Anak Jadi Korban Bully, Ortu Perlu Ajarkan 3 Hal Ini

Anak Jadi Korban Bully, Ortu Perlu Ajarkan 3 Hal Ini

Saat anak jadi korban bullyi, orangtua sebaiknya membantu anak melewati masa-masa itu | Foto: Liputan6

Metro Merauke – Kala anak curhat sering jadi korban bully, diejek atau diganggu teman-teman di sekolah, hati orangtua mana yang tidak sedih. Memang ada anak yang masa bodoh dengan ejekan, tapi banyak juga yang jadi takut. Terlebih ada banyak cerita, anak jadi malas pergi ke sekolah karena jadi korban bully.

Peran orangtua begitu besar dalam membuat anak jadi tangguh walau jadi korban bully. Daripada berkutat mengurusi pelaku bullying, lebih baik fokus pada bagaimana anak bisa meraih prestasi, seperti disampaikan psikolog Yasinta Indrianti.

Berikut tiga hal yang bisa diajarkan pada anak saat jadi korban bully:

1. Penerimaan
Saat anak cerita jadi korban bully, orangtua jangan marah-marah tapi ajarkan anak untuk menerima. Tentu saja bukan menerima di-bully atau menerima perlakuan yang tidak menyenangkan. Namun menerima bahwa hal tersebut memang sudah terjadi.

“Enggak bisa kita bilang ‘udah lupain aja’. Bagi yang menjadi korban bully itu tidak mudah,” kata Yasinta dalam acara Yupi Speak Up!.

Kemudian bantu anak untuk melakukan hal-hal guna meminimalisir menjadi korban bully kembali. Misalnya tidak dekat-dekat dengan orang yang sering mengerjai.

2. Mengetahui potensi diri
Faktor fisik kerap jadi sasaran empuk melakukan perundungan terhadap seserorang. Misalnya kulit hitam, putih pucat, jenong, keriting, bahkan yang cantik juga bisa jadi sasaran bully.

“Di-bully karena cantik, ya gimana, memang dari sananya begini. Lalu, bikin fun ejekan yang dilayangkan. Misalnya dibilang gendut, ya emang begini saya,” contoh Yasinta.

Lalu, fokuslah pada potensi diri. Misalnya cantik, tinggi, senang berada di hadapan umum, mengapa tidak fokus berlatih menjadi model. Jika jago menggambar, mengapa tidak terus berlatih agar menggambar.

3. Fokus
Setelah tahu potensi diri, fokus pada hal tersebut. Jadi, mau diejek apapun juga, terserah.

Fokus pada hal yang disukai atau potensi tersebut lama-kelamaan bakal memberi dampak positif. Jika sampai berprestasi, bisa menunjukkan ke orang lain bahwa anak juga mampu.

“Dengan orangtua mengajarkan tiga hal ini, anak pasti bisa melewati masa-masa ini. Namun memang enggak mudah melewati proses tersebut,” tandas Yasinta. (Benedikta Desideria)

Sumber: Liputan6

Advertisement