Gara-Gara Donald Trump, Dolar AS Tumbang

Gara-Gara Donald Trump, Dolar AS Tumbang

Dolar AS bergerak di kisaran Rp 13.140 pada Senin (11/9) | Foto: Liputan6

Metro Merauke – Bank Indonesia (BI) mengungkap penyebab terjadinya pelemahan nilai tukar dolar Amerika Serikat (AS) terhadap mata uang global, termasuk rupiah. Salah satunya lantaran pertumbuhan ekonomi dan inflasi AS yang meleset dari perkiraan di bawah kepemimpinan Donald J. Trump.

Deputi Gubernur Senior BI, Mirza Adityaswara mengatakan, pergerakan nilai tukar dolar AS tidak sekuat yang diperkirakan pada awal tahun. BI, Bank Sentral AS, maupun pasar keuangan global memproyeksikan di awal tahun ini, ekonomi AS bakal tumbuh lebih cepat dari perkiraan.

“Proyeksinya saat itu karena Trump diperkirakan bisa mendorong pertumbuhan ekonmi lebih cepat didukung oleh Senat dan Kongres di AS. Tapi nyatanya tidak demikian,” ujar Mirza saat Rapat Kerja dengan Komisi XI DPR soal RAPBN 2018 di Gedung DPR, Jakarta, Senin (11/9).

Menurut Mirza, fakta yang terjadi sampai dengan saat ini, ekonomi AS di bawah kepemimpinan Presiden AS Donald Trump bertumbuh, tapi tidak sekuat yang diramalkan. Akibatnya, inflasi negara Adidaya itu tercatat di bawah 2 persen, meleset dari target 2 persen.

“Dua hal ini, pertumbuhan ekonomi AS tidak secepat perkiraan dan inflasi di bawah perkiraan membuat kenaikan suku bunga The Fed yang awalnya bisa 3-4 kali di tahun ini, mungkin hanya 2 kali. Kenaikan suku bunga di September ini tidak terjadi, dan begitupun dengan di Desember, karena probability-nya hanya 30 persen di Desember,” jelas dia.

Rupiah Cenderung Stabil
Faktor pertumbuhan ekonomi dan inflasi AS tersebut, ia mengakui, menyeret pelemahan nilai tukar dolar AS terhadap mata uang dunia. Indeks dolar AS pun merosot, disertai dengan imbal hasil (yield) surat utang pemerintah AS tenor 10 tahun hanya 2 persen.

“Kondisi ini yang membuat mata uang emerging market, termasuk Indonesia kembali jadi menarik. Capital inflow masuk lagi ke Indonesia, yield SPN 10 tahun sudah di bawah 6 persen, dari sebelumnya bisa mencapai 7 persen. Itulah yang bikin rupiah relatif stabil dan kuat,” tegas Mirza.

Mengutip Bloomberg, Senin 11 September 2017, rupiah dibuka di angka 13.187 per dolar AS, turun tipis jika dibandingkan dengan penutupan perdagangan sebelumnya. Namun menjelang siang, rupiah mampu menguat ke kisaran 13.140 per dolar AS.

Dalam kesempatan sama, Menteri Keuangan (Menkeu), Sri Mulyani Indrawati menyebut, realisasi kurs rupiah per 7 September 2017 ini, bergerak di level Rp 13.331 per dolar AS.

“Kalau melihat faktor di dalam negeri, mulai pulihnya ekspor, dan tetap kuatnya Foreign Direct Investment (FDI) di dalam pertumbuhan ekonomi, kami harap kurs rupiah stabil pada rentang Rp 13.300-Rp 13.400 per dolar AS. Total outlook sampai akhir tahun ini Rp 13.400 per dolar AS,” ujar Sri. (Fiki Ariyanti)

Sumber: Liputan6

Advertisement