Tips Sukses Pengantin Baru Lewati Tahun Pertama Pernikahan

Tips Sukses Pengantin Baru Lewati Tahun Pertama Pernikahan

Foto: Liputan6

Metro Merauke – Memasuki pernikahan, pengantin baru biasanya merasa penuh semangat dan bahagia. Namun, pernikahan bukanlah yang mudah, dan butuh kerja keras.

Omongan “Bahagia bersama selamanya” tidak akan terwujud jika pengantin baru menganggap hubungan mereka kini sudah “aman”, dan berhenti mempertahankannya.

Mengutip Time, Kamis (9/11), tahun pertama pernikahan sangatlah penting untuk keberhasilan pernikahan sampai ke depan nantinya. Terapis pernikahan mengatakan, tahun pertama adalah tahun “fondasi basah,”

Di tahun pertama pernikahan adalah masa di mana pasangan suami istri berusaha membangun bentuk pernikahan mereka. Sekaligus mencari cara bagaimana hidup bersama sebagai pasangan tanpa merasa terjebak, dan tanpa mengembangkan kebiasaan buruk yang bisa merusak pernikahan.

Tahun pertama adalah waktu untuk membangun pola pernikahan yang baik, yang akan menjadi pegangan pengantin baru untuk seumur hidup mereka nantinya.

Saat mengumpulkan materi untuk bukunya yang berjudul How to Be Married, Jo Piazza, mewawancara ratusan suami istri dari 20 negara, tentang apa yang membuat pernikahan mereka sukses, berikut 8 jawabannya yang bisa berguna untuk pengantin baru:

Jadikan rumah sebagai tempat tinggal
Jadikan rumah sebagai tempat kalian berdua ingin menghabiskan waktu bersama. Wanita Denmark mengajarkan, hal ini sangat penting.

Anda tidak ingin rumah terasa seperti kantor atau hotel, yang hanya jadi tempat singgah. Wanita-wanita di Denmark menghias rumah mereka dengan lilin wangi dan bantal-bantal empuk untuk menambahkan kesan nyaman, sehingga rumah bisa jadi tempat perlindungan bagi pengantin baru dari dunia luar.

Jangan lupakan romansa
Saran ini datang dari wanita Perancis. Jauhkan ponsel saat makan malam bersama, dan semarakkan suasana dengan berdandan cantik. Hindari godaan untuk menghabiskan waktu berdua dengan piyama atau daster. Saran ini berlaku untuk suami dan istri.

Santai saja
Tidak setiap hari akan berjalan sempurna, atau bahkan baik-baik saja. Dan hal ini wajar, tak usah dibawa pusing. Pepatah lama mengatakan, pernikahan itu ibarat maraton, bukan sprint. Dan beberapa hari akan terasa seperti jalan kalian berdua menemui halangan yang harus dilewati dengan susah payah.

Terlalu fokus memikirkan apakah pernikahan kalian kuat, atau apakah Anda sudah jadi suami/istri yang baik sebenarnya adalah kunci kegagalan. Para wanita di Kenya dan Tanzania mengatakan, butuh waktu lebih dari satu hari untuk tahu bagaimana caranya jadi istri. Hal itu adalah proses.

Bersandarlah pada pasangan
Tentu saja Anda adalah wanita masa kini yang mandiri. Namun satu hal menyenangkan dari pernikahan adalah, Anda tidak harus menanggung seluruh beban hidup sendiri. Biarkan pasangan sesekali waktu mengurus Anda.

Para wanita di Belanda menekankan pentingnya hal ini. Mereka sangatlah mandiri saat mengejar target profesional, atau bahkan keliling dunia seorang diri, tapi mereka juga tidak berpikir dua kali saat harus bekerja paruh-waktu demi mengurus anak, dan membiarkan beban finansial jatuh ke pundah suami.

Ucapkan terima kasih
Banyak wanita yang sering mengeluhkan pernikahan mereka. Inilah kenapa, wanita di India memberi saran, berhentilah membandingkan pasangan sendiri dengan orang lain, dan jangan pula menentukan ekspektasi yang tak masuk akal pada suami. Dua hal tadi hanya akan menimbulkan rasa tidak puas.

Para wanita India ini menyarankan pengantin baru untuk belajar bersyukur, mensyukur hal-hal baik yang sudah dibawa suami ke dalam pernikahan, dan mengucapkan kata terima kasih secara verbal. Fokuskan perhatian pada upaya yang sudah dilakukan supaya, bukan kekurangannya.

Jangan lupa merawat diri
Seorang wanita di Yerusalem, yang memiliki enam orang anak mengatakan, “Memang mudah untuk kehilangan dirimu sendiri dalam pernikahan. Mudah memang mengurus suami dan hubungan, sampai lupa untuk mengurus diri sendiri.”

Wanita ini menyarankan, agar tidak pernah lupa meluangkan waktu untuk memanjakan diri sendiri. “Hal ini akan membuat pernikahanmu jadi lebih baik,” sarannya.

Terus berpetualang
Setelah pesta pernikahan usai, wajar memang kalau suasana hati jadi sedikit menurut, setelah semua kehebohan yang berlangsung. Tapi lalu bagaimana caranya untuk menjaga keseruan dalam pernikahan?

Teruslah berpetualang. Pakar hubungan sekaligus antropolog, Helen Fisher menuliskan, “Riset menunjukkan bahwa hal baru–mengambil risiko atau mencoba sesuatu yang baru–bisa memicu pelepasan hormon dopamin di otak.”

Hal ini juga bukan masalah mencoba hal baru di ranjang saja. Anda bisa mendapatkan efek yang sama saat mencoba kuliner baru, atau mencoba mengunjungi tempat-tempat seru bersama pasangan.

Kesetaraan tidak selalu berarti setengah-setengah
Pelajaran terakhir didapat dari seorang bapak rumah tangga di Swedia, yang sedang mengerjakan buku fotografi tentang kehidupan para pria yang mengambil cuti mengurus anak yang disediakan pemerintah sana.

Banyak wanita yang khawatir, dia bukan lagi feminis jika membagi segala sama rata dengan suaminya. Tapi ternyata, pemikiran ini sangat konyol.

Akan ada masanya ketika Anda yang harus berkutat mengerjakan tugas rumah tangga selama berhari-hari saat suami sedang sibuk di kantor. Tapi nanti akan tiba giliran suami yang melakukannya.

Keseimbangan dalam pernikahan bukanlah seperti jurnal akuntansi. Keseimbangan adalah ketika kedua pasangan merasa sama-sama mendapat dukungan. (Nilam Suri)

Sumber: Liputan6

Advertisement