Mencicipi Ganja, Pendongkrak Stamina ala Jeneponto

Mencicipi Ganja, Pendongkrak Stamina ala Jeneponto

Foto: Liputan6.com/Eka Hakim

Metro Merauke – Jeneponto merupakan salah satu Kabupaten di Sulawesi Selatan yang cukup terkenal dengan kuliner khasnya yang bernama Gantala Jarang atau akrab disebut ganja.

Ganja sendiri mudah ditemukan dalam berbagai acara sakral dan resmi yang digelar masyarakat adat Kabupaten Jeneponto, di antaranya dalam acara pernikahan, khitanan, hingga kegiatan adat.

Karaeng Puji, warga Batang Kabupaten Jeneponto, Sulsel mengatakan gantala jarang merupakan kuliner khas yang berbahan baku daging kuda. Selain diyakini sebagai obat anti sakit tetanus, makanan ini juga diyakini sebagai penambah stamina.

“Kaum lelaki di sini malah menganggap sebagai obat menambah kejantanan atau menjadi pria perkasa,” kata Puji kepada Liputan6.com, Minggu, 3 Desember 2017.

Dahulunya, lanjut Puji, ganja merupakan makanan spesial yang dihidangkan para bangsawan di Kabupaten Jeneponto ketika menggelar sebuah acara adat. Kuliner khusus ini dihidangkan untuk para tamu yang menghadiri acara tersebut.

“Sekarang ini sudah umum, ganja dapat ditemukan di setiap acara biasa yang digelar masyarakat seperti sunatan. Selagi mereka mampu membeli daging kuda yah ganja pasti ada,” Puji menerangkan.

Proses Unik Pembuatan Ganja
Selain rasanya yang unik dan sederhana, ganja ala Kabupaten yang dikenal dengan nama Butta Turatea tersebut memiliki ciri khas dalam proses pembuatannya. Hampir semua kaum lelaki terlibat selama proses pengolahan bahan baku ganja yang terdiri dari daging kuda beserta tulang-belulangnya.

“Daging beserta tulang belulangnya dimasak bersama dalam wadah drum yang dibuat mirip kuali di atas panggangan api kayu bakar,” jelas dia.

Bahan-bahan yang digunakan dalam membuat ganja pun, sambung Puji, selain mudah ditemukan di pasar tradisional, juga tak lebih dari dua bahan rempah untuk membuat air karinya.

“Bahan rempahnya itu cukup garam dan vetsin (penyedap rasa). Kebetulan garam itu banyak di sini karena Jeneponto memang terkenal dengan penghasil garam,” dia menuturkan.

Pengolahannya pun, tak rumit, yaitu daging kuda dan tulang belulangnya yang telah dipotong-potong sesuai keinginan terlebih dahulu dicuci bersih. Kemudian dimasukkan ke dalam air mendidih hingga melalui proses perebusan beberapa menit.

Saat daging rebusan telah matang, bahan berupa garam dan vetsin ditaburkan ke dalam air rebusan daging dan tulang belulang kuda tadi.

“Setelah matang, ganja siap dihidangkan dengan taburan bawang goreng dan sambal pedis,” Puji menandaskan. (Eka Hakim)

Sumber: Liputan6

Advertisement