Anies-Sandi dan Masa Depan Jakarta

Anies-Sandi dan Masa Depan Jakarta

Gubernur dan Wakil Gubernur DKI Jakarta, Anies Baswedan-Sandiaga Uno usai makan siang bersama Wakil Presiden Jusuf Kalla di Istana Wakil Presiden, Jakarta, Kamis (26/10) | Foto: Kompas/Moh Nadlir

Oleh: Herzaky Mahendra Putra

Anies R Baswedan dan Sandiaga S Uno telah dilantik Presiden Joko Widodo selaku Gubernur dan Wakil Gubernur DKI Jakarta periode 2017-2022. Pertanyaan yang segera mengemuka adalah akan seperti apa masa depan Jakarta di tangan pemimpin barunya? Apakah Anies-Sandi benar-benar dapat membawa Jakarta menjadi lebih baik dibandingkan pemimpin periode sebelumnya? Apa sajakah tantangan utama bagi Anies-Sandi dalam mengguratkan tinta emas untuk masa depan Jakarta?

Menarik untuk memprediksi tantangan yang bakal dihadapi Anies-Sandi dalam membawa Jakarta menjadi lebih baik melalui slogan yang sering kali didengungkan ketika mereka berkampanye: Jakarta Maju Bersama.

Jakarta
Selaku pemimpin ibu kota negara, sorotan terhadap Anies-Sandi dari media nasional, bahkan internasional tidak dapat dihindari. Bahkan, pejabat tingkat nasional pun seringkali kalah populer dibandingkan pemimpin Jakarta. Media pun sering kali berlaku centil dengan meminta pendapat pemimpin Jakarta untuk isu-isu nasional maupun internasional. Apalagi figur Anies bisa dibilang cukup dekat dengan beberapa media nasional. Liputan secara luas pun otomatis bakal datang.

Belum lagi sorotan di media sosial. Pengguna Facebook, Twitter, dan Instagram di Indonesia, termasuk sangat aktif dalam menyoroti tindak tanduk pemimpin Ibu Kota. Ada ungkapan, koin jatuh di Jakarta pun bakal kedengaran sampai Papua. Hampir tidak ada pemimpin daerah, baik tingkat I maupun tingkat II, yang mendapatkan sorotan laiknya Gubernur dan Wakil Gubernur Jakarta.

Di satu sisi, situasi seperti ini memberikan keuntungan bagi Anies-Sandi. Setiap aktivitas mereka bakal terekam di memori publik. Prestasi mereka bakal diingat dan diketahui bukan hanya oleh warga Jakarta, melainkan publik secara nasional. Bahkan, hal yang baru saja Gubernur Jakarta lakukan, padahal sudah bertahun-tahun lalu dilakukan sebelumnya oleh kepala daerah di daerah lain, kadang justru Gubernur DKI Jakarta yang dianggap sebagai pelopor. Ini karena liputan yang demikian deras ke mereka, sedangkan provinsi, kabupaten, kota lain minim publikasi.

Di sisi lain, hal ini memberikan tekanan dan godaan tersendiri bagi Anies-Sandi. Tekanan tinggi karena mereka hidup laiknya dalam akuarium. Setiap mata memandang siap memberikan masukan, bahkan kritik. Bergerak cepat, dibilang tanpa perhitungan dan asal jadi. Bergerak dengan hati-hati, dianggap lamban.

Intensitas tekanan ini bisa membuat Pemimpin Jakarta cenderung mengambil kebijakan simbolik (Anderson: 2010). Simbolik dalam konteks bisa dilihat secara kasat mata kalau mereka sudah melakukan sesuatu dan bermanfaat bagi masyarakat, namun tidak tuntas, dan belum tentu menyentuh akar permasalahan dan merupakan kebutuhan mendesak sebagian terbesar warga Jakarta.

Sorotan luas ini juga bisa memberikan dampak negatif berupa tergodanya Anies-Sandi untuk mengoptimalkan aktivitas mereka di Jakarta sebagai sarana mendapatkan panggung nasional.

Anies-Sandi bisa saja tergiur untuk mengedepankan kebijakan populis, kebijakan yang seakan berpihak pada rakyat banyak, disukai orang banyak, agar mendapatkan liputan luas, meskipun belum tentu memberikan manfaat nyata pada kepentingan umum warga Jakarta.

Pemberitaan luas di media massa maupun menjadi viral di media sosial bisa jadi merupakan salah satu indikator yang dikedepankan dalam memprioritaskan program. Padahal, kebijakan yang disukai oleh masyarakat di media sosial belum tentu selaras dengan kebutuhan masyarakat di dunia nyata.

Apalagi, baru saja menjabat sudah bermunculan wacana Anies sebagai calon presiden ataupun calon wakil presiden RI 2019. Pancingan seperti ini tentunya perlu dihindari. Ini mengingat pendaftaran pasangan calon presiden dan wakil presiden RI 2019 bakal dilakukan pada Agustus 2018, kurang dari setahun setelah Anies menjabat. Tentunya kalau ini yang menjadi target, konsentrasi Anies dalam memimpin Jakarta bakal terpecah.

Tekanan dan godaan skala nasional ini merupakan tantangan berat pertama yang bakal dihadapi Anies-Sandi. Untuk itu, Anies-Sandi perlu selalu mengingat, mereka adalah pemimpin warga Jakarta. Fokus mereka adalah warga Jakarta, bukan nasional. Publikasi luas penting, namun manfaat nyata untuk sebagian besar masyarakat Jakarta sebaiknya menjadi pertimbangan utama dalam mengambil kebijakan, ataupun dalam memutuskan langkah yang bakal ditempuh.

Maju
Tantangan selanjutnya bagi Anies-Sandi adalah bagaimana membuat Jakarta lebih maju dibandingkan era kepemimpinan sebelumnya. Panduannya tentu saja janji saat kampanye. Ada 23 program unggulan yang dijanjikan Anies-Sandi. Dalam 23 program unggulannya, ada beberapa program yang merupakan penebalan-penebalan dari program di pemerintahan sebelumnya. Itu suatu langkah positif, mengingat adanya kesinambungan dari program kepemimpinan sebelumnya merupakan suatu hal langka di republik ini. Malah, klaim kerja periode sebelumnya yang lebih sering terjadi.

Hanya, tentu saja penebalan program gubernur periode sebelumnya tidaklah cukup. Ada beberapa program dan kebijakan baru yang ditunggu-tunggu oleh warga Jakarta untuk direalisasikan oleh Anies-Sandi. Pertama, janji untuk membuka 200.000 lapangan kerja baru, membangun dan mengaktifkan 44 pos pengembangan kewirausahaaan warga untuk menghasilkan 200.000 pewirausaha baru selama lima tahun.

Program ini memang sudah dirintis bahkan ketika kampanye. Lalu, berlanjut dalam skala kecil ketika Anies-Sandi resmi terpilih. Tentunya setelah resmi mengemban amanah sebagai pemimpin baru Jakarta dan memiliki dukungan anggaran dari APBD, program ini bisa dijalankan dengan lebih intens dan masif.

Kedua, memberdayakan para pengembang kelas menengah untuk merealisasikan pembangunan kampung susun, kampung deret dan rumah susun, serta mempermudah akses kepemilikan bagi warga tidak mampu. Salah satu realisasi program ini adalah kepemilikan rumah dengan down payment (DP) nol persen. Wajah Jakarta di masa depan bakal berubah menjadi semakin maju jika memang kebijakan ini bisa diwujudkan.

Ketiga, Anies-Sandi berjanji menghentikan Reklamasi Teluk Jakarta untuk kepentingan pemeliharaan lingkungan hidup serta perlindungan terhadap nelayan, masyarakat pesisir dan segenap warga Jakarta. Permasalahannya, pemerintah pusat mendukung pelaksanaan reklamasi di Jakarta. Menko bidang Kemaritiman sudah mencabut moratorium proyek reklamasi awal Oktober 2017. Adapun pada Agustus 2017, Presiden secara langsung menyerahkan sertifikat pengelolaan Pulau C dan Pulau D kepada Pemprov DKI Jakarta dan HGB ke pengembangnya.

Pertanyaan besar tentu mengemuka ke publik. Apakah Anies-Sandi bisa memenuhi harapan sebagian besar warga Jakarta yang memilihnya untuk menghentikan reklamasi, sedangkan pemerintah pusat memiliki sikap berbeda? Pelaksanaan janji ini bakal merupakan salah satu ujian bagi kepemimpinan Anies-Sandi dalam membentuk wajah masa depan Jakarta.

Dalam berbagai kesempatan sejak dilantik, Anies dan Sandi memang sudah menyatakan tetap menolak reklamasi. Hanya, actions speak louder than words. Rakyat Jakarta menanti perwujudannya.

Bersama
Janji besar dan tantangan terbesar selanjutnya bagi Anies-Sandi adalah kebersamaan. Bagaimana agar Jakarta bisa benar-benar maju bersama. Tidak ada unsur masyarakat yang merasa dipinggirkan.

Gubernur dan Wakil Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan (kanan) dan Sandiaga Uno (kedua kanan) serta Pemilik Toko Karpet Serba Indah (kedua kiri) memukul pagar dengan palu sebagai simbol kesediaan untuk mengeksekusi lahan miliknya, saat meninjau proyek Stasiun Mass Rapid Transit (MRT) Haji Nawi, di Jalan RS Fatmawati, Jakarta, Jumat (20/10) lalu. Anies Baswedan memerintahkan untuk segera mengeksekusi lahan yang bermasalah dikawasan tersebut | Foto: Antara/Galih Pradipta

Di pemerintahan sebelumnya, tidak bisa dipungkiri, ada wilayah-wilayah kumuh yang berhasil disulap menjadi lebih rapi. Pembangunan fisik pun tampak nyata. Jakarta di beberapa sudut menjadi lebih nyaman untuk dilewati. Hanya, konsekuensinya, penggusuran marak terjadi. Berdasarkan laporan Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Jakarta tahun 2017, penggusuran yang terjadi selama 2015-2016 berdampak pada 25.533 warga. Korban terbesar sepanjang sejarah Jakarta. Mereka merupakan bagian dari unsur masyarakat yang merasa terpinggirkan.

Inilah tantangan pertama bagi Anies-Sandi dalam merajut kebersamaan di Jakarta: bagaimana tetap melangsungkan pembangunan fisik yang diperlukan untuk Jakarta, namun tidak mengabaikan, apalagi merugikan unsur masyarakat lainnya. Terlebih lagi unsur masyarakat yang memiliki keterbatasan akses ke pembangunan, dan jika dirugikan oleh pembangunan, tidak bisa membela dirinya sendiri.

Anies dalam pidato pelantikannya sudah menyampaikan komitmen untuk melanjutkan pembangunan yang sudah dirintis pemerintahan sebelumnya. Sembari pula memperjuangkan keberpihakan yang tegas kepada mereka yang selama ini terlewat dalam merasakan keadilan sosial, membantu mengangkat mereka yang terhambat dalam perjuangan mengangkat diri sendiri, serta membela mereka yang terugikan dan tak mampu membela diri. Tinggal realisasinya yang kita tunggu.

Adapun tantangan kedua dalam merajut kebersamaan di Jakarta adalah bagaimana merangkul pendukung petahana dalam kontestasi Pilkada DKI Jakarta 2017. Namun, mereka memiliki prioritas dan posisi berbeda dari program yang ditawarkan oleh Anies-Sandi. Bahkan, polarisasi yang begitu tajam sempat mengemuka ketika putaran kedua Pilkada DKI Jakarta 2017.

Polarisasi yang terbangun ketika Pilkada Jakarta sangat memungkinkan untuk tetap bertahan ke depannya. Apalagi jika ada pihak-pihak yang memelihara polarisasi ini untuk kepentingan kelompok mereka ke depannya. Tugas Anies-Sandi selaku pemimpin baru Jakarta adalah memastikan tidak ada perbedaan perlakuan di lapangan untuk warga yang berbeda pilihan sewaktu pilkada. Bahkan, sebisa mungkin meminimalkan usaha para pihak yang terus memelihara bahkan berniat mematenkan polarisasi ini.

Salah satu pernyataan Anies dalam pidato pelantikannya memberikan sinyal positif untuk ini. Anies menyampaikan bahwa ia dan Sandi dilantik menjadi gubernur dan wakil gubernur bukan bagi para pemilih Anies-Sandi saja, tapi bagi seluruh warga Jakarta. Anies pun menegaskan bahwa kini saatnya bergandengan sebagai sesama saudara dalam satu rumah untuk memajukan kota Jakarta.

Tantangan selanjutnya dalam merajut kebersamaan adalah pengelolaan media sosial. Sebagian besar orang, seperti yang disampaikan Zygmunt Bauman, sosiolog dari Polandia, menggunakan media sosial bukan untuk menyatukan diri. Bukan pula untuk membuka horizon mereka lebih luas, melainkan meletakkan mereka di zona nyaman di mana suara yang mereka dengar hanya pantulan dari suara mereka sendiri.

Media sosial sangatlah berguna, mereka menyediakan kesenangan, kenyamanan, tetapi media merupakan jebakan. Fenomena yang sama terjadi di Jakarta. Pengguna media sosial hanya ingin mendengar apa yang ingin mereka dengar, bukannya mencoba untuk memahami perbedaan pandangan di antara mereka.

Dengan mudah mereka share, meng-add teman yang mereka inginkan, ataupun delete teman yang tidak mereka inginkan hanya karena perbedaan pandangan. Sehingga, setiap ada informasi yang sesuai aspirasi mereka dengan mudahnya mereka percaya tanpa berusaha untuk mengecek. Di sinilah polarisasi berawal dan semakin mengental. Anies-Sandi termasuk pemimpin yang sangat fasih bermedia sosial. Harapannya, media sosial hanya dijadikan salah satu sarana bagi Anies-Sandi dalam mengecek aspirasi warga Jakarta. Mengingat sering kali warga luar Jakarta yang memberikan kritik mengenai pembangunan di Jakarta tanpa melihat langsung dan mencoba mempelajari situasinya terlebih dahulu sebelum berkomentar.

Distorsi informasi seperti ini, jika tidak dipilah dengan baik, bakal bisa menghambat usaha Anies-Sandi membangun kebersamaan di antara seluruh warga Jakarta. Tantangan terakhir bagi Anies-Sandi dalam membangun kebersamaan di Jakarta adalah bagaimana menjalin kerja sama dengan pihak legislatif agar pembangunan Jakarta bisa berjalan dengan lebih optimal.

Menjalin kerja sama dengan pihak legislatif bukan dalam konteks bagi-bagi proyek agar kebijakan dan program Anies-Sandi berjalan mulus tanpa gangguan dari pihak legislatif. Konteksnya mencari jalan tengah dalam setiap perbedaan pendapat yang terjadi tanpa mengorbankan prinsip-prinsip good governance, apalagi melanggengkan perilaku koruptif.

Perjuangan
Perjuangan adalah pelaksanaan kata-kata, ujar almarhum WS Rendra. Begitu banyak kata yang telah terucap oleh Anies-Sandi kala kampanye. Berbagai janji pun telah dilontarkan. Dan, warga DKI Jakarta pun telah memberikan kepercayaan kepada Anies-Sandi sebagai pemimpin baru mereka.

Saatnya Anies-Sandi membuktikan kata-kata mereka, menunaikan janji-janji mereka, krena sekarang saatnya bekerja. Bukan lagi untaian kata yang dinanti, melainkan kerja nyata. Wajah Jakarta di masa depan bergantung pada kerja nyata di bawah kepemimpinan mereka. (Penulis adalah Direktur Manilka Research and Consulting)

Sumber: Kompas Kolom

Advertisement