Potret Anak SD di Maluku Setelah Hadirnya Program Generasi Sehat Cerdas (GSC)

Potret Anak SD di Maluku Setelah Hadirnya Program Generasi Sehat Cerdas (GSC)

Anak-Anak penerima bantuan GSC | Dokumentasi pevpermadi

Metro Merauke – Kemiskinan adalah keadaan di mana terjadi ketidakmampuan untuk memenuhi kebutuhan dasar seperti makanan, pakaian, tempat berlindung, pendidikan, dan kesehatan, hal ini menyebabkan sebagian masyarakat kita hidup tidak berkecukupan, bahkan berkekurangan dan tidak bisa memenuhi segala kebutuhannya tersebut.

Olehnya itu kemiskinan menjadi prioritas pemerintah, melalui program-program pemberdayaan masyarakat, seperti Program Generasi Sehat dan Cerdas (GSC) yang merupakan salah satu progam pemerintah dalam rangka penanggulangan kemiskinan guna mendukung pencapaian target Sustainable Development Goals (SDG’s) di bidang pendidikan dan kesehatan.

Di Provinsi Maluku, cakupan GSC ada di 24 kecamatan dari tiga kabupaten yakni, Maluku Tengah, Maluku Tenggara dan Maluku Tenggara Barat, yang sudah berjalan sejak tahun 2012. Kehadiran GSC di tengah masyarakat sangat membantu mereka yang kurang mampu, hal ini dapat terlihat dengan bantuan-bantuan yang disalurkan tersebut masih digunakan meski sudah bertahun lamanya.

Misalnya di Desa Alusi Batjas, Kecamatan Kormomolin Kabupaten Maluku Tenggara Barat (MTB) merupakan salah satu Desa yang diintervensi oleh Program GSC sejak tahun 2012 lalu. Memiliki jumlah penduduk sebanyak 547 Jiwa, yang terdiri dari 160 Kepala Keluarga. Berdasarkan penilaian desa pada tahun 2014 tingkat kemandirian desa masih kurang sehingga Desa Alusi Batjas masih berstatus desa tertinggal.

Pada tahun 2015, Desa Alusi Batjas mendapat alokasi BLM dari GSC sebesar Rp 54.619.000 yang terbagi untuk kegiatan pendidikan, kesehatan dan dukungan layanan, 70 % dari total alokasi tersebut atau sebesar Rp 38.050.000 diperuntukkan untuk kegiatan pendididikan antara lain pengadaan furnitur, pengadaan kamus, dan perlengkapan sekolah. Khusus untuk perlengkapan sekolah, diberikan kepada 98 pemanfaat.

Bangga menjadi bagian dari GSC
Michael Fasak (11 tahun) adalah salah satu penerima manfaat dari pengadaan perlengkapan sekolah pada tahun 2015, berupa tas. Tidak terasa kini sudah memasuki tahun kedua tas biru bergambar Logo GSC itu masih digunakan dengan baik oleh Michael, meskipun sudah terlihat kusam, namun anak dari pasangan Maria Titirloloby dan Yohanis Fasak itu, selalu setia memakainya saat ke sekolah. Padahal kebanyakan di antara para pelajar yang memasuki tahun anggaran baru, pastilah memiliki perlengkapan sekolah yang baru pula, namun itu tidak berlaku bagi mereka yang hidupnya berkecukupan. Seperti halnya Michael, dia menggunakan tas itu dan bangga menjadi bagian dari GSC, saat ini dia tinggal bersama kakek dan neneknya yang berprofesi sebagai petani, karena kedua orang tua harus bekerja di Kota Sorong, Papua Barat.

Menurut Agustina E. Tekndekut mantan Fasilitator Kecamatan Kormomolin (kini menjadi FK Amahai), bahwa saat penyaluran bantuan tersebut masyarakat sangat antusias dan senang atas kehadiran GSC di Desa Alusi Batjas. Kepedulian GSC terhadap masyarakat ini sebagai bentuk perhatian Pemerintah dalam mewujudkan pemerataan pemenuhan pendidikan.

Melihat kondisi Michael Fasak, mestinya ini menjadi motivasi bagi kita, untuk terus peduli pada mereka yang masih membutuhkan uluran tangah khususnya peningkatan mutu pendidikan. Pihak pelaku GSC pun ikut bangga karena bantuan yang telah disalurkan benar-benar bermanfaat bagi masyarakat.

GSC dan Nawacita Presiden
Apa yang sudah dilakukan oleh Fasilitator GSC di lapangan telah sejalan dengan nawacita Presiden nomor 3 dan 5, GSC juga turut membangun negeri dari pinggiran, Meningkatkan kualitas hidup manusia Indonesia melalui peningkatan kualitas pendidikan dengan menyediakan perlengkapan sekolah bagi masyarakat dari kalangan rumah tangga miskin yang tak lain merupakan generasi penerus Indonesia.

Menurut salah satu Konsultan Manajemen Nasional (KMN) Spesialis Pendidikan, Pepi Permadi saat dihubungi usai melakukan kunjungan dinas ke Desa Alusi Batjas beberapa waktu lalu, bahwa biaya personal siswa kerapkali tidak dapat dipenuhi orang tua karena alasan ekonomi. Hal tersebut menjadi penyebab anak putus sekolah. Bantuan Seragam & ATS menumbuhkan motivasi dan rasa percaya diri anak untuk terus bersekolah.

Dirinya juga berharap pada pasca program nanti kepedulian masyarakat atas masalah ketidak mampuan biaya personal ini dapat terus melembaga dan mendapat perhatian dari pemerintah desa.

Pendidikan sangatlah penting di dalam kehidupan manusia. Maka konsekwensinya adalah bagaimana menyediakan sarana pendidikan yang tepat dalam menyiapkan sumber daya manusia untuk menghadapi pembangunan yang terus berjalan seiring dengan perkembangan zaman. Mari bekerja sama untuk mewujudkan generasi Indonesia yang cerdas dan berkualitas. (RL)

Sumber: Kompasiana

Advertisement