Operator Dinilai Tak Transparan, 15 Klub Peserta Liga 1 Ancam Mogok

Operator Dinilai Tak Transparan, 15 Klub Peserta Liga 1 Ancam Mogok

Sekertaris Umum Persipura Roky Babena ‎, Ketua Umum Persipura Benhur Tomy Mano( tengah ) Manajer Persipura, Rudi Maswi memberi keterangan pembubaran Persipura kepada wartawan di Hotel Grand Abe Jayapura, pukul 11.00 WIT | Foto: SP/Robert Vanwi

Metro Merauke – Kompetisi Liga 1 terancam terhenti di tengah jalan, lantaran 15 kontestan mulai angkat suara dan mengancam akan melakukan mogok dan tidak melanjutkan pertandingan sisa karena dianggap terdapat beberapa kejanggalan. Dari 15 klub tersebut, salah satunya yakni pemegang titel juara Liga Indonesia sebanyak empat kali, Persipura Jayapura.

Media Officer Persipura, Ridwan Bento Madubun mengatakan, ancaman tersebut mulai disuarakan setelah melihat PT Liga Indonesia Baru (PT LIB) selaku operator liga tidak berlaku tranpasaran dan tidak berkomitmen terhadap beberapa aspek yang sudah disepakati. Salah satunya, mengenai jadwal bertanding.

“Pada saat mereka berikan kita jadwal kita diminta untuk merevisi, dan revisi yang kita lakukan sama sekali tidak digubris, mereka tetap dengan apa yang telah mereka formulasikan sejak awal.

Kita juga sudah membuat permohonan untuk dilakukan 2 home dan 2 away, tapi belakangan kembali dirubah dan berdampak besar pada aspek finansial dan sebagainya,” jelasnya kepada wartawan, Kamis (5/10) di Stadion Mandala Jayapura.

Anehnya lagi, lanjut Bento, klub peserta yang memiliki banyak sponsor justru keberatan bermain di Serui dengan alasan perjalanan yang ditempuh bisa menghabiskan biaya setara dengan harga sebuah mobil. Padahal, jika dihitung, klub-klub dari wilayah barat hanya bermain di Papua sebanyak dua kali dalam semusim, sedangkan klub asal Papua merogoh kocek lebih banyak selama 16 laga ke daerah luar.

Tidak Adil
“Akhirnya seperti yang terjadi dengan saudara kita, Perseru Serui, dimana tiga pertandingannya harus bermain away-away. Ini tidak adil dan tidak fair, sebab hampir pasti 99,9 persen lawan akan kehilangan 9 poin, tapi justru pertandingan dimainkan di kandang lawan dia harus bertanding di kandang lawan. Seharusnya kan di tempat netral,” keluhnya.

Ungkap Bento, ada beberapa poin lainnya yang dianggap tak fair seperti aspek bisnis, dimana sampai sekarang 15 klub tersebut tidak pernah tahu berapa nilai yang didapatkan dari sponsor operator, Gojek dan Traveloka, bahkan nilai hak siar sebuah pertandingan pun tidak pernah disebutkan nilainya, hingga di aspek regulasi U-23 yang juga sudah digugurkan.

Tambahnya, 15 klub yang tergabung dalam Forum Klub Sepakbola Profesional Indonesia (FKSPI) itu, memberikan batas waktu selama 14 hari bagi PT LIB untuk dapat mengembalikan hak dan komitmen yang sudah disepakati bersama. Jika tidak dipenuhi, 15 klub tersebut akan mengundurkan diri dari kompetisi untuk sementara waktu.

“Kita ingin 15 klub ini bagaimana supaya mendorong apa yang dicita-citakan oleh Pak Edy rahmayadi dan Pak Joko Widodo bisa berjalan sesuai dengan apa yang diinginkan bersama. Operator juga pasti punya keinginan yang baik untuk sepak bola Indonesia, dan kami yakin mereka masih punya niat baik untuk memperbaiki sepak bola Indonesia, sebelum jatuh tempo 14 hari,” katanya.

“Kalaupun pada akhirnya seperti itu, bisa saja dimusim berikutnya teman-teman tidak lagi menginginkan LIB sebagai operator liga, dan mencari pihak lain yang lebih berkompeten. Kita akan lihat nanti kondisinya seperti apa,”ujarnya. (154)

Sumber: Berita Satu

Advertisement