Petambak Udang di Indonesia Timur Dilatih Tingkatkan Produktivitas

Petambak Udang di Indonesia Timur Dilatih Tingkatkan Produktivitas

Ilustrasi: Panen udang. | Foto: KOMPAS/YULVIANUS HARJONO

Metro Merauke – PT Suri Tani Pemuka (STP) anak usaha PT Japfa Comfeed Indonesia Tbk (JAPFA) tengah berupaya meningkatkan produktivitas petambak udang tradisional di Sumbawa, Lombok, Bali, dan Sulawesi melalui program Kawasan Vaname STP (Kavas).

Adapun Kavas merupakan salah satu program unggulan yang dilaksanakan oleh STP sebagai upaya untuk memberdayakan petambak udang.

Upaya tersebut dilakukan dengan membentuk sentra kelompok petambak udang dan beberapa sudah dikelola dalam bentuk koperasi.

“Terbentuknya kelompok akan dapat memudahkan distribusi pakan, benur dan juga pengelolaan hasil panen agar mendapatkan harga yang tinggi karena jumlahnya besar,” ujar Aidi Idris, Head of Unit Pabrik Pakan Ikan dan Udang PTSTP Banyuwangi melalui keterangan resmi, Senin (11/9).

Aidi juga menjelaskan salah satu faktor kegagalan petambak udang tradisional adalah ketidaktahuan mengenai budidaya yang baik.

Sehingga melalui kelompok KAVAS, STP berupaya mendampingi petambak udang agar bisa mengembangkan tambak dari tradisional menjadi semi intensif dan jika memungkinkan menjadi tambak intensif.

“Mengembangkan tambak tradisional menjadi semi intensif bisa diawali dengan mengenalkan SOP yang benar sejak penyiapan lahan hingga masa panen. Kemudian prosesnya dilanjutkan dengan melengkapi sarana tambak seperti kincir,” Jelas Aidi.

Dengan peningkatan tersebut, populasi udang per meter persegi dapat ditambah namun kualitas air dapat terjaga sehingga tingkat produktivitas dapat meningkat,” Imbuh Aidi.

Menurut Aidi harga jual yang tinggi juga menjadi faktor penting untuk meningkatkan kesejahteraan petambak.

Harga jual tinggi dapat dicapai apabila petambak bisa masuk ke Cold Storage atau supplier besar dengan salah satu prasyaratnya adalah jumlah udang yang dipanen harus dalam jumlah besar.

Menge, Koordinator Program Kavas Petambak Udang di wilayah Lombok menjelaskan, pada tahun 2015, petambak di Lombok sudah sempat patah semangat karena tingginya tingkat kematian udang dan ketidakmampuan untuk menangani penyakit pada udang.

“STP membantu kami dengan mendatangi petambak 24 jam bila ada masalah dan kendala dalam budidaya,” papar Menge.

Menurutnya, petambak tradisional dalam budidaya udang rata-rata hanya main tebar dan baru diberikan pakan dalam waktu satu bulan sebelum masa panen agar berat udang meningkat.

“Sebelumnya kami asal tebar saja tanpa tahu harus mengukur PH dan salinitas air,” imbuh Menge. (Pramdia Arhando Julianto)

Sumber: Kompas

 

Advertisement