarkan pemain asing yang belum dikontrak.

Syaratnya, sang pemain asing sudah memiliki izin memperkerjakan tenaga asing (IMTA) atau kartu izin tinggal sementara (kitas).

Namun begitu, ya itu tadi. Fakta-fakta ini dijamin tak akan mengurangi tingkat keseruan duel-duel yang tersaji. Justru kita bisa berharap aksi-aksi gemilang dari pemain-pemain seleksi untuk menunjukkan kemampuan terbaik mereka.

Jika, “beruntung”, juga ada bonusnya. Sebab, hadiah uang untuk penghargaan-penghargaan individu juga tak sedikit. Untuk pemain terbaik misalnya, akan mendapat hadiah uang sebesar Rp 250 juta. Sementara untuk pencetak gol terbanyak dan pemain muda terbaik diiming-imingi prize money sebesar Rp 150 juta.

Bagi klub, menjadi yang terbaik di Piala Presiden tentu saja merupakan sebuah pencapaian dan gengsi tersendiri. Selain itu, hadiah uang sebesar Rp 3,3 miliar untuk sang juara, tentu juga cukup menggiurkan. (Edu Krisnadefa)

Sumber: Liputan6

Advertisement