Bak Superman, Keluarga Ini Tidak Bisa Merasakan Sakit

Bak Superman, Keluarga Ini Tidak Bisa Merasakan Sakit

Bak pahlawan super, seluruh anggota keluarga ini tidak bisa merasakan sakit | Liputan6

Metro Merauke – Superman, pahlawan yang memiliki kekuatan super. Selain bisa terbang dan kuat, superman kebal dengan serangan apapun dan tidak bisa merasakan sakit. Layaknya Superman, keluarga ini tidak bisa merasakan sakit.

Letizia Marsili (52 tahun) adalah wanita Italia yang tidak pernah merasakan sakit. Marsili menyadari kekebalan tubuhnya sejak ia masih kecil. Pada saat itu Marsili mengalami cidera luka bakar hingga patah tulang, namun Marsili tidak merasakan sakit dari cidera yang ia dapat.

Tidak hanya Marsili, dari tiga generasi keluarga besar Marsili, lima orang diantaranya juga tidak bisa merasakan sakit. Hal ini membuat mereka tidak perlu menggunakan anestesi untuk menghilangkan rasa sakitnya.

Kondisi aneh yang diidap Marsili membuatnya menjadi objek penelitian para peneliti. Peneliti ingin melihat bagaimana sel dalam tubuh Marsili bekerja. Para peneliti berharap menemukan cara baru untuk mengobati rasa sakit. Peneliti menamakannya “The Marsili Syndrome”.

Foto: Letizia Marsili/Facebook

“Setiap hari, kami menjalankan hidup yang sangat normal. Mungkin kami hidup lebih baik daripada orang lainnya. Kami tidak bisa merasakan sakit,” kata Marsili dilansir dari BBC. Marsili mengaku ia merasakan sakit namun hanya untuk beberapa detik saja. “Kami bisa merasakan sakit, namun hal itu terjadi hanya beberapa detik saja,” kata Marsili melanjutkan.

Meskipun keluarga ini tidak bisa merasakan sakit, hal ini bukanlah berarti bagus untuk mereka. Sakit merupakan tanda bahwa tubuh seseorang sedang tidak baik dan harus segera diobati. Karena keluarga Marsili hanya merasakan sakit beberapa detik saja, mereka sering membiarkan luka tersebut dan tidak mengobatinya. Hal ini tentu berbahaya, karena jika tidak segera diobati akan menimbulkan kerusakan yang serius.

Hal ini terjadi pada putra Marsili bernama Ludovico. Suatu hari Ludovico bermain sepak bola, Ludovico sering mendapatkan cidera, namun ia terus bermain karena tidak merasakan sakit. “Dia terus bermain hingga waktu permainan habis, tidak peduli dia terluka atau apapun itu. Namun saat diperiksa pergelangan kakinya harus mendapatan pengobatan yang seius,” terang Marsili.

Selain Ludovico, putra bungsunya yang bernama Bernado mengalami cidera patah tulang sendi pada sikunya saat bermain sepeda. Namun Bernado tidak sadar bahwa sendi pada sikunya telah patah. Bernado terus bermain sepeda.

Marsili sendiri pernah mematahkan tulang bahu kanannya pada saat ia bermain ski. Seperti kedua putranya, Marsili tetap terus bermain ski sepanjang hari. Keesokan harinya Marsili baru ke dokter karena ia merasakan rasa geli di jari-jari tangannya.

Marsili mengaku bahwa senang tidak bisa merasakan sakit seperti kebanyakan orang alami. Keluarga ini pun menjawab “tidak” ketika ditanya apakah mereka ingin merasakan sakit seperti orang normal.

James Cox dari University College London mengatakan bahwa keluarga Marsili memiliki semua saraf seperti orang pada umumnya tapi tidak berfungsi sebagaimana mestinya.

“Kami mencoba memahami mengapa mereka tidak merasakan sakit, dan jika kita memahami hal ini, kita akan menemukan penemuan baru, menemukan cara baru pengganti anestesi,” ujar Cox dilasir dari BBC.

Setelah peneliti selesai memetakan genetika keluarga Marsili, peneliti meneukan gen yang disebut ZFHX2. Peneliti melakukan tes kepada tikus yang tumbuh dengan mutasi genetik ini. Para tikus itu juga tidak menyadari rasa sakit. Saat ini para peneliti terus bereksperimen mencari gen yang bisa menyebabkan Marsili Syndrome.

“Kami berusaha untuk menemukan cara baru dalam mengatasi rasa sakit,” kata Anna Maria Aloizi, seorang profesor Universitas Siena di Italia. (Reza Sugiharto)

Sumber: Liputan6

Advertisement