Perempuan yang Jalan Darat dari Indonesia ke Afrika, Sendirian

Perempuan yang Jalan Darat dari Indonesia ke Afrika, Sendirian

Wanita asal Jakarta ini keliling dunia dalam 4 bulan ke 18 negara termasuk Rusia dan Tiongkok, hingga tiba di tujuan akhirnya di Maroko | Doc: Instagram.com/Cyapila

Metro Merauke – Ada banyak dari kita bermimpi bisa keliling dunia, namun yang benar-benar mewujudkannya bisa dihitung dengan jari. Famega Syavira Putri satu di antaranya.

Famega keliling dunia, dengan perjalanan darat dari Indonesia ke Afrika melewati 18 negara dan 44 kota selama lebih dari 4 bulan. Dia menempuh 23.181 kilometer dalam perjalanan ini, atau lebih dari setengah lingkar bumi.

Perjalanannya dari Indonesia dimulai dari Dumai, menyeberang dengan kapal ke Malaka, Malaysia. Dari Malaysia, dia melanjutkan perjalanannya dengan bus dan kereta ke Thailand, Laos dan Vietnam. Jalan darat di daerah ini artinya menyusuri jalanan yang bergelombang dan sempit, dan kesabaran ekstra menunggu antrean di perbatasan darat.

Dari Hanoi, dia naik kereta ke Tiongkok, lalu berkereta ke Mongolia. Selama seminggu dia menjelajahi negeri asal Jengis Khan itu. Famega lalu melintasi Rusia dengan menyusuri jalur kereta Trans Siberia sejauh 6000 km dari Ulan Ude hingga Moskow, lalu melanjutkan perjalanan ke St Petersburg. Selanjutnya adalah melintasi Uni Eropa dan singgah di Estonia, Latvia, Lithuania, Polandia, Republik Cek, Swiss, Perancis, dan Spanyol. Dari Tarifa, Spanyol, Famega menyeberangi Selat Gibraltar dengan kapal sebelum menginjakkan kakinya di Benua Afrika, tepatnya di Kota Tangier, Maroko.

Seluruh perjalanan ini dilalui dengan jalan darat dan laut tanpa sekali pun menggunakan pesawat terbang. Kecuali sekali di Praha, saat dia memutuskan untuk naik pesawat tapi tidak ikut saat pesawat itu mendarat — karena dia melompat dari atas pesawat, alias terjun payung tandem.

Menurut Famega, perjalanan darat adalah cara untuk melihat berbagai tempat secara lebih dekat. Dengan melakukan perjalanan sendirian, dia seperti dipaksa untuk bersosialisasi dan mengobrol dengan orang-orang asing yang ditemui di sepanjang perjalanan. “Makin banyak kota dan negara yang dilewati, mereka makin nampak serupa. Yang membuatnya berbeda adalah kebaikan hati dan cerita orang-orang yang pernah saya temui di sepanjang jalan,” kata dia. (Sulung Lahitani Mardinata)

Sumber: Liputan6

Advertisement