Pemuda dan Internet untuk Kebaikan

Pemuda dan Internet untuk Kebaikan

Ilustrasi Internet | Foto: Thinkstock

Oleh: Vikra Ijas

Sekilas tak ada yang membedakan Melisa Prita (20) dari anak muda pada umumnya. Melisa adalah seorang mahasiswi sebuah universitas swasta di Bandung yang juga bekerja sebagai driver ojek online untuk mencari penghasilan tambahan. Kisah Melisa menjadi istimewa ketika Ia bertemu Disa, seorang anak perempuan berusia 12 tahun yang menderita Osteosarcoma atau sejenis kanker tulang.

Disa membutuhkan biaya yang cukup besar untuk operasi karena BPJS tidak bisa menanggung seluruh beban biaya pengobatan penyakitnya – sebuah kondisi yang umum terjadi di tengah masyarakat Indonesia. Data terakhir BPJS menyatakan saat ini baru sekitar 70 persen masyarakat yang terjangkau program BPJS Kesehatan.

Memahami kesulitan Disa, Melisa pun tergerak mengajak teman-temannya untuk mengumpulkan bantuan. Melalui situs penggalangan dana online Kitabisa.com, Melisa memulai sebuah kampanye untuk membantu pengobatan Disa. Menggunakan media sosial dan aplikasi messenger yang Ia miliki, Melisa mengajak teman dan jejaringnya untuk berdonasi. Hasilnya, dalam kurun waktu 1 bulan Melissa berhasil mengumpulkan Rp 51 juta dari 386 donatur.

Semangat Melisa jelas merefleksikan karakter luhur bangsa Indonesia yaitu tolong menolong dan gotong royong. Memanfaatkan kekuatan gotong royong, Melisa pun berubah dari anak muda biasa menjadi seorang sosok yang dibutuhkan saat ini, yaitu seorang penggerak atau agent of change yang dapat menciptakan kebaikan, tanpa melihat perbedaan.

Pada hari Sumpah Pemuda bulan Oktober lalu, kita kembali diingatkan oleh Presiden Joko Widodo akan pentingnya menjaga semangat kerja sama di tengah perbedaan kelompok masyarakat yang begitu beragam. Tagline “Kita Tidak Sama, Kita Kerja Sama” begitu selaras dengan ucapan Bung Hatta puluhan tahun lalu tentang sifat masyarakat Indonesia yang guyub, komunal, kolektif dan gotong royong.

Data dari Badan Amil Zakat Nasional (BAZNAS) menunjukkan, potensi zakat (donasi yang diwajibkan untuk umat Islam) di Indonesia mencapai Rp 286 triliun setiap tahunnya. Namun di tahun 2016, BAZNAS mencatat baru sekitar Rp 3,7 trilliun zakat yang terkumpul melalui lembaga.

Hal ini mengindikasikan potensi besar untuk mengoptimalkan ekonomi yang tercipta dari rasa tolong menolong dan gotong-royong, khususnya dalam membantu menanggulangi masalah sosial seperti kesehatan dan pendidikan. Di tengah pesatnya pertumbuhan teknologi dan internet, semangat ini terus didorong dan dimudahkan melalui beragam platform online, utamanya yang berbasis crowdfunding (urun dana) yang lahir untuk membantu mengumpulkan dukungan dana masyarakat terkait suatu tujuan sosial.

Berdasarkan data terkini, platform semacam ini di Indonesia masih didominasi oleh kegiatan donasi yang berhubungan dengan kesehatan masyarakat. Di Kitabisa.com, dari Rp 166 miliar donasi yang telah terfasilitasi dari belasan ribu inisiatif penggalangan dana masyarakat, lebih dari 6.000 kampanye penggalangan dana dalam kategori medis yang dimulai dalam dua tahun terakhir.

Lebih dari angka, ini bukti masyarakat kita mampu memanfaatkan teknologi untuk menolong sesama. Tren yang sama juga ditemukan di luar Indonesia; situs urun dana ternama di Amerika Serikat, GoFundMe dan YouCaring menyatakan bahwa kategori medis menjadi kategori penggalangan dana terbesar di website masing-masing.

Di tahun 2015, data GoFundMe menunjukkan donasi sebesar 930 juta dollar AS terkumpul untuk kategori medis dari total donasi sebesar 2 miliar dollar AS yang terfasilitasi di situs mereka saat itu. Sementara YouCaring mengatakan bahwa setidaknya 50 persen dari 800 juta dollar AS donasi yang difasilitasi oleh situsnya datang dari penggalangan dana dengan kategori medis.

Dengan semangat tolong menolong dan gotong royong, platform urun dana juga dapat menjadi wadah penyaluran dan katalis untuk mendorong lebih banyak prestasi dan karya anak bangsa. Tidak hanya untuk menggalang dana seperti yang dilakukan oleh seorang ibu dari bayi prematur dan berkebutuhan khusus, platform ini juga dapat menggugah terbentuknya gerakan sosial misalnya pengumpulan buku untuk anak-anak di wilayah pedalaman Papua.

Kemudian, terkumpulnya informasi dan bantuan teknologi untuk mewujudkan sumber energi menggunakan panel surya di wilayah timur Indonesia dalam upaya mengatasi permasalahan air bersih.

Hingga yang paling masif yaitu pengembangan pesawat jarak menengah R80 yang diinisiasi oleh Mantan Presiden Republik Indonesia, BJ Habibie dan PT Regio Aviasi Industri. Beragam gagasan dan inovasi bagi kebaikan ini terus berkembang, dan keberadaan platform urun dana berbasis teknologi ini pun memungkinkan pelibatan aktif pemuda dari seluruh Indonesia secara luas.

Inilah inti dari fenomena The Internet of Kindness, ketika internet digunakan untuk mengamplifikasi niat dan aksi baik yang ada di masyarakat, serta menjadi daya ungkit bagi berbagai pencapaian tujuan pembangunan sosial. Kehadirannya mampu menciptakan daya dalam skala yang bahkan belum pernah dilihat sebelumnya.

Di tengah maraknya penyalahgunaan internet untuk menyebarkan konten negatif atau hoax, cerita Melisa dan Disa mengingatkan kembali potensi kebaikan yang dapat terwujud karena bantuannya. Tak berlebihan rasanya jika saya menyebut fenomena ini sebagai bentuk pengejawantahan dari semangat Sumpah Pemuda yang ditunjukkan oleh netizen zaman ‘now’. (Penulis adalah Anggota Asosiasi FinTech Indonesia dan Chief Marketing Officer Kitabisa.com)

Sumber: Kompas Kolom

Advertisement