Bhin-Bhin, Atung, Ika Menantang Zabivaka Sang Serigala

Bhin-Bhin, Atung, Ika Menantang Zabivaka Sang Serigala

Burung Cendrawasih | Republika

Metro Merauke – Bhin-bhin, Atung, Ika. Demikian nama dari masing-masing maskot Asian Games 2018 yang sosoknya diambil dari wujud satwa khas Indonesia, yakni burung cenderawasih, rusa bawean, dan badak cula satu. Hingga penyelenggaraan Asian Games ke-18 di Jakarta dan Palembang 18 Agustus -2 September tahun depan, tiga sosok itu akan terus dipakai sebagai media promosi dalam berbagai bentuk dan penggunaannya sebagai maskot resmi.

Delapan bulan menuju perhelatan akbar empat tahunan itu, sosok Bhin-bhin, Atung, Ika sudah menghiasi berbagai tempat di Tanah Air. Tidak hanya di kawasan Senayan Jakarta dan Jakabaring Palembang, maskot Asian Games ini juga dapat dengan mudah ditemui di berbagai tempat, dan dalam berbagai bentuk media publikasi. Mulai dari spanduk-spanduk di tepi jalan, billboard, tayangan televisi hingga melalui e-media pada rangkaian kereta api.

Bhin-Bhin, Atung dan Ika mulai diperkenalkan pada Juli 2016. Maskot ini menggantikan maskot sebelumnya “drawa” yang setelah diluncurkan justru banyak mendapat kritik masyarakat. Kemenpora kemudian menggandeng Badan Ekonomi Kreatif untuk merancang ulang maskot dan logo baru Asian Games, serta membuat sayembara yang dimenangi Jefferson Edri dari Feat Studio.

Sekretaris Kemenpora Gatot Dewa Broto mengatakan, bahwa kritik-kritik yang sempat muncul terkait logo dan maskot justru bermakna positif karena sebagai bentuk kepedulian untuk Asian Games 2018. “Adanya berbagai reaksi ini memperlihatkan bahwa di tengah masyarakat sudah ada rasa memiliki terhadap Asian Games di Indonesia,” katanya.

Maskot tidak lepas dari penyelenggaraan suatu ajang olahraga. Baik itu tingkat internasional seperti Olimpiade, Piala Dunia dan Asian Games, maupun ajang-ajang tingkat nasional, bahkan pesta olahraga tingkat daerah pun selalu memperkenalkan maskotnya untuk media promosinya.

Sosok hewan merupakan yang paling sering digunakan untuk maskot ajang olahraga. Misalnya, pada Asian Games 2014 di Incheon, tuan rumah memperkenalkan karakter anjing laut, kemudian SEA Games 2017 memakai harimau, sedangkan pada Olimpiade 2016 di Rio de Janerio, penyelenggara menciptakan “vinicius” sebagai maskot yang sosoknya merupakan penggabungan dari beberapa jenis hewan.

Bhin-Bhin, Atung, Ika, mewakili sejumlah pesan bagi masyarakat dunia, khususnya Asia, untuk menyukseskan Asian Games 2018 di Indonesia. Burung cendrawasih, yang sosoknya dijadikan sebagai Bhin-Bhin, dikenal sebagai “burung surga” karena keindahannya. Burung dengan nama latin Paradisaeidae ini ditemukan di Papua, dan kini masuk dalam satwa yang dilindungi berdasarkan UU No-5/1990 dan PP RI No. 7/1999.

Keindahan burung cenderawasih khususnya ketika burung jantan mengembangkan ekornya yang berwarna cerah untuk memikat betina. Makin berkurangnya kawasan habitatnya karena konversi hutan menjadi lahan industri, dan juga perburuan liar mengancam eksistensi cenderawasih. Selain masih adanya perdagangan ilegal cenderawasi hidup, burung ini juga laku dijual dalam bentuk yang sudah diawetkan.

Sementara sosok Atung adalah rusa bawean, satwa khas Indonesia yang hanya ditemukan di Pulau Bawean, Jawa Timur. Rusa Bawean (axis kuhlii) umumnya hidup berkelompok dan aktif mencari makan pada malam hari. Ciri rusa ini antara lain badannya ramping dan dapat berlari sangat cepat, oleh sebab itu sebagai maskot Asian Games, Atung menggambarkan simbol kecepatan.

International Union for Conservation of Nature and Natural Resources (IUCN), organisasi internasional yang didedikasikan untuk konservasi sumber daya alam, memasukkan rusa bawean dalam status “critically endangered” sebagai satwa yang harus dilindungi dari kepunahan. Populasinya di alam bebas diperkirakan tinggal sekitar 300-400 ekor.

Sedangkan sosok Ika dalam maskot Asian Games 2018 diambil dari satwa badak bercula satu yang habitatnya tinggal di Ujung Kulon, Jawa Barat. Badak cula satu atau sering disebut sebagai badak jawa (Rhinocerus sondaicus) merupakan satu dari lima spesies badak yang masih tersisa di dunia. Populasinya terus menurun sehingga di habitat asilnya di Taman Nasionanl Ujung Kulon pun sulit untuk menemui satwa ini.

Menurut laporan Balai Taman Nasional Ujung Kulon tahun 2015, hasil perhitungan kumulatif jumlah badak cula satu yang hidup di kawasa hutan lindung itu tinggal 63 ekor, terdiri atas 35 ekor jantan dan 28 betina.

IUCN juga menetapkan hewan ini dalam status sangat terancam (critically endangered). Hewan yang memiliki kulit tebal seperti rompi baja dan bobot lebih dari dua ton ini sebagai maskot Asian Games melambangkan kekuatan.

Penamaan masing-masing Maskot Asian Games 2018, Bhin-Bhin, Atung, Ika, yang jika digabung fonetiknya identik dengan semboyan bangsa Indonesia Bhinneka Tunggal Ika, juga mewakili keberagaman yang dimiliki Indonesia, namun tetap satu untuk menyongsong tamu-tamu dari berbagai negara dan bersama menyukseskan Asian Games..

Menurut Menpora Imam Nahrawii, dengan trio maskot dan logo baru ini, Indonesia sebagai tuan rumah siap menunjukkan jati diri kepada dunia melalui penyelenggaraan dan prestasi yang sukses.

Melawan serigala
Bhin Bhin, Atung dan Ika akan ikut dan menjadi duta untuk membawa misi Asian Games 2018, yakni menyebar semangat “Energy of Asia”, merebut perhatian dunia serta mendorong popularitas ajang ini.

Di antara tantangan Bhin-Bhin, Atung dan Ika dalam tugasnya adalah menjaga popularitas Asian Games adalah karena waktu-waktu penyelenggaraan ajang ini sangat berdekatan dengan ajang besar Piala Dunia 2018. Putaran final kejuaraan sepak bola sejagat ini akan berlangsung pada Juni-Juli 2018 di sejumlah kota di Rusia.

Maskot Piala Dunia 2018 Zabivaka, yang sosoknya adalah hewan serigala, sudah diperkenalkan sejak 2016 oleh FIFA dan tuan rumah Rusia. Dalam pemungutan suara yang digelar FIFA dan melibatkan jutaan orang, sosok “sang serigala pencetak gol” tersebut berhasll mengalahkan sosok harimau dan kucing.

Meskipun hanya “single event”, popularitas Piala Duinia jelas jauh lebih besar dari Asian Games. Bahkan di Indonesia sendiri, dimana sepak bola adalah olahraga paling popular, putaran final Piala Dunia 2018 yang hanya berselang sebulan sebelum Asian Games, nantinya dipastikan juga akan menjadi fokus perhatian.

Zabivaka bakal banyak terlihat beraksi dalam media-media promosi, termasuk televisi-televisi di Indonesia yang membeli hak siar Piala Dunia.

Panitia penyelenggara Asian Games Indonesia (Inasgoc) tentunya harus mempertimbangkan situasi tersebut agar demam Asian Games tahun depan tidak pupus oleh Piala Dunia. Bhin-bhin, Atung, Ika, diharapkan dapat tetap menjalankan tugasnya menyebarkan semangat “Energy of Asia” di Indonesia dan seluruh kawasan Asia, di tengah semarak Piala Dunia 2018 dengan Sang Serigalanya. (***/Agus Yulianto)

Sumber: Republika/Antara

Advertisement