Cahaya Harapan bagi Warga Desa Ampas di Papua Usai Puluhan Tahun

Cahaya Harapan bagi Warga Desa Ampas di Papua Usai Puluhan Tahun

Desa Ampas di Papua | Liputan6

Metro Merauke – Puluhan tahun warga Desa Ampas, Kabupaten Keerom, Papua hidup diselimuti kegelapan. Gelapnya malam hanya mampu diterangi cahaya pelita yang tak seberapa.

Anak-anak sekolah terpaksa belajar dengan penerangan seadanya. Namun, itu merupakan masa lalu kelam yang telah berlalu, karena kini warga Desa Ampas telah mendapatkan cahaya harapannya.

Demikian gambaran awal dari Video berjudul “Terang di Desa Ampas Papua, seperti Liputan6.com unggah dari akun YouTube Presiden Joko Widodo (Jokowi), Jumat (23/11).

Video ini dirilis tepat pada 17 Agustus 2017, bertepatan dengan Kemerdekaan Republik Indonesia yang ke-72.

Proyek PLTS di Desa Ampas di Provinsi Papua tersebut merupakan salah satu proyek PLTS yang telah TMLEnergy selesaikan dengan baik di 2016, atas kerja sama dengan PT Len Industri.

Proyek ini didanai Direktorat Jenderal Energi Baru, Terbarukan, dan Konservasi Energi, Kementrian Energi dan Sumber Daya Mineral.

Alasan pemilihan Desa Ampas yang terletak di Kabupaten Keerom, Provinsi Papua ini dikarenakan desa tersebut berlokasi di daerah terpencil yang sulit dijangkau. Selain itu, pembangunan di Desa Ampas juga masih tergolong sangat minim.

Sudah lebih dari 70 tahun Republik Indonesia merdeka, Desa Ampas menantikan untuk dapat menikmati listrik seperti wilayah lainnya. Hingga pada akhirnya, pada akhir tahun 2016, TMLEnergy berhasil membangun sistem PLTS berkapasitas 20 kWp yang dapat menerangi 84 kepala keluarga di desa ini.

Dalam video berjudul “Terang di Desa Ampas, Papua” yang berdurasi sekitar 6 menit tersebut, salah satu warga Desa Ampas, Paulus Yafok menceritakan kehidupan sehari-hari warga Desa Ampas.

“Kehidupan kita sehari-hari mulai dari jam 5 ke atas sampai pagi, gelap gulita. Pokoknya jam lima, jam enam, kita sudah pada tidur semua karena kita mau jalan, kegelapan. Mungkin kita aktivitas siang hari saja. Termasuk saya sendiri, ingin harus ada terang,” ucap Paulus.

Dari zaman nenek moyang, warga Desa Ampas hanya dapat mengandalkan cahaya pelita bukan lampu. Bahan yang digunakan untuk menyalakan pelita adalah Bahan Bakar Minyak (BBM). Namun jika BBM tidak ada, desa harus kembali terselimuti kegelapan.

Anak-anak sekolah yang belajar sering mengeluhkan penggunaan pelita sebagai penerangan. Salah satunya Desi dan Lala, yang mengaku bahwa pelita membuat matanya pedih, sakit, dan membuat mata merah.

Selain itu, penggunaan pelita juga dapat dikatakan mahal dan memberatkan warga. Paulus menjelaskan bahwa kalau menggunakan pelita, satu liter habis Rp 15.000. Seliter itu hanya dapat dipakai selama satu minggu. Sedangkan kalau menggunakan dua pelita, satu liter BBM hanya dapat bertahan selama 3 hari. Jika dihitung dalam satu bulan, 15 kali dalam 31 hari sudah menghabiskan cukup banyak BBM dan dapat merogoh kocek hingga Rp 200.000.

Menyadari kebutuhan listrik di desanya sangat diperlukan, akhirnya Kepala Desa Ampas, Yohanis Yafok mencari jalan bagaimana desanya bisa mendapatkan listrik.

Ia menceritakan perjuangannya mulai dari ke Kantor Kabupaten, dan kemudian ia mengajukan proposal. Akhirnya perjuangannya tak sia-sia, para petugas yang dikirim dari pusat datang untuk membangun listrik.

Para petugas membangun listrik di tempat yang sudah disediakan. Pembangunan tersebut berlangsung selama satu tahun. Setelah itu, listrik mulai diuji coba di 84 Kepala Keluarga yang ada di sana. Semua dipasang meteran listrik.

Selain desa menjadi terang, dari sana juga tersedia lapangan kerja baru. Beberapa warga desa dipekerjakan secara langsung, salah satunya adalah Feri. Feri merupakan Operator PLTS di Desa Ampas, Papua. Tugasnya adalah memasang lampu rumah dan lampu jalan, serta bertanggung jawab mengawasi lampu. Feri mengaku bahwa ia digaji dari iuran para warga.

Setelah Desa Ampas berhasil mendapatkan cahaya harapannya, warga desa banyak yang bersyukur dan mengaku merasa senang. Hal ini dapat terpancar dari raut wajah mereka yang semringah.

“Ketika sudah memakai lampu, kita lebih senang karena ada menyangkut dengan kita bekerja. Kalau sebagai petani pun pulang dari lahan segala macam, ada mungkin mau mandi atau mau apa, kalau ada penerangan lebih enak,” ungkap Paulus.

“Selain itu, sekarang anak-anak juga lebih senang. Senang dalam artian mereka bisa belajar. Mulai jam 5-6 sore mereka senang ambil buku, belajar. Kalau dulu belum ada lampu, mereka paling mau tidur. Kalau sekarang, justru mereka bisa duduk pegang buku. Jam 9 mereka sudah istirahat,” tambahnya. (Fitriana Monica Sari)

Sumber: Liputan6

Advertisement