Papua Bakal Punya Stadion Terbesar Kedua Setelah GBK

Papua Bakal Punya Stadion Terbesar Kedua Setelah GBK

Pekerja melintas di area renovasi Stadion Utama GBK, Jakarta, Selasa (3/10). Sejumlah pembangunan Infastruktur Asian Games dipastikan akan selesai sesuai dengan target pemerintah, yaitu akhir tahun 2017. Liputan6/Helmi Fithriansyah

Metro Merauke – Masyarakat Papua akan memiliki stadion kedua terbesar‎ setelah Stadion Gelora Bung Karno (GBK) Jakarta. Stadion yang bernama Stadion Papua Bangkit ini ditargetkan selesai pada akhir 2018.

Project Manager PT PP (Persero) Dwi Aji Wicaksono mengatakan, proyek yang mulai dibangun pada akhir 2016 tersebut saat ini masih dalam proses pembangunan. Hingga saat ini, kemajuan pembangunannya telah mencapai 29 persen.‎

“Progres sudah 29 persen, kita lebih cepat dari rencana. Jadi rencana hanya sekitar 20 persen,” ujar dia di Jayapura, Papua, seperti ditulis Kamis (23/11).

Proyek dengan kontrak senilai Rp 1,3 triliun ini memiliki total area 13,7 hektare (ha) dengan luas stadion utama 71.697 meter persegi. Selain itu, kompleks stadion juga dilengkapi dengan lapangan latihan seluas 13 ribu meter persegi dan bangunan utility seluas 450 meter persegi.

Dwi menyatakan, stadion yang berlokasi di Nolokla, Sentani, Jayapura ini memiliki kapasitas 40 ribu penonton. Dengan kapasitas sebesar ini, Stadion Papua Bangkit akan menjadi stadion kedua terbesar setelah GBK.

“Jadi ini kapasitasnya 40 ribu penonton, kalau GBK 80 ribu penonton,” kata dia.

Stadion Papua Bangkit ditargetkan selesai pada akhir 2018. Stadion tersebut dipersiapkan untuk gelaran Pekan Olahraga Nasional (PON) 2020. Papua menjadi tuan rumah dari gelaran olahraga terbesar di Indonesia tersebut.

“Target selesai di Desember 2018. Ini disiapkan untuk PON 2020, jadi memang penyelenggaraan PON di 2020 tapi di Desember 2018 harus selesai, sesuai kontrak,” ujar dia.

Menteri Basuki Jajal Stadion Renang
Sebelumnya, Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR), Basuki Hadimuljono menjajal stadion renang di Gelora Bung Karno (GBK) yang akan menjadi arena pertandingan Asian Games XVIII pada Agustus 2018. Ini merupakan bagian dari pengecekan usai renovasi tuntas.

Pengecekan kualitas stadion renang ini dilakukan saat soft launching sebagai tanda selesainya pekerjaan renovasi yang sudah dikerjakan sejak Agustus 2016.

“Renovasi venue olahraga ini menghabiskan biaya tidak sedikit, sehingga kualitasnya harus dicek. Jika ada satu saja yang jelek, maka bisa dianggap nanti jelek semua kualitasnya. Saya minta pengecekan secara detail, bukan pengujian secara acak,” tegas Basuki dalam keterangan resminya di Jakarta, Minggu 12 November 2017.

Selain memeriksa hasil pekerjaan, Menteri Basuki pun atau berenang di kolam. Venue olahraga ini juga siap digunakan pada tes event Asian Games yang akan digelar pada Februari 2018. Sementara pesta olahraga terbesar di Asia ini akan diselenggarakan pada 18 Agustus 2018.

Kementerian PUPR melalui Ditjen Cipta Karya melakukan renovasi arena renang GBK dengan membuat empat kolam, yakni Kolam Utama untuk pertandingan (51,20 m x 25 m x 3 m), Kolam Polo Air (50 m x 25 m x 3 m), Kolam Loncat Indah (21 m x 25 m x 5 m) dan Kolam Pemanasan (20 m x 50 m x 1,4-2 m).

Stadion ini juga dilengkapi dengan 8.000 kursi penonton termasuk tribun teleskopik, ruang pers dan penyiaran, serta ruangan pendukung lainnya.

Konsep stadion renang GBK sebagian tertutup. Sedangkan pada bagian yang terbuka bertujuan mencegah terjadinya karat akibat penguapan klorin dari kolam renang, sekaligus mendapatkan lanskap yang indah.

Konstruksi dilaksanakan oleh kontraktor PT Waskita Karya (Persero) dengan nilai kontrak sebesar Rp 274 miliar.

Pada Oktober 2017, arena ini sudah dilakukan verifikasi oleh Independen Surveyor dan Perwakilan Persatuan Renang Seluruh Indonesia (PRSI). Hasilnya dianggap telah memenuhi persyaratan tertinggi dari Federasi Renang Dunia (FINA) dan hasil verifikasi tersebut sudah dibawa ke FINA untuk mendapatkan sertifikasinya.

Untuk diketahui bahwa stadion renang GBK merupakan salah satu dari enam bangunan cagar budaya di GBK. Proses renovasi yang dilakukan juga telah memenuhi kaidah-kaidah pelestarian bangunan cagar budaya. (Septian Deny)

Sumber: Liputan6

Advertisement