Kurban Digital dan Tombo Ati

Kurban Digital dan Tombo Ati

Pedagang hewan kurban tersebut berburu stok di pasar hewan dan peternak-peternak kambing rumahan untuk kemudian dijual lagi dengan harga lebih tinggi menjelang Idul Adha. | Foto: ANTARA FOTO/ARI BOWO SUCIPTO P

Oleh: Muhammad Sufyan

SUDAH jamak bahwa selain bisa donasi kurban secara digital melalui aplikasi mobile, umat Muslim kekinian di Indonesia bisa juga menjadi peternak kambing dan atau sapi dengan menjadi investor pada pihak ketiga tepercaya yang memfasilitasi ke peternak rakyat.

Ada berbagai skema dan pilihan menarik. Kita cukup menyentuh layar sentuh ponsel cerdas kita untuk kemudian transfer guna memiliki ternak tersebut. Tanpa perlu memberi pakan ke kandang, repot cari rumput, maka ternak dibesarkan agar kelak menjadi adhohi.

Sebagai mudhohi (orang yang berkurban), pilihan ke kita pada hari ini tidak saja kian praktis, tetapi juga tranformatif. Misalnya melalui Angon Apps, maka kita bisa memiliki sendiri (tanpa repot memelihara) agar kemudian jadi hewan kurban pada 10-13 Dzulhijjah ke depan.

Serupa tapi tak sama, saya teringat ayahanda sendiri di Cianjur yang jika ada safar, maka perangkat personal ibadah banyak dibawa. Terutama adalah kompas kiblat, sehingga tak ragu akan posisi rujukan utama saat shalat–selain membawa mushaf, tasbih, majmu syarif, dan sebagainya.

Tahun 2017 ini, kita sudah jamak melihat bahwa tranformasi ubudiyyah membuat kita makin sering melihat orang yang bukan hanya khusuk membaca ayat demi ayat melalui e-Quran, tetapi juga terdengar bunyi azan singkat setiap kali waktu shalat tiba.

Bukan hanya itu, smartphone pun bisa pula berfungsi sebagai kompas akurat–seperti diperlihatkan aplikasi semacam Muslim Pro. Di saat bersamaan, ponsel bisa menyimpan sembilan buku hadis utama hingga tafsir fenomenal Ibnu Katsir yang mencapai 30 buku.

Demikianlah sifat dasar teknologi informasi komunikasi (TIK), yang bisa melakukan kreasi, modifikasi, hingga amplikasi informasi dan proses dengan percepatan kerap lebih dari yang disangkakan sebelumnya.

TIK tak lagi semata meringkaskan byte dan size dari berbagai literatur panduan akidah, fikih, muamalah, hingga tarikh. Lebih dari itu, kehadirannya juga mampu bergerak proaktif dalam mendawamkan ibadah keseharian banyak Muslim.

Persoalannya kemudian, dengan segala kemudahan dan kekuatannya tadi, tak semua kemudian terungkit bergerak. Alih-alih mau dan mampu mendayagunakan TIK dan gawai miliknya, potensi berkurban masih jauh dari inisiatif apalagi tekad sekalipun dompet mampu.

Gawai masih kerap menjadi alat boros konsumsi bandwith dan nirfaedah karena waktu habis berbincang tak jelas pada banyak grup komunikasi instan. Atau pula, berselancar di media sosial, meloncat dari satu akun ke akun lain tanpa manfaat yang kasat mata pun tampak.

TIK bukan makin mendekatkan pada Illahi Rabbi, pada kemuliaan siang-siang terbaik dalam 10 hari awal Dzulhijjah, pada jiwa pengorbanan agung seperti yang dipertontonkan Ibrahim As yang tetap terbukti imannya sekalipun serial ujian telah diterima sebelumnya.

Gawai dan TIK malah memerosokkan diri, yang jatuh kian berkubang, bahkan ironis banyak yang tak berniat maksiat pun akhirnya terjerembab karena berangkat dari penasaran. Lebih parah lagi yang jadi kena dosa kolektif karena tak henti share konten negatif.

Maka itu, penting bagi kita untuk memastikan diri sekaligus mengajak kian banyak yang beribadah melalui asbab daring, terutama kurban digital pada momen emas mendekati wukuf dan Idul Adha ini. Setidaknya bagi penulis, hal itu bisa disiasati dengan strategi tombo ati.

Kearifan lokal yang kerap dinyanyikan sebagai pepeling (nadoman) saat penulis kecil di Masjid Alhikmah, Warujajar, Cianjur, ini tetap relevan soal pentingnya berikhtiar dalam mengungkit maupun memelihara hati pada motivasi beribadah–termasuk di Bulan Rayagung ini.

Moco Quran lan maknane (baca Al Quran dan maknanya)
Shalat wengi lakonono (shalat malam dirikanlah)
Wong kang sholeh kumpulono (berkumpullah dengan orang saleh)
Kudu weteng ingkang luwe (perbanyaklah berpuasa)
Zikir wengi ingkang suwe (zikir malam perpanjanglah)

Sungguh menarik petuah ulama dan salafus shalihin tempo dulu. Karena, jika kita bisa mengerjakan salah satu saja dari lima itu secara persisten dan teguh, maka Gusti Allah njembatani (Allah SWT akan mencukupkan getar iman dalam kalbu kita).

Semoga kita terus menjadi umat Muslim yang memanfaatkan gawai dan TIK agar kian dekat dan lekat pada-Nya. Semoga aplikasi ponsel cerdas kita bisa menjadi wasilah dalam beribadah makin mudah, praktis, dan berkualitas. (Penulis adalah Dosen Digital Public Relations Telkom University, Mahasiswa Doktoral Agama dan Media UIN SGD Bandung)

Sumber: Kompas Kolom

 

Advertisement