Yang Kritis Menjadi Skeptis Berakhir Tragis

Yang Kritis Menjadi Skeptis Berakhir Tragis

Foto: Shutterstock

Oleh: DR.dr.Tan Shot Yen,M.hum.

Dunia kesehatan kita sedang dirundung Kejadian Luar Biasa (KLB), berupa bangkitnya penyakit Difteri. Kasus fatal tidak hanya menghantui usia balita, tapi juga sudah merenggut nyawa dewasa. Penolakan vaksinasi atau imunisasi yang dijalankan setengah-setengah menjadi faktor penyebab wabah tersebut.

Sangat menarik untuk kita amati reaksi berbagai komunitas dan kalangan menghadapi ancaman infeksi yang serius ini. Bahkan, ada sebagian orang yang menganggapnya sebagai hoax (saking sudah terlalu banyaknya berita bohong, barangkali) dan pihak pemda yang menolak wilayahnya disebut terjangkit KLB, akibat belum paham kriteria KLB yang sebenarnya.

Saat saya berbincang dengan beberapa teman perihal keengganan orang memberi vaksinasi ke anaknya, ada orang yang begitu gregetan hingga melontarkan kata-kata cukup pedas,”Tunggu saja sampai ada keluarganya yang kena, nah… baru tahu dia!”. Sejenak saya berpikir keras, apa yang salah ya dengan semua program preventif promotif, sehingga tidak mendapat antusiasme publik. Padahal, jelas-jelas bertujuan melindungi semua orang dari kesakitan, kecacatan bahkan kematian?

Mau tak mau, kita harus melihat kembali ke belakang, memutar semua rekaman masa lalu yang sebetulnya menjadi oto-kritik pelaku dunia kesehatan. Sayangnya, umpan balik seperti ini tidak pernah dibahas apalagi ditanggapi serius untuk memodifikasi cara pendekatan yang lebih baik.

Mulai dari vaksin palsu yang melunturkan rasa kepercayaan publik, hingga proses edukasi yang lebih bersifat seperti menuntut kepatuhan ketimbang pemahaman.

Tidak hanya urusan vaksinasi, hal mirip-mirip serupa terjadi belakangan ini – publik lebih mempercayai pelbagai himbauan kesehatan yang katanya ‘alami’ (tapi lebih banyak hoax-nya) ketimbang mendengar nasehat dokter, apalagi menjalankan prosedur tindakan medik yang jelas-jelas mempunyai dasar pembuktian yang ilmiah.

Kondisi tersebutlah yang kemudian dimanfaatkan habis-habisan oleh orang-orang yang punya keahlian menjual pil ajaib dan tongkat mujarab. Tingginya kecepatan penyampaian informasi dan tunggang langgang berita membuat publik terpapar dengan banyak sensasi ketimbang edukasi.

Lihat betapa girasnya pelacak berita membeberkan semua kejadian miris dan mengundang emosi di pelosok daerah, mulai dari anak kurang gizi hingga kejadian heboh pasca imunisasi – ketimbang menampilkan data berapa banyak anak terselamatkan dari diare berkat dijalankannya Perilaku Hidup Bersih Sehat.

Hal yang sama, kisah penyintas kanker di internet kurang pembacanya ketimbang berita berseri-seri tentang artis penderita kanker stadium akhir, yang akhirnya juga meninggal setelah menghabiskan ratusan juta demi kemoterapi dan berulangkali operasi. Tebak, apa yang ditangkap awam yang sedang berusaha mengkritisi situasi?

Skeptisisme publik terhadap layanan kesehatan konvensional makin hari makin mengkhawatirkan, walaupun akhirnya mereka memaksa untuk diberi tindakan medik saat sudah kritis dan gawat. Seakan-akan masuk UGD atau ICU meloloskan orang dari sakratul maut.

Saat pengantar pasien gugup dan kalap, dokter dan tenaga kesehatan lainnya rentan terhakimi di tempat, minimal menjadi sasaran perundungan karena persepsi istilah atau jenis tindakan antara keluarga pasien dan dokter tidak sama.

Kekisruhan dalam hitungan menit bertambah runcing saat tenaga kesehatan tidak fasih berkomunikasi efektif. Kehebohan ini terekam pula oleh kamera jurnalis dan lekas tersebar dengan bahasa sensasional, menghasilkan opini publik yang viral. Otokritik terhadap layanan kesehatan sudah waktunya kita hadapi dengan lapang dada. Disinilah letaknya reformasi.

Sudah tidak jaman lagi slogan-slogan retorika dan semboyan-semboyan klasik cuma jadi hafalan saat pejabat pusat kunjungan kerja ke daerah. Faktanya, layanan kesehatan masih menggunakan pendekatan yang sama. Tidak cukup juga istilah petugas kesehatan yang ramah, sementara isi pembicaraan hanya basa-basi, karena angka kematian ibu dan bayi masih tinggi.

Cakupan imunisasi masih rendah. Orang lebih berebut beli sari kurma di musim demam berdarah ketimbang pergi ke sarana kesehatan. Parameter keberhasilan upaya preventif dan promotif memang sulit ditemukan. Apalagi jika ingin dijabarkan secara statistik. Belum lagi perubahan isi ‘piring makanku’ dan asupan sayur buah hingga 600 gram per hari seperti anjuran Kemenkes sebagai pencegahan terhadap sekian banyak Penyakit Tidak Menular seperti hipertensi, stroke, diabetes, kanker.

Jika upaya yang jelas-jelas mencegah penyakit menular saja masih mempunyai begitu banyak kendala dan hambatan, apalagi ‘anjuran’ hidup sehat untuk mencegah diabetes dan hipertensi yang masih dianggap penyakit keturunan?

Negeri kita membutuhkan niat baik dan upaya tanpa pamrih dari banyak pihak, untuk membuat keraguan dan sikap skeptis menipis hingga akhirnya sirna. Nalar publik yang kritis perlu dikenyangkan dengan pemahaman utuh, bukan penjelasan sepotong-sepotong apalagi tuntutan kepatuhan untuk hidup sehat.

Sebab, siapa sih nekat mau menjajal hidup menderita akibat penyakit, atau terjebak dalam situasi kritis mengancam nyawa? Setiap penolakan, resistensi, hendaknya menjadi teguran bagi kita: ada apa? Jaman berubah, masyarakat berubah, cara berkomunikasi dan pendekatan edukasi pun (mestinya) berubah.

Jangan-jangan, kita masih berandai-andai hidup seperti di masa lalu, di mana segala sesuatunya bisa diredam dengan ancaman dan saling menyalahkan. Semoga tidak. (Penulis adalah Dokter, ahli nutrisi, magister filsafat, dan penulis buku)

Sumber: Kompas Kolom

Advertisement