Pemkab Sorong Resmi Melepas KKN UMY

Pemkab Sorong Resmi Melepas KKN UMY

Para mahasiswa UMY yang melakukan KKN di Sorong | Foto: Wahyu Suryana

Metro Merauke – Pemerintah Kabupaten Sorong, Papua Barat, secara resmi melepas Kuliah Kerja Nyata (KKN) Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) yang ada di Kampung Warmon Kokoda. Selama dua bulan lebih, puluhan mahasiswa itu telah mengabdikan diri kepada salah satu masyarakat asli Papua yaitu Suku Kokoda.

Bupati Sorong, Stepanus Malak, dan Wakil Bupati Sorong, Sukohardjono, menerima langsung sebanyak 25 mahasiswa dan mahasiswi yang akan ditarik kembali ke Yogyakarta. Pelepasan turut dihadiri Kepala Lembaga Penelitian, Publikasi dan Pengabdian Masyarakat (LP3M) UMY, Gatot Supangkat.

Dalam sambutannya, Gatot Supangkat menegaskan kehadiran mahasiswa peserta KKN UMY jauh-jauh ke Sorong memang untuk berbakti kepada negeri. Menurut Gatot, tujuan utamanya tidak lain untuk ikut membangun masyarakat Indonesia ke depan agar menjadi lebih baik.

“Baik dari sisi sosial, ekonomi dan budaya menjadi bermartabat, berkemajuan, dan tidak ada kesenjangan,” kata Gatot, di Ruang Rapat Kantor Bupati Sorong, Jumat (22/9) lalu.

Ia berharap, selama dua bulan lebih para mahasiswa mengabdikan dirinya secara penuh dapat memberi manfaat besar, terutama bagi Suku Kokoda dalam menjalani kehidupan bermasyarakat. Karenanya, Gatot meminta jalinan ini tidak lantas putus dan dapat terjalin di masa-masa selanjutnya.

Bakti KKN UMY itu pun mendapat sambutan hangat dari Pemkab Sorong. Wakil Bupati Sorong, Sukohardjono, mendukung penuh nilai-nilai positif yang telah diberikan kepada masyarakat Suku Kokoda.

Ia melihat ini sudah merupakan satu kesinambungan pengabdian UMY yang telah berjalan sejak 2016. “Karenanya, saya berterima kasih dan bangga,” ujar Sukohardjono.

Diharapkan, keseharian yang dilakukan anak-anak KKN UMY bisa menjadi suatu nilai-nilai positif ketika menjadi resapan ilmu kepada masyarakat. Mulai dari kebiasaan yang ada di masyarakat, sampai kesadaran berpikir membangun kehidupan masyarakat bersama.

Sukohardjono mengingatkan paradigma masyarakat Suku Kokoda yang susah diatur dan berpikir instan, harus dapat sama-sama dibentuk lagi karakternya. Maka itu, ia meminta kegiatan ini bisa bersambung dengan baik, sehingga kesadaran masyarakat Kokoda ke depan dapat terus dibangun.

“Ini luar biasa, mudah-mudahan jadi kampung percontohan, kampung asli Papua yang maju,” kata Sukojardjono. (Wahyu Suryana)

Sumber: Republika

Advertisement