Ilmuwan Inggris Wallace Meramalkan Indonesia 100 Tahun Lalu

Ilmuwan Inggris Wallace Meramalkan Indonesia 100 Tahun Lalu

Ketua AIPI Prof. Sangkot Marzuki bersama Direktur British Council saat membuka Wallace Week 2017 di Perpustakaan Nasional RI | Foto: Liputan6/Teddy Tri Setio Berty

Metro Merauke – Alam Indonesia terkenal dengan keanekaragaman hayati yang begitu kaya dengan keunikannya. Hal itulah yang mengilhami Alfred Russel Wallace (penjelajah, geografer, ahli antropologi dan ahli biologi asal Inggris) untuk mendokumentasikan perjalanannya selama berada di Tanah Air.

Penjelajahan ilmiahnya selama delapan tahun, pada 1854-1862 tersebut diabadikan melalui buku The Malay Archipelago.

Berkat catatan perjalanan itulah, sang ilmuwan Inggris dianggap sebagai sosok yang berjasa karena telah mencatatkan wilayah Ternate ke dalam sejarah perkembangan ilmu pengetahuan hayati.

Dalam bukunya, Wallace bicara soal bahaya kerusakan lingkungan dan menjelaskan bahwa Indonesia adalah pusat biodiversitas.

Bahkan, lebih dari seratus tahun yang lalu Wallace sudah ‘meramalkan’ bahwa Indonesia adalah negara yang kaya akan keberagaman dan punya peran besar untuk dunia.

Banyak sekali kisah inspiratif dan kekaguman Wallace tentang kekayaan Indonesia yang tertuang dalam buku karangannya. Salah satunya tentang persebaran biodiversitas yang unik di Tanah Air dan beberapa penemuan fauna unik dan khas yang hidup di Indonesia.

Berkat jasa dan pemikiran ilmuwan Inggris tersebut, Akademi Ilmu Pengetahuan Indonesia (AIPI), British Council dan British Embassy di Jakarta ingin mengangkat kembali arti penting buah pemikiran Wallace bagi Indonesia lewat “Wallace Week 2017”.

Menurut Ketua AIPI Profesor Sangkot Marzuki, sosok Alfred Russel Wallace bagian dari sejarah Indonesia yang tak dapat dipisahkan.

“Melalui bukti yang sudah ada, peninggalan Wallace dapat dengan nyata teraba dan mudah diidentifikasi,” ujar Prof Sangkot Marzuki saat menyampaikan sambutan di acara pembukaan Wallace Week 2017 di Perpustakaan Nasional RI, Senin (16/10).

“Wallace adalah bagian dari sejarah Indonesia dan kita perlu mengingat kembali arti pentingnya buah pemikirannya sehingga kita dapat menggali potensi tersebut,” tambahnya.

Kegiatan tersebut berisikan informasi dan pengetahuan terkait perjalanannya selama berada di Indonesia. Tentunya acara ini sangat cocok bagi para peneliti, akademisi, pelajar dan masyarakat umum.

Sementara itu Direktur British Council Paul Smith mengatakan, keberadaan Indonesia di hati Wallace membuktikan bahwa Tanah Air punya reputasi yang baik di dunia internasional dalam urusan keanekaragaman hayati, inklusi dan kemajemukan masyarakatnya.

“Wallace membuktikan bahwa Indonesia adalah sebuah negara yang kaya akan keragaman hayati. Jika diibaratkan, Indonesia adalah rumah bagi warisan dunia, keberagaman makhluk hidup dan geologis,” ujar Paul.

“Bahkan, Wallace sendiri sudah menemukan fakta hingga tahun 2017, Indonesia akan tetap menjadi salah satu wilayah pengharapan dunia bagi keberagaman itu sendiri,” tambahnya.

Bapak Evolusi yang ‘Terlupakan’
Lahir pada tahun 1823, Alfred Russel Wallace adalah salah satu ilmuwan besar Abad ke-19.

Bukan hanya karena ia ikut menemukan proses evolusi melalui seleksi alam bersama Charles Darwin pada tahun 1858, tapi kontribusi besarnya pada biologi, glasiologi, land reform, antropologi, etnografi , epidemiologi, dan astrobiologi.

Karya rintisannya soal biogeografi evolusi, studi tentang bagaimana tumbuhan dan hewan terdistribusi, membuatnya menjadi “Bapak Biogeografi Evolusi”.

Suatu hari di bulan Februari 1858, ketika Wallace terkena serangan demam di Desa Dodinga di Pulau Halamahera yang terpencil, tiba-tiba ide tentang seleksi alam sebagai mekanisme perubahan evolusioner, terlintas di benaknya.

Setelah cukup kuat, Wallace menulis esai rinci yang menjelaskan teori itu, lalu mengirimnya disertai surat pengantar kepada Charles Darwin, yang ia tahu dari korespondensi tertarik pada subjek evolusi.

Ia meminta Darwin untuk menyerahkan esai itu ke pengacara sekaligus geologi terkenal saat itu, Charles Lyell –jika Darwin menilainya pantas diterbitkan di jurnal terkemuka.

Pemikiran itu menunjang teori evolusi yang dipopulerkan Darwin melalui bukunya “The Origin of Species” tahun 1859, satu tahun setelah penulisan makalah Wallace. Pada tanggal 1 Juli 1858, kawan-kawan Darwin, Charles Lyell dan Joseph Hooker, merekayasa pertemuan ilmiah di Linnean Society dan mendeklarasikan Darwin dan Wallace sebagai penemu dasar evolusi

Wallace bahkan menemukan frase “origin of spesies” — atau asal-usul spesies, yang menjadi judul buku Darwin yang menggemparkan dunia. (Teddy Tri Setio Berty)

Sumber: Liputan6

Advertisement