Buku Tarik Minat Baca Anak di Jayapura

Buku Tarik Minat Baca Anak di Jayapura

Ilustrasi anak-anak membaca bersama | Foto: Republika

Metro Mrauke – Guru SD YPK Amai, Kabupaten Jayapura Alfrida Yarisetouw mengatakan buku menarik minat dan kemauan anak ke sekolah. “Anak suka ke sekolah karena ada buku,” kata dia dalam diskusi Festival Literasi di Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud), Jakarta, Jumat (27/10).

Perempuan yang akrab disapa Ida itu mengatakan sebelum sekolahnya mengikuti program Gerakan Literasi Sekolah (GLS), literasi di SD YPK Amai sangat ketinggalan. Ia menjabarkan pada 2014-2015 anak masih kurang tertarik ke sekolah. Ida berinisiatif mencari anak ke rumah-rumah. Mengajak mereka kembali ke sekolah.

Ia mengatakan tidak sedikit anak kelas VI tak bisa membaca. Bagi mereka yang melanjutkan sekolah ke jenjang SMP, tetapi belum bisa baca, anak itu diminta kembali ke SD. “Kalau tak bisa baca, suruh kasih pulang lagi itu anak,” ujar dia.

Ida mengatakan hal itu mendorongnya menggalakkan GLS di sekolahnya. Tujuannya, anak-anak tak tertinggal literasi. Ida berujar guru biasanya memulai pelajaran dengan mengajak anak membaca 15 menit. Pun membacanya tidak di dalam kelas, tetapi di pinggir pantai. Hal itu memberi nilai tambah menarik minat baca para pelajar.

Ida berujar adanya pojok literasi di kelas, membuat anak semakin tertarik membaca. “Mereka tak mau jalan (istirahat), karena ada buku dipajangkan,” ujar dia. Terkait belajar mengenal huruf dan membaca, Ida mengajarkannya dengan melagukan. Hal itu membantu anak memahami literasi.

“Saya dari Papua berubah (membudayakan literasi). Saya seperti sini bisa berubah,” ujar dia.

Manajer Lapangan GLS Anita Wulur mengakui pemerintah tertarik program GLS yqng bekerja sama dengan UNICEF. Ia mengaku awal menggalakkan program itu sulit, khususnya di Provinsi Papua. “Kesulitan utama tingkat kehadiran, kepala sekolah, guru,” kata Anita.

Menurutnya, mensukseskan GLS tak luput dari peran pemerintah. Pemerintah dan GLS harus rutin memantau pelaksanaan gerakan literasi itu. “Gerakan literasi tak bergerak sendiri. Dukung penerapan disiplin posistif di sekolah,” ujar Anita. (umi nur fadhilah)

Sumber: Republika

Advertisement