Peringati Noken sebagai Warisan Dunia, Sorong Adakan Pawai Budaya

Peringati Noken sebagai Warisan Dunia, Sorong Adakan Pawai Budaya

Pawai Budaya Sorong | Jersy Allen/detikTravel

Metro Merauke – Ratusan masyarakat Sorong mengadakan pawai budaya memperingati noken. Jajaran pakaian suku asli dan iringan musik suling tambur memeriahkan arak-arakan pawai.

Ratusan masyarakat dari seluruh Sorong Raya, Senin sore (04/12) menggelar pawai budaya di ruas Jalan Jendral Ahmad Yani, Kota Sorong. Kegiatan ini untuk memperingati pengakuan noken sebagai warisan budaya dunia oleh Unesco. Semua peserta pawai wajib mengenakan noken sebagai asesorisnya.

Hari ini, tepat lima tahun lalu badan dunia UNESCO mengakui noken sebagai tas asli orang Papua dan salah satu warisan duia. Memperingati momen bersejarah itu, ratusan perwakilan masyarakat dari seluruh wilayah Sorong Raya menggelar pawai budaya di ruas jalan Ahmad Yani, mulai dari kawasan Sorpus menuju Lapangan Hocky, Kota Sorong.

Dengan mengenakan pakaian suku-suku asli di wilayah Sorong Raya, lengkap dengan suling tambur dan tentunya lengkap dengan noken sebagai asesorisnya. Para peserta pawai berjalan sambil menunjukan noken sebagai tanda rasa bangga, karena noken kini telah menjadi warisan budaya dunia.

Noken pertama kali diusulkan oleh Piet Pigai ke UNESCO sebagai warisan budaya dunia pada 4 Agustus 2005. Namun baru diakui UNESCO sebagai warisan bidaya dunia pada 4 Desember 2012. Dengan pengakuan ini, noken Papua bukan saja menjadi warisan budaya 250 suku-suku di Papua dan Papua Barat, namun milik semua warga dunia.

Menurut peyelenggara dari Komunitas Pencita Noken Papua, tujuan kegiatan ini untuk mengingatkan kaum muda Papua, bahwa warisan budaya nenek moyang mereka telah diakui dunia. Serta menggugah Pemda Papua Barat, agar dapat menetapkan satu hari, sebagai hari wajib menggunakan noken sebagai asesorisnya.

“Misalnya Pemda menetapkan hari wajib menggunakan noken, hal ini akan berdampak langsung kepada mama-mama Papua, kami hanya sebagai fasilitator saja. Ini adalah ajang mama-mama Papua. Jika ada seribu atau tiga ribu pegawai diwajibkan pakai noken di hari-hari tertentu, maka pasti mereka akan membeli noken ke mama-mama Papu, sehingga akan mengangkat taraf ekonomi mereka.” Ujar Markus Wafom, Ketua Komunitas Pencinta Noken Papua. (bnl/bnl)

Sumber: Detik

Advertisement